- Status siaga 1 TNI masih berlaku karena ketegangan global, terutama Timur Tengah, bergantung situasi internasional.
- Anggaran pertahanan dapat disesuaikan saat krisis, berpotensi mempercepat pengadaan alutsista dan kerja sama militer.
- Indonesia mesti waspada konflik elite, isu koordinasi TNI, perang hibrida, dan perang proksi modern.
Ia menjelaskan bahwa secara struktur, penggunaan kekuatan militer berada di bawah kewenangan Panglima TNI, sementara kepala staf angkatan berperan dalam pembinaan personel.
“Kasad ini, Kepala Staf Angkatan ini tugasnya hanya pembinaan. Sementara Panglima TNI memang penggunaan kekuatan,” kata Slamet.
Slamet juga mengingatkan agar Presiden Prabowo tidak hanya mendengar laporan baik-baik saja dari Hambalang Boy, tetapi juga harus berani mengkritisi dan mengawasi mereka agar tidak ada penyalahgunaan terkait laporan situasi Indonesia yang sebenarnya.
“Jadi saya kira lingkaran dekat Presiden, Hambalang Boy juga barangkali harus dikritisi oleh Presiden jangan sampai nantinya memfilter persoalan kepresidenan yang baik-baik saja yang buruk tidak gitu,” tuturnya.
Waspadai Konflik Elite Seperti Peristiwa Malari
Slamet juga mengingatkan agar pemerintah mewaspadai potensi konflik di lingkaran elite kekuasaan. Ia menyinggung pengalaman sejarah Indonesia seperti Peristiwa Malari yang dipicu persaingan kelompok elite di sekitar presiden saat itu, Soeharto.
“Saya khawatir kalau terjadi konflik elit militer ini karena mereka punya senjata,” ujarnya.
Menurutnya, komunikasi antara presiden dan para pejabat strategis, termasuk intelijen dan militer, harus dijaga agar tidak menimbulkan rumor yang dapat mengganggu stabilitas.
Ancaman Perang Hibrida dan Perang Proksi
Baca Juga: Iran Rusak Sistem Keamanan Udara Israel, Rezim Zionis Kocar-kacir Sulit Halau Rudal 'Kiamat'
Selain ancaman militer konvensional, Slamet menilai Indonesia juga harus mewaspadai bentuk konflik modern seperti perang hibrida dan perang proksi.
“Jadi menurut saya perang sekarang ini betul-betul perang hibrida dan bukan infanteri berhadapan dengan infanteri,” katanya.
Ia menambahkan bahwa propaganda dan operasi intelijen asing juga menjadi tantangan tersendiri di era digital.
“Yang sering tidak terdeteksi oleh orang-orang awam adalah perang proksi menggunakan orang-orang ini, termasuk perang di udara,” ujar Slamet.
Slamet juga berpendapat bahwa mungkin teknologi atau kekuatan udara di Indonesia masih belum setara untuk adu kekuatan udara terbuka (drone/rudal canggih) seperti yang terjadi di konflik Israel-Iran.
Namun, Indonesia bisa melawan dengan perang gerilya dan perang semesta, memancing masuk ke wilayah darat agar pasukan yang menyerang sulit keluar dengan selamat.
Berita Terkait
-
Iran Rusak Sistem Keamanan Udara Israel, Rezim Zionis Kocar-kacir Sulit Halau Rudal 'Kiamat'
-
TNI Siaga Satu, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin: Masyarakat Jangan Khawatir, Justru Agar Aman dan Nyaman
-
Instruksi Siaga 1 TNI: Pengamanan Objek Vital, Pengawasan Udara-Laut, hingga Perlindungan WNI
-
Angkasa Pura: Penerbangan Umrah Dihentikan Imbas Perang di Timur Tengah
-
Instruksi Siaga 1 TNI Dinilai Wajar, Slamet Ginting: Bukan Persiapan Perang
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- 5 Rekomendasi Body Lotion Terbaik Mencerahkan Kulit di Indomaret
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Angkasa Pura: Penerbangan Umrah Dihentikan Imbas Perang di Timur Tengah
-
Yaqut Diperiksa KPK Pekan Ini Usai Praperadilannya Ditolak, Langsung Ditahan?
-
Dua Kali Blunder Kiper Tottenham Antonin Kinsky Bikin Igo Tudor Kehabisan Kata-kata
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
Terkini
-
RUU PPRT Melaju, Puan Targetkan Perlindungan ART Berbasis Semangat Kerja Sama
-
Sydney Siaga Campak! Turis yang Baru Kembali dari Indonesia Diduga Jadi Pemicu
-
Soal Revisi UU Pemilu, Puan: Fokus Urusan Rakyat Terlebih Dahulu Sebelum Bicara Politik 2029
-
Pakar Hukum Pidana: Tak Logis Pertamina Ditekan Satu Orang untuk Sewa Terminal BBM Merak
-
Iran Rusak Sistem Keamanan Udara Israel, Rezim Zionis Kocar-kacir Sulit Halau Rudal 'Kiamat'
-
Praperadilan Tudingan Sumpah Palsu Direktur PT WKM, Ahli Sebut Ada Cacat Formil
-
Kontroversi Abu Janda di TV, Pengamat Media: Industri Televisi Terjebak Sensasionalisme
-
55 Ribu Guru Sudah Dilatih, Menteri Dikdasmen Umumkan Coding dan AI Akan Jadi Pelajaran Wajib
-
Pemburuan Terbesar Sejak 98: 700 Anak Muda Diproses Usai Demo Agustus 2025
-
Dulu Lokasi Perang Dunia II, Menhan Bakal Sulap Morotai Jadi Pusat Latihan Militer Kelas Dunia