- Negara-negara Eropa, termasuk Jerman dan Inggris, menolak permintaan AS untuk mengerahkan angkatan laut ke Selat Hormuz.
- Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Kaja Kallas, menegaskan fokus Eropa adalah keamanan maritim, bukan eskalasi konflik dengan Iran.
- Penolakan ini timbul karena Eropa mengutamakan solusi diplomatik dan meminta landasan hukum jelas sebelum pengerahan militer.
Ia menegaskan bahwa setiap pengerahan pasukan di luar wilayah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memerlukan landasan hukum yang kuat serta persetujuan dari parlemen.
“Ini bukan perang kami; kami tidak memulainya. Kami menginginkan solusi diplomatik dan penyelesaian konflik yang cepat," tegas Pistorius sebagaimana dilansir Anadolu.
Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer menolak tekanan dari Washington untuk bergabung dalam upaya militer di Selat Hormuz.
Starmer menyatakan dengan jelas bahwa Inggris "tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas" dan menekankan pentingnya mandat hukum dalam setiap pengambilan keputusan mengenai pengerahan aset militer negara.
Negara-negara lain seperti Polandia dan Belgia turut memperkuat barisan penolakan ini dengan fokus pada stabilitas regional melalui jalur diplomasi.
Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski, bahkan melontarkan kritik terhadap Presiden AS Donald Trump.
Sikorski mengkritik cara Trump menggambarkan NATO sebagai entitas yang terpisah dari AS, sementara di sisi lain mendesak partisipasi aktif Eropa dalam operasi militer di Teluk.
Dari pihak Belgia, Perdana Menteri Bart De Wever memberikan penegasan di hadapan parlemen bahwa negaranya tidak akan ikut serta dalam serangan apa pun yang dilakukan bersama AS dan Israel.
Posisi ini mempertegas bahwa Eropa lebih memilih untuk menjaga jarak dari konfrontasi langsung di wilayah tersebut.
Baca Juga: Donald Trump Tantrum, Sebut Sekutu Tak Tahu Terima Kasih Usai Tolak Amankan Selat Hormuz
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengklaim bahwa "banyak negara" tengah bersiap untuk membantu Amerika Serikat dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, Trump tidak merinci nama-nama negara yang dimaksud dengan alasan keamanan, khawatir negara-negara tersebut akan menjadi sasaran balasan dari pihak Iran.
Krisis di Selat Hormuz sendiri menjadi titik nadir ekonomi global setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menutup jalur tersebut bagi sebagian besar kapal.
Penutupan ini merupakan respons atas serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu.
Selat Hormuz merupakan jalur vital energi dunia; sebelum konflik pecah, sekitar 20 juta barel minyak melintasi jalur ini setiap harinya.
Gangguan pada jalur navigasi ini telah menyebabkan lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional yang berdampak luas pada ekonomi global.
Berita Terkait
-
Bahlil soal WFH Akibat Krisis Energi: Akan Menghemat Impor Migas
-
Iran Tolak Main di AS! Minta FIFA Pindahkan Laga Piala Dunia 2026 ke Meksiko
-
Donald Trump Tantrum, Sebut Sekutu Tak Tahu Terima Kasih Usai Tolak Amankan Selat Hormuz
-
Selat Hormuz Masih Terisolir, Produksi Minyak Kawasan Teluk Anjlok Hampir 7 Juta Barel!
-
Pertama di Dunia! Malaysia Robek-robek Perjanjian Dagang dengan AS, Indonesia?
Terpopuler
- Gaji Rp 8,2 M Belum Dibayar, Aktivis-Influencer Sedunia Tuntut Badan Propaganda Israel
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- Promo Alfamart 14-18 Maret 2026: Diskon Sirop dan Wafer Mulai Rp8 Ribuan Jelang Lebaran
- Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
Pilihan
-
AFC Resmi Coret Timnas Malaysia, Vietnam Lolos ke Piala Asia 2027
-
Iran Tolak Main di AS! Minta FIFA Pindahkan Laga Piala Dunia 2026 ke Meksiko
-
Arus Mudik H-4 Idulfitri, 100 Ribu Orang Sudah Berangkat dari Stasiun Gambir
-
Pertama di Dunia! Malaysia Robek-robek Perjanjian Dagang dengan AS, Indonesia?
-
Analisis Militer: Iran Pakai Strategi 'Vietnam Kedua' yang Bikin AS Putus Asa
Terkini
-
WN India Berkali-kali Lecehkan Pramugari dalam Pesawat Singapore Airlines
-
Indonesia Uji Model Data Karbon Global, Jawab Krisis Transparansi Pasar
-
Sudah Jadi Tahanan KPK, Eks Stafsus Masih Bela Gus Yaqut di Kasus Korupsi Kuota Haji
-
DPR Setuju Efisiensi Anggaran: Tapi Tak Hanya Gaji Pejabat yang Dipangkas
-
Belum Ada Keputusan Pemangkasan, Menkeu Purbaya Pastikan Anggaran MBG Aman
-
Mensesneg Tegaskan Perintah Prabowo Usut Tuntas Kasus Andrie Yunus
-
Temani Perjalanan Mudik, Badan Bahasa Bagikan 24 Ribu Buku Gratis di Terminal Kampung Rambutan
-
Kemensetneg Imbau Pejabat Tak Gelar Open House Lebaran Secara Berlebihan
-
MK Ketok Palu Soal Pensiun Pejabat, DPR RI Siap Ambil Langkah Revisi
-
Kemenhub Jelaskan Penyebab Tiket Pesawat Mahal Jelang Lebaran 2026