News / Internasional
Rabu, 18 Maret 2026 | 14:11 WIB
Pemimpin Keamanan Iran Ali Larijani menyapa warga Teheran dalam pawai Hari al-Quds pada Jumat (13/3/2026). [X/alilarijani.ir]
Baca 10 detik
  • Serangan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari berpotensi meningkatkan soliditas internal di Teheran.
  • Tujuan strategis AS dan Israel berbeda: Trump ingin negosiasi, sedangkan Netanyahu ingin melemahkan atau memecah Iran.
  • Situasi Iran pasca-kematian Khamenei diprediksi menyerupai Soviet setelah Stalin, dengan persaingan elite dan peran Garda Revolusi.

Suara.com - Pengamat politik Timur Tengah Maksim Shevchenko menilai konflik besar di Timur Tengah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran justru dapat memperkuat soliditas di Teheran.

Serangan Israel dan AS ke Iran sejak 28 Februari lalu menewaskan para petinggi Iran, mulai dari Ali Khamenei hingga yang terbaru Ali Larijani dan Gholamreza Soleimani justru bisa jadi bara dendam yang membahayakan buat Amerika Serikat dan Israel.

Menurut Shevchenko, wafatnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei berpotensi memicu persatuan religius, bukan keruntuhan negara.

“Jika Israel dan Amerika membunuh Khamenei, banyak umat Muslim melihat itu sebagai upaya memperkuat rezim Syiah, bukan menjatuhkannya,” kata Shevchenko dalam wawancara media Rusia, Business Online.

Ia menilai kematian pemimpin spiritual di tengah konflik justru membuat masyarakat Iran semakin solid.

Menurutnya, tujuan Amerika Serikat dan Israel dalam operasi militer terhadap Iran tidak sepenuhnya sama.

Ayatollah Ali Khamenei (Wikimedia Commons/4nn1l2)

Shevchenko menyebut Presiden AS Donald Trump lebih ingin memaksa Iran bernegosiasi, sementara pemerintah Israel di bawah Benjamin Netanyahu dinilai ingin melemahkan bahkan memecah Iran.

“Bagi Israel, runtuhnya Iran adalah tujuan strategis. Tetapi bagi Trump, yang penting adalah kesepakatan yang membuat Iran masuk dalam tatanan Timur Tengah baru,” ujarnya.

Shevchenko menilai Washington tidak menginginkan perang panjang yang bisa memicu konflik etnis dan agama di kawasan.

Baca Juga: Spesifikasi Mematikan Rudal Sejjil Milik Iran, Namanya Terinspirasi dari Al Quran

Shevchenko juga memprediksi situasi politik Iran setelah kematian Khamenei bisa menyerupai kondisi Uni Soviet setelah wafatnya Joseph Stalin.

Shevchenko mengatakan kemungkinan akan muncul persaingan antara kelompok ulama dan aparat keamanan dalam menentukan arah negara.

“Tidak ada tokoh yang setara dengan Khamenei. Setelah dia wafat, kekuasaan kemungkinan dipegang koalisi elite, seperti yang terjadi di Soviet setelah Stalin,” katanya.

Shevchenko menilai Korps Garda Revolusi Iran bisa memainkan peran dominan dalam fase transisi.

Lebih lanjut, Shevchenko menyebut peluang perundingan antara Washington dan Teheran tetap terbuka, kemungkinan melalui mediator seperti Rusia dan Turki.

Ia menilai kedua negara tersebut memiliki hubungan yang cukup kuat dengan semua pihak.

Load More