- Lettice Events di Kennington, Inggris, menggunakan mesin Orca untuk mengubah 163 kg limbah makanan harian menjadi pupuk atau energi terbarukan.
- Perusahaan ini mengubah operasional pasca-pandemi dengan menganalisis jejak karbon menu dan mengolah sisa bahan menjadi hidangan baru.
- Mereka menyesuaikan jumlah porsi mendekati tanggal acara guna menekan pemborosan makanan yang umumnya mencapai 15–20 persen.
Suara.com - Upaya mengurangi limbah makanan kini mulai dilakukan serius oleh industri katering acara. Salah satu contohnya datang dari Lettice Events yang mencoba mengubah cara kerja mereka agar lebih ramah lingkungan.
Di dapur industri mereka di kawasan Kennington, Inggris, terdapat mesin bernama “Orca”. Mesin ini mampu mengolah hingga 163 kilogram limbah makanan per hari menjadi cairan yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk atau energi terbarukan.
Kehadiran alat ini menjadi bagian dari strategi baru perusahaan untuk menekan limbah makanan, terutama dari acara besar seperti pernikahan dan jamuan perusahaan. Demikian seperti dikutip dari The Independent, Kamis, (19/03/2026).
Masalah limbah makanan di industri acara memang cukup serius. Riset menunjukkan, sekitar 15–20 persen makanan dalam sebuah acara terbuang. Bahkan, dalam acara pernikahan, sekitar 10 persen makanan berakhir di tempat sampah. Limbah ini biasanya berasal dari makanan yang tidak habis, suvenir yang bisa dimakan, hingga sisa kue.
Holly Congdon, pengelola Lettice Events, mengaku kerap melihat banyak makanan terbuang setelah acara selesai. “Sangat menyedihkan melihat makanan dibuang begitu saja,” ujarnya. Ia menambahkan, makanan yang sudah dimasak tidak bisa dibagikan begitu saja karena harus dipanaskan ulang, sehingga akhirnya tetap dibuang.
Menurut Congdon, budaya membuang makanan ini sering kali “disembunyikan” dari klien. “Sebagian klien membayar agar limbah itu tidak dibicarakan. Dibuang saja, tanpa perlu terlihat,” katanya.
Pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi perusahaan ini untuk berbenah. Bersama kepala koki Mark Malden, mereka mulai membangun konsep acara minim limbah dari nol. “Kami benar-benar membongkar cara kerja lama dan menyadari banyak hal yang salah,” kata Malden.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menganalisis jejak karbon dari setiap menu. Hasilnya cukup mengejutkan. “Kami kira daging sapi yang paling tinggi emisinya, ternyata produk susu seperti burrata juga sangat besar dampaknya,” ujar Malden.
Selain itu, mereka mulai mengolah bahan makanan secara maksimal. Sisa bahan tidak langsung dibuang, melainkan diolah kembali menjadi menu baru. “Kami bahkan membuat ‘wasteful canapé’, yaitu hidangan kecil dari sisa bahan masakan utama,” jelas Malden.
Baca Juga: Lapar Mata saat Berbuka: Kenapa Makanan Terlihat Lebih Menggoda saat Puasa?
Perusahaan ini juga mengubah cara menentukan jumlah tamu. Jika biasanya jumlah porsi ditentukan jauh hari, kini mereka menentukannya mendekati hari acara untuk menghindari kelebihan produksi. “Kami berusaha agar tidak ada makanan yang berakhir di tempat sampah,” kata Congdon.
Namun, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah mengubah preferensi klien, terutama soal menu berbasis daging. “Masih banyak yang menganggap hidangan utama harus daging. Padahal, tamu belum tentu menginginkannya,” ujar Congdon.
Meski belum sempurna, upaya ini menunjukkan bahwa perubahan menuju sistem yang lebih berkelanjutan bukan hal yang mustahil. “Kami terus belajar. Ini tidak mudah, tapi harus dilakukan,” kata Congdon.
Langkah seperti ini menjadi penting di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan. Dengan pendekatan yang lebih sistematis, industri acara berpeluang besar mengurangi limbah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Murah 3 Baris Under 1500cc tapi Jagoan Tanjakan: Irit Bensin dan Pajak Ramah Rakyat Jelata
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 15 Tulisan Kata-kata Unik Mudik Lebaran, Lucu dan Relate untuk Anak Rantau
- Liburan Lebaran ke Luar Negeri Kini Lebih Praktis Tanpa Perlu Repot Tukar Uang
Pilihan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
-
Link Live Streaming Liverpool vs Galatasaray: Pantang Terpeleset The Reds!
-
Israel Klaim Tewaskan Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib
-
Dipicu Korsleting Listrik, Kebakaran Kalideres Hanguskan 17 Bangunan
Terkini
-
Siapa Dalang Teror Air Keras Aktivis KontraS? DPR Desak Bongkar Aktor Intelektual Oknum BAIS TNI
-
Komnas HAM Dorong Agar Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilakukan Melalui Pengadilan Umum
-
Hilal di Batas Kriteria MABIMS, Bosscha ITB Sebut Posisi Bulan Sulit Diamati
-
Update Korban Perang AS-Israel vs Iran: Tembus Ribuan Jiwa Meninggal Dunia
-
Angka Pemudik 2026 Melonjak 10 Persen, Simak Data Lengkap Kemenhub Berikut Ini
-
Apa Itu Ladang Gas South Pars? Pusat Energi Dunia yang Diserang Rudal Israel
-
Lebaran Berpotensi Sabtu 21 Maret, Kemenag DIY Pantau Hilal di POB Syekh Bela Belu Sore Ini
-
Beri Kejutan Menyenangkan, LRT Jabodebek Berlakukan Tarif Rp1 Saat Idul Fitri 2026
-
Hilal Dinilai Belum Penuhi Kriteria, BRIN-BMKG Prediksi Idulfitri 2026 Jatuh 21 Maret
-
Trump 'Cuci Tangan', Marahi Israel Serang Ladang Gas South Pars Milik Iran