News / Internasional
Kamis, 19 Maret 2026 | 16:10 WIB
Ilustrasi limbah makanan. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Lettice Events di Kennington, Inggris, menggunakan mesin Orca untuk mengubah 163 kg limbah makanan harian menjadi pupuk atau energi terbarukan.
  • Perusahaan ini mengubah operasional pasca-pandemi dengan menganalisis jejak karbon menu dan mengolah sisa bahan menjadi hidangan baru.
  • Mereka menyesuaikan jumlah porsi mendekati tanggal acara guna menekan pemborosan makanan yang umumnya mencapai 15–20 persen.

Suara.com - Upaya mengurangi limbah makanan kini mulai dilakukan serius oleh industri katering acara. Salah satu contohnya datang dari Lettice Events yang mencoba mengubah cara kerja mereka agar lebih ramah lingkungan.

Di dapur industri mereka di kawasan Kennington, Inggris, terdapat mesin bernama “Orca”. Mesin ini mampu mengolah hingga 163 kilogram limbah makanan per hari menjadi cairan yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk atau energi terbarukan.

Kehadiran alat ini menjadi bagian dari strategi baru perusahaan untuk menekan limbah makanan, terutama dari acara besar seperti pernikahan dan jamuan perusahaan. Demikian seperti dikutip dari The Independent, Kamis, (19/03/2026). 

Ilustrasi limbah makanan. (Freepik/Freepik)

Masalah limbah makanan di industri acara memang cukup serius. Riset menunjukkan, sekitar 15–20 persen makanan dalam sebuah acara terbuang. Bahkan, dalam acara pernikahan, sekitar 10 persen makanan berakhir di tempat sampah. Limbah ini biasanya berasal dari makanan yang tidak habis, suvenir yang bisa dimakan, hingga sisa kue.

Holly Congdon, pengelola Lettice Events, mengaku kerap melihat banyak makanan terbuang setelah acara selesai. “Sangat menyedihkan melihat makanan dibuang begitu saja,” ujarnya. Ia menambahkan, makanan yang sudah dimasak tidak bisa dibagikan begitu saja karena harus dipanaskan ulang, sehingga akhirnya tetap dibuang.

Menurut Congdon, budaya membuang makanan ini sering kali “disembunyikan” dari klien. “Sebagian klien membayar agar limbah itu tidak dibicarakan. Dibuang saja, tanpa perlu terlihat,” katanya.

Pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi perusahaan ini untuk berbenah. Bersama kepala koki Mark Malden, mereka mulai membangun konsep acara minim limbah dari nol. “Kami benar-benar membongkar cara kerja lama dan menyadari banyak hal yang salah,” kata Malden.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menganalisis jejak karbon dari setiap menu. Hasilnya cukup mengejutkan. “Kami kira daging sapi yang paling tinggi emisinya, ternyata produk susu seperti burrata juga sangat besar dampaknya,” ujar Malden.

Selain itu, mereka mulai mengolah bahan makanan secara maksimal. Sisa bahan tidak langsung dibuang, melainkan diolah kembali menjadi menu baru. “Kami bahkan membuat ‘wasteful canapé’, yaitu hidangan kecil dari sisa bahan masakan utama,” jelas Malden.

Baca Juga: Lapar Mata saat Berbuka: Kenapa Makanan Terlihat Lebih Menggoda saat Puasa?

Perusahaan ini juga mengubah cara menentukan jumlah tamu. Jika biasanya jumlah porsi ditentukan jauh hari, kini mereka menentukannya mendekati hari acara untuk menghindari kelebihan produksi. “Kami berusaha agar tidak ada makanan yang berakhir di tempat sampah,” kata Congdon.

Namun, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah mengubah preferensi klien, terutama soal menu berbasis daging. “Masih banyak yang menganggap hidangan utama harus daging. Padahal, tamu belum tentu menginginkannya,” ujar Congdon.

Meski belum sempurna, upaya ini menunjukkan bahwa perubahan menuju sistem yang lebih berkelanjutan bukan hal yang mustahil. “Kami terus belajar. Ini tidak mudah, tapi harus dilakukan,” kata Congdon.

Langkah seperti ini menjadi penting di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan. Dengan pendekatan yang lebih sistematis, industri acara berpeluang besar mengurangi limbah sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
 
 
 

Load More