- Muhammadiyah terapkan Kalender Hijriah Global Tunggal sebagai hasil ijtihad keagamaan modern.
- Muhadjir Effendy jelaskan penentuan hilal global tidak dibatasi sekat wilayah negara.
- Kriteria wujudul hilal global berlaku untuk seluruh dunia menurut metodologi Muhammadiyah.
Suara.com - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memberikan penjelasan mengenai sistem penetapan hari-hari besar Islam yang mereka gunakan. Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal, Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa sistem ini merupakan hasil kajian tajdid (pembaruan) yang mendalam di internal organisasi.
"Namanya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)," ujar Muhadjir usai menunaikan shalat Id, Jumat (20/3/2026).
Melalui metode ini, penentuan keberadaan atau wujudul hilal tidak lagi dibatasi oleh sekat-sekat wilayah teritorial sebuah negara.
"Sekarang, kriteria wujudul hilal tidak hanya diukur di wilayah tertentu, tetapi berlaku untuk seluruh dunia," jelas Muhadjir.
Sebagai contoh konkret, ia memaparkan fenomena posisi bulan sabit yang terpantau di belahan bumi bagian utara pada tahun ini.
"Kebetulan tahun ini pada tanggal satu, hilal muncul di Alaska. Ketika hilal sudah muncul di Alaska, maka hal itu berlaku untuk seluruh dunia, tidak hanya di wilayah tersebut," paparnya mengenai mekanisme kerja KHGT.
Penerapan KHGT ini menandai pergeseran signifikan dari metode pemantauan hilal sebelumnya yang terbatas pada cakupan lokal Indonesia.
"Sekarang wujudul hilal berlaku global. Kalender Hijriah Global Tunggal ini sudah diratifikasi oleh lebih dari 10 negara," tambah Muhadjir.
Ia juga memberikan tamsil bahwa keyakinan terhadap sistem ini serupa dengan logika dasar dalam beriman.
Baca Juga: Jasa Marga Siapkan Tol Japek II Selatan Fungsional Saat Arus Balik Lebaran 2026
"Seperti syahadat, kita bersaksi kepada Allah bukan karena melihat-Nya secara fisik, melainkan karena keyakinan dan akal sehat yang menyatakan keberadaan Tuhan. Atas dasar itulah kita bersyahadat," tuturnya memberikan perumpamaan.
Muhadjir meyakini bahwa perbedaan metodologi dalam penentuan kalender merupakan hal lumrah yang didasari pada kekuatan argumen masing-masing. Menurutnya, perbedaan cara pandang ini tidak perlu dipertajam karena merupakan bagian dari perkembangan ijtihad keagamaan yang modern.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Mahfud MD Klarifikasi Video Viral 'Reformasi Jilid 2' di Agustus Ini, Ini Fakta di Baliknya
-
BPS Ungkap Biang Kerok RI Deflasi Juli 2026
-
Berlatar London Abad ke-19, Film ke-46 Doraemon Tayang Musim Semi 2027
-
Siapkah Indonesia Terapkan E-Voting di Pemilu 2029? Ini Syarat Mutlak dari Komisi II DPR RI
-
Sayembara Tangkap Begal Disorot, Kini Dedi Mulyadi Ajak Warga Buru Penjual Tramadol
-
Ekspor Komoditas Mengandung Logam Tanah Jarang Diizinkan Kembali, Aturan Masih Disusun
-
Komisi II: Relaksasi Belanja Pegawai Lebih 30 Persen Masih Diperbolehkan
-
Daya Beli Masyarakat Rontok, RI Alami Deflasi 0,14 Persen
-
Ibu Hamil Tewas Dibom Israel di Gaza, Nyawa Satu Keluarganya Juga Melayang
-
Polda Metro Terapkan Rekayasa Lalu Lintas Saat PM Thailand Melintas, Ini Daftar Jalannya