-
Iran menyerang Israel dengan drone sebagai balasan atas insiden fasilitas nuklir di Natanz.
-
Pemerintah Israel menutup sekolah dan membatasi kerumunan warga maksimal hingga 50 orang saja.
-
Benjamin Netanyahu bersumpah akan membalas serangan Iran demi masa depan kedaulatan negaranya tersebut.
Suara.com - Situasi keamanan di wilayah Israel mendadak mencekam setelah gelombang serangan drone milik militer Iran menghujam berbagai titik.
Langkah darurat langsung diambil otoritas setempat dengan menginstruksikan penutupan seluruh institusi pendidikan di berbagai tingkatan.
Langkah ini diambil guna meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa lebih lanjut di kalangan pelajar dan tenaga pendidik.
Kawasan selatan menjadi titik yang paling terdampak oleh serangan udara yang berlangsung secara masif pada akhir pekan.
Hingga saat ini dilaporkan ratusan orang harus mendapatkan perawatan medis akibat luka-luka yang diderita selama insiden tersebut.
Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel secara resmi telah membekukan semua agenda kegiatan belajar-mengajar hingga hari Selasa.
Selain penghentian sekolah, pemerintah juga menetapkan regulasi ketat mengenai pertemuan massa di ruang-ruang terbuka publik.
Setiap bentuk kerumunan kini dibatasi secara ketat dengan jumlah maksimal hanya sebanyak lima puluh orang saja.
Aturan ini berlaku secara menyeluruh tanpa terkecuali selama periode status siaga tinggi yang ditetapkan oleh otoritas militer.
Baca Juga: Benjamin Netanyahu Mulai Kalang Kabut Hadapi Iran Sampai Lakukan Hal Memalukan Ini
Laporan dari kantor berita Kan menyebutkan bahwa wilayah Negev dan Lachish menjadi zona utama pemberlakuan restriksi ini.
Warga yang berada di kawasan Laut Mati juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap potensi serangan susulan.
Meski demikian, aktivitas publik di wilayah tertentu masih diizinkan beroperasi dengan protokol keamanan yang sangat spesifik.
Setiap orang yang beraktivitas di luar rumah wajib memastikan diri memiliki akses cepat menuju ruang perlindungan bawah tanah.
Sistem peringatan dini berupa sirene udara akan menjadi komando utama bagi warga untuk segera mencari tempat berlindung.
Protokol ini menjadi standar keselamatan yang tidak bisa ditawar mengingat eskalasi konflik yang meningkat sangat cepat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara