- Anggota Komisi II DPR, Ahmad Irawan, menilai rencana WFH satu hari sebagai respons rasional terhadap kenaikan harga energi global.
- Tujuan utama kebijakan WFH ini adalah upaya penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara nasional.
- Irawan meminta teknis kebijakan WFH dimatangkan, termasuk adanya pembatasan agar tidak terjadi penyalahgunaan dan pemborosan energi.
Suara.com - Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Irawan, menilai rencana pemerintah untuk menerapkan skema work from home (WFH) satu hari dalam sepekan bagi pegawai pemerintah sebagai langkah yang rasional.
Kebijakan ini muncul sebagai respons strategis terhadap dinamika global yang memicu krisis serta kenaikan harga energi dunia.
Irawan menjelaskan bahwa situasi geopolitik global yang masih eskalatif memaksa Indonesia untuk melakukan penyesuaian demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
"Situasi global masih eskalatif. Pilihan rasional saat ini kita harus bisa menyesuaikan diri. WFH bagian dari rencana pilihan pemerintah untuk merespons dampak dari konflik tersebut, yang salah satunya adalah ketersediaan dan kenaikan harga energi," ujar Irawan kepada wartawan, Senin (23/3/2026).
Meski mendukung, legislator asal Golkar ini memberikan catatan agar teknis kebijakan tersebut dimatangkan dengan baik.
Ia menekankan bahwa tujuan utama WFH ini adalah penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara nasional.
"Mengenai WFH ini teknisnya harus dimatangkan dan dihitung dampak dari kebijakan tersebut. Meskipun sebenarnya langkah penghematan dari kebijakan WFH merupakan bagian paling sederhana, yakni terkait dengan pengurangan konsumsi energi warga dari stasiun pengisian bahan bakar," jelasnya.
Lebih lanjut, Irawan mengingatkan bahwa WFH tidak boleh berdiri sendiri. Kebijakan ini harus dirumuskan secara prudent (hati-hati) dan relevan dengan sektor lain, seperti penyediaan logistik bahan pokok dan aktivitas pelaku usaha agar tetap berjalan di masa sulit.
Terkait kekhawatiran publik mengenai terganggunya pelayanan masyarakat, Irawan mengaku optimistis. Menurutnya, birokrasi Indonesia sudah cukup teruji sejak masa pandemi dan kini telah didukung oleh sistem digital yang mumpuni.
Baca Juga: DPR Soroti Rencana WFH ASN: Desain Kebijakan Harus Matang, Jangan Ganggu Layanan Publik
"Khusus mengenai pelayanan publik, saya tidak ada kekhawatiran karena birokrasi kita telah memiliki sistem dan pengalaman mumpuni. Banyak hal pelayanan publik kita telah didigitalisasi," tegasnya.
Namun, Irawan memberikan wanti-wanti keras terkait efektivitas kebijakan ini di lapangan.
Ia mendesak adanya aturan pembatasan agar hari WFH tidak disalahgunakan oleh para pegawai untuk bepergian ke luar kota atau berlibur, yang justru akan memicu pemborosan energi baru.
"WFH harus diikuti juga dengan kebijakan pembatasan. Jika tidak ada pembatasan, kegiatan WFH tidak akan berjalan efektif. Potensial pengurangan satu hari kerja tersebut justru disalahgunakan untuk kepentingan bepergian atau liburan yang justru membuat kita lebih boros energi," pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Republik Indonesia tengah menggodok kebijakan baru terkait pola kerja masyarakat di tengah fluktuasi kondisi ekonomi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan skema kerja fleksibel atau work from home (WFH) sebagai langkah strategis merespons kenaikan harga minyak dunia yang terus membayangi stabilitas ekonomi nasional.
Berita Terkait
-
DPR Soroti Rencana WFH ASN: Desain Kebijakan Harus Matang, Jangan Ganggu Layanan Publik
-
Eddy Soeparno: WFH Setelah Lebaran Bisa Pangkas Konsumsi BBM Secara Signifikan
-
Pengamat: WFH 1 Hari Memang Tekan Subsidi BBM, Tapi Banyak Pihak Jadi Korban
-
Jangan Salah Paham! Begini Aturan Main Skema WFH 1 Hari Seminggu yang Sedang Digodok Pemerintah
-
Pemerintah Godok Skema WFH untuk ASN, Ini Alasannya
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
PAM Jaya Siapkan Ribuan Toren Gratis, Warga Jakarta Diminta Tak Tunggu Kemarau Datang
-
Kerry Dibebani Rp13,4 Triliun, Pengacara Sebut Hakim Pakai Analisis LSM yang Tak Berwenang
-
Putusan Banding Dianggap Janggal, Kerry Riza Ajukan Kasasi ke MA
-
Kepercayaan Polri Tembus 82,4 Persen, Habiburokhman: Jangan Puas Diri, Terus Berbenah
-
Prabowo Tanya Akademisi: Kenapa 81 Tahun RI Tidak Bisa Bikin Mobil Buatan Sendiri?
-
Sikat Parkir Liar di Cawang, 250 Personel Gabungan Derek Mobil yang Nekat Bandel!
-
Perempuan Didorong Jadi Aktor Utama Ekonomi Restoratif, Tak Lagi Sekadar Penerima Manfaat
-
Terkuak! Ini Pemicu Longsor Petamburan: Dari Abrasi Kali BKB hingga Bangunan di Sempadan
-
Sekjen Partai Buruh Ferri Nuzarli Mundur! 1,3 Juta Anggota ORI Kompak Tinggalkan Partai
-
Prabowo Singgung Kegaduhan Usai Pemilu, Istana Langsung Klarifikasi