-
Donald Trump menunda serangan militer ke infrastruktur energi Iran selama lima hari kedepan.
-
Keputusan diambil setelah adanya dialog konstruktif dan produktif antara Amerika Serikat dan Iran.
-
Eskalasi sebelumnya telah menewaskan ribuan orang termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Meskipun terdapat penangguhan serangan, Trump memberikan catatan penting terkait keberlanjutan kebijakan perdamaian sementara ini.
Stabilitas status quo ini sangat bergantung pada hasil nyata dari meja perundingan yang tengah berlangsung saat ini.
Penundaan itu bergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung, tambahnya.
Jika dialog tidak menghasilkan kesepakatan yang diharapkan, maka kebijakan militer bisa saja kembali berubah dengan cepat.
Fleksibilitas kebijakan ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat tetap mengedepankan kepentingan nasional di atas segala kompromi.
Situasi di kawasan memang sudah berada di titik nadir sejak pecahnya konflik terbuka di penghujung Februari lalu.
Dunia menyaksikan eskalasi yang sangat hebat menyusul operasi gabungan antara militer Amerika Serikat dan Israel.
Serangan yang diluncurkan pada 28 Februari tersebut menyasar titik-titik krusial di wilayah kedaulatan negara Iran.
Data mencatat bahwa operasi militer itu telah mengakibatkan gugurnya lebih dari 1.340 jiwa dalam waktu singkat.
Baca Juga: Trump Ungkap Nego Perang Berjalan Mulus, Iran Bantah: Awas 'Manipulasi' Pasar!
Peristiwa tragis tersebut bahkan merenggut nyawa pemimpin tertinggi Iran pada periode itu, yakni Ali Khamenei.
Iran tidak tinggal diam atas gempuran tersebut dan segera melancarkan aksi balasan yang terkoordinasi secara masif.
Penggunaan teknologi pesawat nirawak atau drone serta rudal balistik menjadi instrumen utama dalam serangan balasan Teheran.
Target serangan balasan Iran mencakup wilayah Israel hingga negara-negara tetangga seperti Yordania dan Irak.
Negara-negara Teluk yang menjadi basis aset militer Amerika Serikat juga turut menjadi sasaran dari kemarahan militer Iran.
Aksi saling balas ini tidak hanya memakan korban jiwa, namun juga menghancurkan banyak fasilitas umum penting.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Bos Go Ahead Eagles: Dean James Masih Gunakan Paspor Belanda!
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa
-
Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut
-
Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang
-
Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19
-
Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps
-
Kenapa Krisis Minyak Global 2026 Lebih Parah dari 1973? Begini Penjelasannya dari Ahli
-
Terminal Kampung Rambutan Bakal Dirombak Total Usai Terendam Banjir
-
Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Aturan Baru! Polisi Bisa Paksa Warga Serahkan Password HP, Menolak Siap-siap Masuk Bui