- Pemerintah Iran secara tegas membantah adanya negosiasi atau komunikasi dengan Amerika Serikat, termasuk Presiden Donald Trump.
- Teheran mengklaim AS mundur karena takut akan respons keras Iran terhadap potensi ancaman infrastruktur energi kawasan.
- Situasi ini bertolak belakang dengan klaim Trump mengenai pembicaraan produktif serta ultimatum militer terkait Selat Hormuz.
Suara.com - Pemerintah Iran membantah keras laporan adanya negosiasi dengan pihak Amerika Serikat.
Pihak Iran justru menuding Washington saat ini ketakutan dan mulai berpikir untuk mundur dari perang melawan mereka.
Dalam pernyataan terbarunya, pejabat Teheran menegaskan tidak ada komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump, baik langsung maupun melalui perantara.
Sumber yang dekat dengan milisi pro-Iran menyebut, “Tidak ada komunikasi dengan Trump, tidak secara langsung maupun melalui mediator.” ujarnya dilansir dari Channel 14.
Ia menambahkan bahwa perubahan sikap AS terjadi karena kekhawatiran akan respons keras Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan.
Juru bicara komisi keamanan nasional parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, bahkan menyebut Washington kembali mundur.
“Trump dan Amerika Serikat sekali lagi mundur,” ujarnya, seraya mengklaim hal itu sebagai bukti keberhasilan strategi Iran.
Kementerian Luar Negeri Iran juga mempertegas sikap tersebut. “Tidak ada pembicaraan antara Teheran dan Washington,” bunyi pernyataan resmi.
Kemenlu Iran menilai pernyataan Trump hanya bagian dari upaya menekan harga energi dan memberi waktu untuk rencana militer.
Baca Juga: Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
Situasi ini kontras dengan pernyataan sebelumnya dari Gedung Putih.
Donald Trump sempat mengklaim adanya pembicaraan yang baik dan produktif dengan Iran, bahkan menunda ultimatum militer selama 120 jam.
Di tengah ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan sikap keras negaranya.
“Kami sama sekali tidak dalam suasana untuk berbicara,” katanya, menegaskan penolakan terhadap narasi negosiasi.
Sebelumnya, Trump mengeluarkan ultimatum agar Iran membuka penuh jalur strategis Selat Hormuz dalam 48 jam.
Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik Iran jika tuntutan tidak dipenuhi.
Berita Terkait
-
Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
-
Tentara Amerika Gali Kuburannya Sendiri Jika Serang Pulau Kharg
-
Tentara Amerika Mulai Protes Disuruh Hancurkan Iran, Tak Sudi Mati Demi Israel
-
Perang Darat Dimulai? AS Bakal Kirim Tentara Serang Pulau Kharg Iran
-
Ribuan Marinir AS Dikirim Donald Trump ke Timur Tengah, Keluarga: Kapan Ini Akan Berakhir?
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Prabowo Kantongi Data Pendana Demo, KSP Dudung Pastikan akan Ada Langkah Hukum
-
Energi Bersih Jadi Kunci Tingkatkan Nilai Ekonomi Masyarakat Pesisir
-
MBG 'Caplok' 29 Persen Dana Pendidikan, BEM UI Adukan Nasib Kampus ke MK: Listrik Sering Padam!
-
Sujud di Gerbang Lampung, Jokowi Awali Blusukan 3 Hari di Bumi Ruwa Jurai dengan Salat Jumat
-
Pesona Blok M: Dari Tempat Nongkrong Jadul ke Magnet Baru Jakarta Modern
-
Cerita Warga Venezuela Andalkan Informasi Medsos karena Data Korban Gempa Simpang Siur
-
Peserta KDMP Meninggal saat Latsarmil, Mensesneg: Baru Hari Kedua, Belum Berat, Diduga Riwayat Sakit
-
Mekanisme Keberatan Jadi Instrumen Perlindungan Dalam Sengketa Merek dan Hak Cipta
-
Negara Asia, Eropa Hingga Arab Berbondong-bondong Kirim Bantuan ke Venezuela, Ini Daftarnya
-
Firdaus Oiwobo Sudah Diperiksa! Polisi Dalami Kasus Penghinaan Tiyo Ardianto ke Presiden Prabowo