-
PM Netanyahu kecewa berat karena janji Mossad untuk menggulingkan rezim Iran tidak terbukti.
-
Prediksi Mossad mengenai pemberontakan rakyat Iran ternyata meleset jauh dari realitas lapangan.
-
CIA menilai pembunuhan pemimpin Iran justru bisa memicu munculnya pemimpin yang lebih radikal.
Namun harapan untuk melihat jatuhnya pemerintahan Iran menguap begitu saja hanya dalam hitungan minggu setelah perang berjalan.
Sejumlah senator di Amerika Serikat mulai menyuarakan kegelisahan karena tujuan penggulingan rezim tersebut tidak terlihat hasilnya.
Bahkan muncul pernyataan mengejutkan bahwa sebenarnya tidak ada rencana cadangan yang matang untuk operasi militer jangka panjang.
CIA secara independen memberikan penilaian yang sangat bertolak belakang dengan apa yang dijanjikan oleh pihak Mossad.
Intelijen Amerika menilai bahwa kematian pemimpin Iran justru berpotensi memunculkan kelompok pemimpin yang jauh lebih radikal.
Pihak intelijen militer Israel sendiri melihat bahwa posisi pemerintahan Iran saat ini masih cukup solid meskipun ada tekanan.
Kegagalan dalam memicu aksi massa ini dianggap sebagai salah satu blunder terbesar dalam sejarah persiapan perang di Timur Tengah.
Netanyahu kini berada dalam posisi sulit karena janji manis dari badan intelijennya belum memberikan hasil yang nyata.
Dalam sebuah rapat tertutup ia bahkan menyebut bahwa Trump bisa saja menghentikan bantuan jika operasi ini terus buntu.
Baca Juga: Menlu Israel Klaim 40 Negara Labeli Garda Revolusi Iran sebagai Teroris, Ada Indonesia?
Banyak analis di internal intelijen militer Israel sebenarnya sudah memberikan peringatan keras mengenai risiko kegagalan rencana Mossad ini.
Para pemimpin militer di Amerika Serikat juga sudah memperingatkan bahwa warga sipil tidak akan berontak di bawah hujan bom.
Faktanya kemungkinan terjadinya aksi massa untuk menggulingkan pemerintah dinilai sangat rendah oleh para pakar lapangan.
Kini Netanyahu harus menghadapi kenyataan pahit bahwa strategi intelijen yang ia banggakan justru menjadi beban dalam peperangan.
Ketegangan antara kantor Perdana Menteri dan markas Mossad diprediksi akan terus meningkat seiring tidak jelasnya hasil di lapangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Dokter Rumah Horor yang Pernah Gegerkan AS Tewas Misterius saat Jalani Hukuman Seumur Hidup
-
Kondisi Terkini Wanita yang Coba Akhiri Hidup di Dekat Istana, Masih Dirawat Intensif di RSCM
-
Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa
-
Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut
-
Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang
-
Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19
-
Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps
-
Kenapa Krisis Minyak Global 2026 Lebih Parah dari 1973? Begini Penjelasannya dari Ahli
-
Terminal Kampung Rambutan Bakal Dirombak Total Usai Terendam Banjir
-
Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran