Israel menyerang Teheran sebagai balasan atas rudal Iran yang melukai warga di Tel Aviv.
Sebanyak dua belas orang tewas dalam gempuran udara Israel di wilayah pemukiman Varamin Teheran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur sehingga memicu masa berkabung nasional empat puluh hari.
Melihat situasi yang kian tidak terkendali, pemerintah Turki mencoba mengambil peran sebagai penengah di antara pihak bertikai.
Ankara menawarkan diri untuk memfasilitasi komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran guna meredam ketegangan bersenjata yang terjadi.
Fokus utama dari tawaran mediasi ini adalah untuk menghidupkan kembali dialog mengenai program nuklir yang selama ini macet.
Namun, upaya diplomatik ini nampaknya masih menemui jalan buntu karena belum ada respons konkret dari kedua belah pihak.
“Pihak Turki telah menawarkan jasa mediasi kepada AS dan Iran, tetapi sejauh ini belum ada langkah nyata yang dapat mengarah pada pemulihan proses perundingan,” ujar sumber tersebut.
Turki juga dikabarkan sempat mengusulkan adanya gencatan senjata dalam durasi singkat sebagai langkah awal proses damai.
Inisiatif ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi bantuan kemanusiaan dan meredakan trauma psikologis warga sipil di zona konflik.
Meskipun usulan ini sudah masuk ke meja diplomasi, realisasi di lapangan masih sangat jauh dari harapan para pengamat.
Kondisi geopolitik yang kompleks membuat setiap kesepakatan damai menjadi sangat sulit untuk segera disetujui oleh aktor utama.
Baca Juga: Wall Street Anjlok, Investor Dihantui Lonjakan Harga Minyak dan Konflik Iran
Keinginan untuk mengakhiri pertumpahan darah terbentur oleh kepentingan strategis militer dari negara-negara yang terlibat langsung dalam perang.
Gelombang kekerasan terbaru ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari rangkaian peristiwa yang dimulai pada tanggal 28 Februari lalu.
Saat itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi gabungan yang menargetkan posisi penting di dalam wilayah Iran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan bangunan yang signifikan dan memicu kemarahan publik serta pemerintah pusat di Teheran.
Sebagai bentuk perlawanan, Iran tidak tinggal diam dan langsung membalas dengan menyerang fasilitas militer milik musuh di kawasan.
Aksi saling balas ini menciptakan lingkaran setan kekerasan yang sulit untuk diputus melalui jalur komunikasi biasa.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Arab Saudi Marah ke Iran, Singgung Serangan Rudal Kiamat ke Negara Islam
-
Halalbihalal di Balai Kota, Pramono Anung: ASN Jakarta Masih WFH 2 Hari Lagi
-
Tak Jauh dari Indonesia, Negara Ini Mulai Irit BBM Hingga Nyatakan Darurat Energi
-
2000 Tentara AS Dikirim Donald Trump ke Timur Tengah, Bersiap Masuki Iran
-
Penjelasan Shell terkait Stok BBM yang Masih Kosong di Seluruh SPBU
-
Tak Sekadar Halalbihalal di Rumah SBY, Puri Cikeas jadi Saksi Cinta Lama Anies-AHY Bersemu Kembali?
-
Iran Makin Terdesak, Negara Teluk Mulai Izinkan Militer Amerika Serikat Gunakan Pangkalan Udara
-
Putra Mahkota Arab Saudi MBS Diklaim Dukung AS - Israel vs Iran Perang Terus
-
BBM Stabil Tapi WFH Digalakkan? Pakar UGM Minta Pemerintah Jujur Soal Kebijakan Kontroversial Ini
-
Media Arab Telanjangi Kasus Mohammad Bagher Ghalibaf: Berkali-kali Gagal Jadi Presiden Iran