- Perdagangan bursa saham Wall Street merosot pada Selasa, 24 Maret 2026, dipengaruhi harga minyak naik dan ketidakpastian Timur Tengah.
- Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite semuanya tercatat melemah signifikan akibat sentimen investor yang bimbang.
- Pelemahan pasar saham juga disebabkan kenaikan imbal hasil obligasi AS dan perlambatan aktivitas bisnis AS Maret.
Suara.com - Perdagangan bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street merosot pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026. Pelemahan ini dibayangi investor yang merasa bimbang antara lonjakan harga minyak dan harapan meredanya konflik di Timur Tengah.
Menukil Reuters, ketidakpastian meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim adanya kemajuan dalam perundingan dengan Iran. Namun di saat yang sama, muncul laporan bahwa AS justru akan mengirim tambahan pasukan ke Timur Tengah, memicu kekhawatiran konflik bisa berkepanjangan.
Kondisi ini membuat pergerakan indeks saham menjadi fluktuatif. Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,18 persen ke level 46.124. Sementara S&P 500 melemah 0,37 persen ke 6.556 dan Nasdaq Composite anjlok 0,84 persen ke posisi 21.761.
Tekanan di pasar saham juga datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Hal ini dipicu ketidakpastian perang serta lemahnya hasil lelang obligasi tenor dua tahun.
"Pasar saham sedang berusaha menemukan pijakannya karena investor terus memperhatikan setiap berita utama. Kami sangat berorientasi jangka pendek," ujar Kepala Strategi Pasar BMO Private Wealth, Carol Schleif.
Menurut dia, pelaku pasar masih berusaha mempertahankan optimisme dari sesi sebelumnya, meski kekhawatiran belum sepenuhnya hilang. "Ada banyak kegelisahan. Orang-orang memperhatikan harga minyak dan suku bunga," imbuhnya.
Sebelumnya, Wall Street sempat mencatat penguatan signifikan pada Senin, didorong penurunan harga minyak setelah Trump menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Namun, harga minyak kembali naik lebih dari 4 persen pada Selasa, membebani pasar saham.
Dari sisi sektoral, saham energi justru menjadi penopang dengan kenaikan 2,05 persen. Sebaliknya, sektor jasa komunikasi mencatat penurunan terbesar sebesar 2,50 persen, diikuti sektor teknologi yang turun 0,76 persen.
Sentimen negatif juga datang dari sektor keuangan, khususnya kredit swasta. Kekhawatiran meningkat setelah Ares Management membatasi penarikan dana sebesar 5 persen, diikuti meningkatnya permintaan penarikan dana di sejumlah perusahaan sejenis.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Tinggi Lagi, Kembali Dibanderol USD 100/Barel
Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan aktivitas bisnis AS melambat ke level terendah dalam 11 bulan pada Maret. Kondisi ini dipicu kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Dian Siswarini Dipuji DPR, Telkom Kantongi Pendapatan Rp146,7 Triliun
-
MSCI Pertahankan Indonesia di EM, Mengapa IHSG Masih Ambruk?
-
Dorong Kolaborasi Hijau, Pegadaian Dukung Program 2.000 Pohon di Kaltim
-
Harga Durian Anjlok, Musang King Dijual Rp23 Ribu per Kg
-
Rekap Hari Ini: IHSG Ambruk, Rupiah Anjlok!
-
Sinyal Bahaya dari Perbankan: Kredit Agresif, Likuiditas Justru Kian Menipis!
-
Pemerintah Tunda Insentif Motor Listrik, Nasib Ditentukan Juli 2026
-
Prabowo Mau Stop Impor BBM: Kita Akan Swasembada Energi
-
IHSG Hancur Lebur! Anjlok 3,56% ke Level 5.883, Asing Ramai Jual BMRI dan DSSA
-
Pelemahan Tak Terbendung, Rupiah Hampir Balik Lagi ke Rp18.000