-
Arab Saudi mengecam keras serangan Iran yang melanggar hukum internasional dan merusak infrastruktur sipil.
-
Serangan tersebut mengancam stabilitas kawasan serta mengabaikan prinsip hubungan bertetangga yang baik.
-
Keamanan Selat Hormuz harus dijaga demi kelancaran perdagangan dunia dan stabilitas ekonomi global.
Pihak Kerajaan tetap memegang teguh hak untuk membela diri sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku global.
Pembelaan diri ini dapat dilakukan melalui saluran diplomatik resmi maupun mekanisme non-diplomatik yang diperlukan.
Seluruh tindakan perlindungan negara akan disesuaikan dengan urgensi ancaman yang datang dari pihak lawan.
Pentingnya penghentian segera segala bentuk agresi menjadi prioritas utama bagi keamanan bersama di masa depan.
Upaya ini sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2718 yang telah mendapatkan banyak dukungan.
Tercatat ada sekitar 136 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berdiri di belakang resolusi perdamaian tersebut.
Kolektifitas internasional ini menunjukkan bahwa dunia menginginkan adanya penghentian konflik yang tidak berkesudahan ini.
Dubes Faisal kembali memaparkan bahwa sasaran serangan seringkali justru jatuh pada objek-objek sipil yang tidak berdosa.
Kerugian yang timbul bukan hanya sekadar materiil, namun juga menyangkut aspek moral yang sangat mendalam.
Baca Juga: Putra Mahkota Arab Saudi MBS Diklaim Dukung AS - Israel vs Iran Perang Terus
Hal ini menciptakan luka sosial yang sulit disembuhkan bagi warga yang terdampak langsung oleh ledakan konflik.
Jika aksi ini terus berlanjut, posisi politik negara penyerang diprediksi akan semakin tersudut di mata dunia.
Penderitaan rakyat akibat sanksi dan isolasi internasional akan menjadi konsekuensi logis yang tidak terhindarkan.
Ketegangan ini juga dipandang sebagai penghambat besar bagi persatuan dan solidaritas di antara umat Islam.
"Serangan-serangan ini juga berdampak negatif terhadap solidaritas dan persatuan umat Islam," katanya menambahkan.
Perpecahan di internal negara-negara Islam menjadi risiko terbesar yang harus segera dimitigasi oleh semua pemimpin.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Puncak Arus Balik dari Jogja Pertama Terlewati, Gelombang Kedua Diprediksi Akhir Pekan
-
Bocor! China Bikin Peta Laut hingga Indonesia untuk Hadapi AS di Perang Dunia III
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
Terkini
-
KPK Panggil Ulang Gus Yaqut Hari Ini, Ada Apa Setelah Status Penahanan Kembali ke Rutan?
-
Iran Ajak Negara Arab Bersatu Bentuk Pakta Pertahanan Berbasis Al Quran
-
Noel Mau Ikutan Yaqut untuk Ajukan Pengalihan Penahanan, KPK: Kewenangan Hakim
-
Pramono Anung Tegaskan Kebijakan WFA bagi ASN DKI Berlaku hingga 27 Maret
-
Awal Retaknya Hubungan Trump - Netanyahu, Skenario Rahasia Mossad yang Gagal
-
Nasib Selat Hormuz dan Pasokan Minyak Dunia Bergantung Pada Respon Iran Terhadap Proposal AS
-
ASN Jakarta Malas Kerja Usai WFA Siap-siap Disanksi, Pramono Anung: Tak Ada Keringanan!
-
Puncak Arus Balik dari Jogja Pertama Terlewati, Gelombang Kedua Diprediksi Akhir Pekan
-
Syarat Mutlak Iran Bagi Kapal Internasional di Selat Hormuz Agar Bisa Melintas Dengan Selamat
-
Pramono Minta Penertiban Parkir Liar Diperkeras, Soroti Monas hingga Belakang Grand Indonesia