Iran mengajak negara-negara Timur Tengah membentuk aliansi militer mandiri berbasis Al Quran.
Ketegangan meningkat drastis setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Iran membantah klaim Trump mengenai kemajuan pembicaraan diplomatik yang produktif antara kedua negara.
Suara.com - Pemerintah Iran secara resmi mengajak negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk memprakarsai pembentukan aliansi keamanan baru.
Langkah strategis ini dirancang agar kekuatan militer di wilayah tersebut tidak lagi bergantung pada campur tangan asing.
Iran menekankan bahwa struktur pertahanan kolektif ini harus berdiri tegak tanpa melibatkan Amerika Serikat maupun Israel.
Dasar utama dari pembentukan kerja sama militer lintas negara ini adalah prinsip-prinsip yang terkandung dalam Al Quran.
Visi besar ini bertujuan menciptakan stabilitas yang murni dikelola oleh bangsa-bangsa di kawasan Teluk itu sendiri.
"Waktunya telah tiba untuk mendirikan sebuah aliansi militer tanpa kehadiran Amerika Serikat dan Israel," kata Ebrahim Zolfaghari.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh juru bicara Markas Besar Khatam Al Anbiya Angkatan Bersenjata Iran baru-baru ini.
Zolfaghari menyampaikan pesan tersebut melalui sebuah rekaman video yang disebarkan khusus untuk dunia Arab dan Islam.
Ia menilai bahwa dinamika politik saat ini menuntut adanya kemandirian total dalam urusan menjaga kedaulatan wilayah.
Baca Juga: Inggris Kerahkan Kapal Perusak Tipe 45 dan Sistem Otonom Canggih ke Selat Hormuz Iran
Ketergantungan pada kekuatan dari luar benua dianggap tidak lagi relevan dengan tantangan keamanan masa kini.
Zolfaghari menyebut agresi AS dan Israel terhadap negaranya mencerminkan sebuah "fase baru", dan Iran kini ada di garis depan membela negara-negara Islam.
Kondisi geopolitik yang memanas memaksa Iran untuk mengambil peran lebih aktif dalam memimpin narasi perlawanan.
Kawasan Timur Tengah saat ini dinilai sedang berada di persimpangan jalan antara kedaulatan atau tunduk pada tekanan.
Iran memposisikan diri sebagai benteng pertahanan bagi kepentingan negara-negara Muslim yang sering menjadi target operasi militer.
Fase baru ini menuntut adanya koordinasi yang lebih erat antar pemimpin negara di wilayah tersebut.
Zolfaghari menekankan pentingnya tidak tergantung pada kekuatan asing dan untuk kembali ke ajaran Al Quran.
Menurut pandangan Iran, kekuatan spiritual dan religius harus menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan pertahanan nasional.
Negara-negara tetangga dihimbau untuk tidak mencari jaminan keamanan dari pihak yang berada di seberang samudra.
Keyakinan akan kekuatan mandiri menjadi poin krusial yang terus digaungkan oleh otoritas militer di Teheran.
Kehadiran militer asing justru dianggap sebagai pemicu utama ketidakstabilan yang berkepanjangan di tanah para nabi.
"Kita harus bersatu untuk menjamin keamanan kita dan bergerak menuju suatu kesepakatan keamanan bersama yang menjadikan Islam dan Al Quran sebagai acuan, inti, dan landasan ajek," kata dia.
Pernyataan ini menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman harus menjadi ruh dari setiap operasional militer di kawasan.
Dengan menjadikan Al Quran sebagai landasan, diharapkan ada kesamaan visi yang tidak mudah digoyahkan oleh kepentingan politik sesaat.
Kerja sama ini diproyeksikan akan mencakup pertukaran intelijen serta latihan militer gabungan antar negara anggota.
Iran percaya bahwa kesatuan ideologi akan melahirkan kekuatan tempur yang jauh lebih tangguh dan berwibawa.
Ketegangan di kawasan Teluk meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.
Insiden berdarah tersebut telah mengubah konstelasi keamanan dan memicu reaksi keras dari berbagai pihak di Teheran.
Serangan udara itu menyasar beberapa titik strategis yang memicu kerusakan signifikan pada infrastruktur pertahanan Iran.
Sejak saat itu, atmosfer permusuhan di wilayah Teluk mencapai titik didih yang sangat mengkhawatirkan masyarakat internasional.
Banyak analis menilai serangan tersebut sebagai deklarasi perang terbuka yang merusak upaya diplomasi sebelumnya.
Iran kemudian membalas agresi militer itu dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk.
Target serangan balasan ini secara spesifik diarahkan pada lokasi yang menjadi basis atau aset militer Amerika Serikat.
Operasi pembalasan ini menunjukkan kemampuan teknologi persenjataan Iran yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh lawan.
Beberapa instalasi militer di wilayah sengketa dilaporkan mengalami dampak langsung dari gempuran proyektil tersebut.
Tindakan ini merupakan pesan nyata bahwa setiap serangan terhadap Iran akan mendapatkan jawaban yang setimpal.
Iran diduga meminta kepada Amerika Serikat agar dapat melakukan pembicaraan dengan Wakil Presiden JD Vance.
Keinginan ini muncul sebagai bentuk penolakan terhadap utusan khusus Steve Witkoff maupun menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner.
Langkah diplomasi ini menunjukkan bahwa Iran sangat selektif dalam memilih lawan bicara di meja perundingan.
Teheran mencoba mencari celah komunikasi melalui sosok yang dianggap memiliki pandangan berbeda di dalam kabinet Amerika.
Komunikasi diplomatik ini terus berjalan di bawah bayang-bayang ancaman militer yang masih sangat nyata.
Menurut sumber yang dikutip CNN, Iran tidak mempercayai Witkoff dan Kushner terkait pembicaraan sebelumnya.
Kegagalan dialog di masa lalu menjadi alasan utama mengapa Teheran menutup pintu bagi kedua tokoh tersebut.
Ketidakpercayaan ini berakar dari kebijakan-kebijakan sebelumnya yang dinilai sangat merugikan posisi tawar pemerintah Iran.
Iran merasa bahwa utusan-utusan tersebut membawa misi yang tidak sejalan dengan perdamaian jangka panjang.
Oleh karena itu, pemilihan JD Vance dianggap sebagai alternatif yang lebih masuk akal bagi proses negosiasi.
Sementara JD Vance, dianggap Iran sebagai pihak yang lebih mendukung tercapainya gencatan senjata.
Reputasi politik Vance dinilai memberikan secercah harapan bagi berakhirnya konflik bersenjata di Timur Tengah.
Iran melihat peluang untuk mencapai kesepakatan yang lebih adil jika berhadapan dengan figur yang moderat.
Gencatan senjata menjadi prioritas agar stabilitas ekonomi di kawasan tidak semakin terpuruk akibat perang.
Dukungan terhadap dialog yang konstruktif diharapkan dapat meredam eskalasi militer yang kian liar.
Pada Senin, Presiden Trump mengatakan bahwa AS dan Iran telah mengadakan pembicaraan positif selama dua hari.
Trump mengklaim bahwa proses dialog telah menghasilkan beberapa poin kesepakatan awal yang cukup menjanjikan bagi kedua pihak.
Selain itu, ia mengaku telah menginstruksikan Pentagon untuk menunda serangan terhadap sektor energi Iran selama lima hari.
Namun, pernyataan optimistis dari Gedung Putih tersebut langsung mendapatkan bantahan keras dari otoritas di Iran.
Pihak Teheran menegaskan bahwa situasi di lapangan tidak seindah apa yang disampaikan oleh pemimpin Amerika tersebut.
Namun, pernyataan Trump tersebut disangkal Iran yang mengatakan bahwa pihaknya hanya menerima pesan tertentu.
Isi pesan tersebut hanyalah pernyataan keinginan dari pihak Washington untuk terlibat dalam sebuah dialog formal.
Iran menegaskan bahwa belum ada kesepakatan konkret yang dicapai apalagi pembicaraan yang bersifat produktif.
Informasi yang simpang siur ini menambah kerumitan dalam membaca arah konflik di kawasan Timur Tengah ke depan.
Teheran tetap waspada terhadap segala kemungkinan sambil terus memperkuat narasi aliansi militer mandiri mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
-
Negara Tetangga RI Mulai Alami Krisis BBM
-
Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos
-
Kronologi Kecelakaan Bus vs Minibus di Pekanbaru, Tewaskan Bocah Perempuan
Terkini
-
Rekaman3Menit Terakhir Ungkap Penyebab Tragis Kecelakaan Pesawat Air Canada di New York
-
Anggota Polresta Yogyakarta Meninggal Dunia saat Bertugas Lebaran, Diduga Akibat Kelelahan
-
Targetkan 675 Ribu Pengunjung, Kawasan Malioboro Masih Dipadati Ribuan Wisatawan pada H+4 Lebaran
-
Viral Pria Joget di Dapur MBG, BGN Langsung Suspend Satu SPPG dan Beri Peringatan Keras
-
Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
-
Pengamat: Dasco Baca Situasi Dunia, Maka Jadi 'Arsitek Pertemuan' Prabowo-Mega
-
Ini Prediksi yang Bakal Dialami AS-Israel Pasca Pengangkatan Mohammad Bagher Zolghadr
-
Gus Ipul Kunjungi Pesantren Pendiri NU, Sosialisasikan Agenda Muktamar
-
Benjamin Netanyahu Diserang Orang Kepercayaan: Jubir Sindir Tas Mewah Sara Netanyahu