Inggris menyiapkan sistem otonom dan kapal perusak untuk mengamankan Selat Hormuz dari ranjau.
Koalisi internasional dipimpin Inggris bertujuan membuka kembali jalur distribusi minyak mentah dunia.
Blokade Selat Hormuz menyebabkan lonjakan harga minyak global dan biaya pengiriman logistik laut.
Suara.com - Kekuatan militer Britania Raya kini tengah dipersiapkan untuk mengambil posisi sentral dalam sebuah aliansi internasional yang besar.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ketegangan yang mengancam jalur perdagangan laut di Selat Hormuz.
The Times melaporkan pada Selasa (24/3) bahwa London sedang mematangkan rencana operasi pemulihan stabilitas di kawasan tersebut.
Kementerian Pertahanan Inggris mempertimbangkan penggunaan kapal komersial sewaan atau aset angkatan laut sebagai platform peluncuran teknologi canggih.
Fungsi utama dari kapal tersebut adalah menjadi induk bagi sistem robotik tanpa awak yang bertugas mendeteksi ancaman bawah air.
Fokus utama misi ini adalah menetralisir keberadaan ranjau laut yang diduga kuat telah ditebar di titik-titik krusial.
Inggris tidak akan bergerak sendirian karena operasi ini dirancang sebagai upaya multinasional bersama Amerika Serikat dan Prancis.
Tujuan kolektif dari koalisi ini adalah menjamin keselamatan kapal-kapal komersial yang melintasi koridor air paling vital di dunia.
Para pejabat berwenang menyatakan bahwa proses normalisasi jalur pelayaran ini akan dieksekusi melalui beberapa tahapan yang sistematis.
Baca Juga: 2000 Tentara AS Dikirim Donald Trump ke Timur Tengah, Bersiap Masuki Iran
Tahap pertama akan sangat bergantung pada efektivitas sistem sensor otomatis yang diluncurkan langsung dari kapal induk pengangkut.
Memasuki fase kedua, intensitas pengamanan akan ditingkatkan dengan melibatkan armada tempur permukaan yang lebih masif dan mematikan.
Kapal perusak Tipe 45 milik Angkatan Laut Inggris diproyeksikan menjadi garda terdepan dalam melindungi iring-iringan kapal tanker minyak.
Skenario lainnya adalah mengombinasikan kapal perusak tersebut dengan armada permukaan tanpa awak untuk menciptakan perimeter keamanan yang ketat.
Inovasi ini memungkinkan Inggris untuk melakukan operasi berisiko tinggi tanpa harus menempatkan personel manusia dalam bahaya langsung.
Langkah ini juga dipandang sebagai uji coba penting bagi konsep angkatan laut hibrida yang sedang dikembangkan oleh militer Inggris.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien
-
Rp17 Triliun Aliran Modal Asing Masuk ke Pinjol RI
-
Buntut Kasus Komentar Nirempati Pasien BPJS, RS Sardjito Hentikan Praktik dr. Elda Putri Rahard