- Situasi Iran memburuk memasuki pekan keempat perang, ditandai inflasi tinggi dan pemadaman internet terpanjang.
- Pemadaman internet hampir sebulan telah melumpuhkan komunikasi lebih dari 90 juta warga dan bisnis online.
- Warga menghadapi tekanan ekonomi parah, daya beli menurun drastis akibat inflasi pangan yang melonjak tinggi.
Suara.com - Situasi di Iran kian memburuk memasuki pekan keempat perang dengan AS-Israel.
Warga kini menghadapi tekanan ganda, ekonomi yang runtuh dan pemadaman internet terpanjang dalam sejarah negara tersebut.
Di tengah perayaan Nowruz, tahun baru bangsa Persia, aktivitas ekonomi justru lesu.
“Penjualan kami hanya sekitar sepertiga dari biasanya, padahal ini musim terbaik,” ujar seorang pedagang di Teheran seperti dilansir dari Aljazeera.
Daya beli masyarakat terus merosot akibat inflasi tinggi.
Sebelum perang saja, inflasi tahunan mencapai sekitar 70 persen, sementara harga pangan melonjak lebih dari 100 persen.
Banyak warga kini hidup dalam ketidakpastian.
“Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah liburan. Keadaan terus memburuk,” kata pedagang tersebut.
Kondisi semakin sulit dengan pemadaman internet yang telah berlangsung hampir sebulan.
Baca Juga: Cerdas! Iran Mau Hancurkan Pusat Desalinasi Air Punya Israel, Warga Timur Tengah Bisa Mati Kehausan
Lebih dari 90 juta warga kehilangan akses ke dunia luar, menghambat komunikasi sekaligus menghancurkan bisnis berbasis online.
“Tidak ada kejelasan kapan internet kembali. Ini memaksa bisnis tutup dan memperparah inflasi,” ujar warga Iran lainnya.
Selain tekanan ekonomi, situasi keamanan juga memicu eksodus warga dari kota besar.
Banyak keluarga meninggalkan Teheran demi keselamatan, sementara yang bertahan mengandalkan tabungan yang kian menipis.
Sementara itu, harapan akan meredanya konflik masih tipis.
Meski ada sinyal diplomasi dari Donald Trump, ketegangan di kawasan tetap tinggi dan berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga Iran.
Kontributor: Adam Ali
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT