- Putra Mahkota Mohammad bin Salman Arab Saudi mendorong Presiden Donald Trump agar terus memerangi Iran karena peluang menggulingkan rezimnya dinilai langka.
- Arab Saudi khawatir jika Iran runtuh, elemen militer akan mengambil alih dan menyerang infrastruktur minyak negara mereka.
- Secara resmi, Riyadh menyangkal dorongan tersebut dan menyatakan fokus utama mereka adalah pada resolusi damai konflik.
Suara.com - Pemimpin de facto Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman terus mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memerangi Iran. Putra Mahkota Arab Saudi itu mengatakan kesempatan untuk menumbangkan rezim Iran tidak akan datang untuk kedua kalinya seperti saat ini.
Informasi ini diwartakan oleh surat kabar The New York Times pada Selasa (24/3/2026) berdasarkan wawancara dengan sejumlah sumber dari internal pemerintahan Amerika Serikat yang mengetahui pembicaraan Trump dengan Bin Salman.
Dalam pembicaraan antara dua pemimpin itu pada pekan lalu, Pangeran Bin Salman mendesak Trump untuk terus menyerang Iran hingga rezim yang saat ini berkuasa tumbang. Menurut sang pangeran, jika rezim saat ini masih dibiarkan berkuasa maka kawasan Teluk tidak akan aman dalam jangka panjang.
Pandangan Bin Salman ini mirip dengan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu. Tapi ada bedanya. Netanyahu merasa cukup jika rezim tumbang dan Iran menjadi negara gagal yang terjebak dalam kekacauan akibat pertikaian internal. Sementara Bin Salman masih merasa Teluk akan selamanya terancam jika Iran jatuh dalam kondisi chaos.
Para pejabat Saudi sejak lama sudah khawatir, jika rezim yang saat ini berkuasa di Iran runtuh dan negara itu jatuh ke dalam chaos maka elemen-elemen dari militer dan milisi akan mengambil alih kendali lalu terus menyerang Arab Saudi, terutama infrastruktur perminyakan.
AS di sisi lain akan terjebak dalam perang yang tak berkesudahan. Adapun Trump, seperti biasa, seperti tak punya pendirian dan sukar diprediksi. Ia sempat mengatakan perang akan segera berakhir, tapi tak lama kemudian bilang eskalasi konflik akan meningkat.
Tapi pada Senin kemarin ia mengatakan bahwa perundingan dengan Iran sudah berlangsung dan konflik yang dimulai sejak 28 Februari lalu akan segera menemukan titik akhir.
Adapun pejabat Saudi secara resmi menyangkal kabar bahwa Pangeran Mohammad bin Salman mendorong Trump agar perang melawan Iran harus berlanjut.
"Pemerintah Arab Saudi selalu mendukung resolusi damai, bahkan sebelum perang ini berlangsung," demikian bunyi keterangan resmi Riyadh.
Baca Juga: Mulai Nego dengan Trump, Iran Buka Selat Hormuz Tapi Tetapkan Tarif Rp34 Miliar per Kapal
"Fokus utama kami saat ini adalah untuk bertahan dari serangan terhadap rakyat dan infrastruktur sipil yang terjadi setiap hari. Iran memilih bermain di tepi jurang ketimbang solusi diplomatis yang serius. Hal ini merugikan semua pihak tapi Iran adalah yang paling merugi," lanjut pemerintah Saudi.
Sementara Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menolak membahas kabar ini. Ia mengatakan pemerintah AS "tidak berkomentar atas pembicaraan pribadi Trump."
Berita Terkait
-
Boikot Donald Trump dan Piala Dunia 2026 di Belanda Tembus 170 Ribu Tanda Tangan
-
Cerdas! Iran Mau Hancurkan Pusat Desalinasi Air Punya Israel, Warga Timur Tengah Bisa Mati Kehausan
-
Iran Ajak Negara Arab Bersatu Bentuk Pakta Pertahanan Berbasis Al Quran
-
Syarat Mutlak Iran Bagi Kapal Internasional di Selat Hormuz Agar Bisa Melintas Dengan Selamat
-
Inggris Kerahkan Kapal Perusak Tipe 45 dan Sistem Otonom Canggih ke Selat Hormuz Iran
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT