News / Internasional
Kamis, 26 Maret 2026 | 11:01 WIB
Karikatur Presiden AS Donald Trump sebagai Pinokio di halaman utama surat kabar Iran, Javan. [Javan]
Baca 10 detik
  • Media Iran mengejek Presiden Trump sebagai "Pinocchio" karena mengklaim adanya negosiasi damai yang dibantah keras oleh Teheran.
  • Juru bicara militer Iran, Zolfaqari, menyindir klaim diplomasi Washington sebagai negosiasi sepihak dengan diri sendiri.
  • Sebuah proposal 15 poin AS dikirim lewat mediator seperti Pakistan dan Turki meskipun Iran menolak dialog langsung.

"Jangan sebut kegagalan Anda sebagai sebuah kesepakatan," tegasnya.

Zolfaqari bahkan mempelesetkan slogan populer Trump saat menjadi bintang reality show untuk menyerang balik sang presiden dengan kalimat, "Trump, Anda dipecat!".

Menurutnya, tidak akan ada stabilitas atau kembalinya harga minyak ke level normal di kawasan tersebut "Sampai kehendak kami terlaksana".

Klaim Bertolak Belakang dari Gedung Putih

Di sisi lain, Donald Trump tetap percaya diri dengan klaimnya saat berbicara di hadapan wartawan di Gedung Putih.

Ia bersikeras Washington sedang menjalin kontak dengan pihak-pihak yang tepat di Iran. Trump bahkan menyebut bahwa Teheran sangat putus asa untuk mencapai kesepakatan baru.

"Mereka berbicara dengan kami, dan mereka masuk akal," klaim Trump.

Pernyataan ini menandai pergeseran drastis dari nada bicaranya beberapa hari sebelumnya, di mana ia mengancam akan meluluhlantakkan infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya bagi kapal-kapal negara musuh.

Ketidaksinkronan informasi ini menciptakan kebingungan total di Teheran. Mohamed Vall dari Al Jazeera melaporkan bahwa terjadi anomali informasi antara apa yang dibicarakan Trump dengan realitas politik di Iran.

Baca Juga: Konflik di Timur Tengah, Sekjen PBB: Perang Sudah di Luar Kendali

Menurutnya, ada kegelapan total dalam status negosiasi tersebut di mata publik Iran, yang justru menunjukkan situasi yang sangat aneh dan penuh tanda tanya.

Peran Mediator di Balik Layar

Meskipun Teheran membantah adanya dialog langsung, laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan adanya proposal perdamaian 15 poin yang dikirim AS melalui perantara.

Rencana tersebut kabarnya menuntut Iran untuk membongkar tiga situs nuklir utama, menghentikan pengayaan uranium, serta mengakhiri dukungan terhadap sekutu regional. Sebagai imbalannya, sanksi nuklir akan dicabut dan AS akan membantu program nuklir sipil Iran.

Pakistan dan Turki muncul sebagai kandidat kuat mediator. Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, memberikan klarifikasi mengenai posisi diplomatik saat ini.

"Berdasarkan informasi saya, bertentangan dengan klaim Trump, tidak ada negosiasi langsung atau tidak langsung yang terjadi antara kedua negara sejauh ini," jelasnya.

Namun, ia mengakui adanya upaya dari negara sahabat untuk meletakkan dasar bagi dialog di masa depan.

Partai AK yang berkuasa di Turki juga mengonfirmasi bahwa Ankara telah memainkan peran dalam menyampaikan pesan antara kedua ibu kota tersebut demi meredakan ketegangan yang kian memanas di kawasan tersebut.

Diplomasi di Tengah Hujan Rudal

Ironisnya, saat retorika perdamaian dilemparkan, pertempuran fisik di lapangan justru semakin intensif.

Israel dilaporkan terus meluncurkan serangan udara ke infrastruktur di Teheran. Salah satu serangan di wilayah pemukiman Varamin, Teheran Selatan, dikabarkan menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai puluhan lainnya.

Iran membalas dengan menghujani wilayah Israel dengan rudal, menargetkan pangkalan militer di Safad serta kota-kota besar seperti Tel Aviv, Kiryat Shmona, dan Bnei Brak.

Saat yang sama, Pentagon dilaporkan bersiap mengirimkan 1.000 tentara tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah untuk memperkuat sekitar 50.000 personel yang sudah ada di sana.

Load More