News / Internasional
Kamis, 26 Maret 2026 | 12:03 WIB
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta warganya tidak mandi berlama-lama dan hanya mengecas HP pada siang hari, untuk menghemat energi. Korsel menyatakan siaga satu darurat ekonomi akibat perang yang dikobarkan AS serta Israel terhadap Iran. [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Korea Selatan menetapkan siaga satu krisis energi dan ekonomi akibat perang AS-Israel versus Iran, mendesak penghematan energi masyarakat.
  • Presiden Lee Jae Myung meminta warga mempersingkat waktu mandi, dan mengeca ponsel pada siang hari saja.
  • Ketergantungan impor energi tinggi Korsel terancam karena gangguan Selat Hormuz, memicu pembatasan kendaraan sektor publik.

Sejak awal Maret, jalur Selat Hormuz praktis terhambat. Padahal, sekitar 20 juta barel minyak biasanya melintas di sana setiap harinya.

Gangguan pada jalur ini telah menyebabkan biaya pengiriman melambung tinggi dan mendorong harga minyak global ke level yang mengkhawatirkan.

Untuk mengelola potensi kekurangan pasokan, pemerintah Korea Selatan mulai memperkenalkan langkah-langkah konservasi energi yang cukup ketat.

Salah satu kebijakan yang paling menonjol adalah penerapan sistem rotasi lima hari untuk kendaraan sektor publik berdasarkan nomor plat kendaraan.

Selain di sektor publik, pemerintah juga mengeluarkan rekomendasi bagi masyarakat luas untuk mengurangi penggunaan air dan listrik.

Itu termasuk mempersingkat waktu mandi, serta hanya membolehkan warga mengecas ponsel dan perangkat elektronik pada siang hari.

"Warga diimbau untuk mandi dalam durasi yang lebih singkat, serta mengisi daya perangkat elektronik hanya pada siang hari guna mengoptimalkan penggunaan energi matahari dan mengurangi beban jaringan listrik saat jam sibuk," perintah Presiden Lee Jae Myung.

Latar Belakang Konflik yang Kian Berdarah

Eskalasi di kawasan Timur Tengah ini bermula sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Baca Juga: Iran Tolak Proposal Trump, Ajukan 5 Syarat Termasuk Ganti Rugi Perang dan Kontrol Selat Hormuz

Operasi militer tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran tidak tinggal diam dan melakukan pembalasan dengan meluncurkan serangan pesawat tak berawak (drone) serta rudal secara berulang, yang menargetkan wilayah Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.

Saling balas serangan ini telah menciptakan ketidakpastian besar yang mengguncang kepercayaan investor di seluruh dunia.

Dengan kondisi geopolitik yang masih sangat cair, Korea Selatan berupaya memastikan bahwa mesin ekonomi mereka tetap berjalan meskipun jalur pasokan utama terancam.

Seoul menyadari bahwa keterlambatan dalam merespons dinamika di Timur Tengah bisa berakibat fatal bagi pertumbuhan ekonomi nasional, yang sangat bergantung pada perdagangan luar negeri.

Langkah-langkah darurat ini diharapkan dapat menjadi bantalan bagi masyarakat Korea Selatan di tengah bayang-bayang krisis energi global yang dipicu oleh konfrontasi bersenjata di salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia.

Load More