- Putra Mahkota MBS mendesak Presiden Trump melanjutkan perang AS guna menghancurkan total pemerintahan garis keras Iran.
- MBS mendorong serangan militer langsung AS terhadap infrastruktur energi penting Iran, seperti operasi merebut Pulau Kharg.
- Arab Saudi secara resmi menolak dorongan perang, mengklaim fokus mereka hanya pada pertahanan diri dari serangan Iran.
Suara.com - Pemimpin de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, disebut mendesak Amerika Serikat meneruskan perang hingga bisa menghancurkan Iran.
Dalam berita utama surat kabar The New York Times edisi Kamis (26/3/2026), desakan itu terungkap setelah komunikasi privat antara MBS dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dibocorkan ke publik.
Permintaan itu menjadi ironi, sebab MBS kerap melontarkan retorika perdamaian di depan publik terkait perang yang dikobarkan AS serta Israel terhadap Iran.
Berdasarkan laporan yang bersumber dari pejabat Amerika Serikat, MBS disebut-sebut terus mendorong Trump untuk tidak mengendurkan serangan militer terhadap Iran.
Pangeran MBS berargumen, kampanye militer gabungan AS-Israel saat ini merupakan sebuah "kesempatan bersejarah" untuk merombak total tatanan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam rangkaian pembicaraan selama sepekan terakhir, MBS menyampaikan pesan kuat kepada Trump bahwa sang presiden harus terus menekan hingga runtuhnya pemerintahan garis keras di Teheran.
Bagi Riyadh, rezim Iran saat ini adalah ancaman jangka panjang bagi kawasan Teluk yang hanya bisa dihilangkan dengan cara pergantian kekuasaan secara total.
Ambisi Operasi Militer di Pulau Kharg
Manuver MBS tidak hanya sebatas dukungan moral. Laporan menyebutkan bahwa ia mendorong adanya serangan langsung terhadap infrastruktur energi Iran, guna melumpuhkan kekuatan ekonomi Teheran.
Baca Juga: Perang Hari ke-27: Ratusan Pesawat Tempur AS-Israel Rontok di Tangan Iran
Bahkan, Donald Trump dikabarkan mulai mempertimbangkan secara serius operasi militer untuk merebut Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama infrastruktur minyak Iran.
Operasi semacam ini, yang kemungkinan melibatkan pasukan lintas udara angkatan darat atau serangan amfibi oleh Marinir AS, dianggap sangat berbahaya oleh para analis militer.
Namun, MBS tetap mengadvokasi perlunya operasi darat dalam percakapannya dengan Trump.
Ia meyakinkan Trump bahwa lonjakan harga minyak yang merusak ekonomi global saat ini hanyalah bersifat sementara.
Tapi, tidak semua pihak di Washington setuju dengan visi ini. Pejabat senior di pemerintahan AS khawatir bahwa jika konflik ini terseret terlalu lama, Iran akan meluncurkan serangan balasan yang lebih menyakitkan terhadap instalasi minyak Saudi, dan Amerika Serikat akan terjebak dalam "perang tanpa akhir" lainnya.
Kontradiksi Publik dan Diplomasi "Hancur Total"
Berita Terkait
-
Perang Hari ke-27: Ratusan Pesawat Tempur AS-Israel Rontok di Tangan Iran
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Krisis Energi, Presiden Korsel Minta Warga Mandi Jangan Lama-lama, Cas HP Hanya Siang
-
Iran Tolak Proposal Trump, Ajukan 5 Syarat Termasuk Ganti Rugi Perang dan Kontrol Selat Hormuz
-
Pulau Terancam Diduduki, Iran Beri Peringatan Keras kepada Negara-Negara Tetangga
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT