- Korea Selatan menetapkan siaga satu krisis energi dan ekonomi akibat perang AS-Israel versus Iran, mendesak penghematan energi masyarakat.
- Presiden Lee Jae Myung meminta warga mempersingkat waktu mandi, dan mengeca ponsel pada siang hari saja.
- Ketergantungan impor energi tinggi Korsel terancam karena gangguan Selat Hormuz, memicu pembatasan kendaraan sektor publik.
Suara.com - Pemerintah Korea Selatan menyatakan negaranya siaga satu krisis energi serta ekonomi akibat perang yang dikobarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Mereka juga mengharuskan warga untuk menghemat energi, termasuk jangan mandi berlama-lama.
Perdana Menteri Korsel Kim Min-seok resmi mengumumkan pembentukan dua tim ekonomi darurat pada hari Rabu (25/3), sebagai langkah antisipatif melindungi stabilitas ekonomi nasional dan mata pencaharian warga.
Dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (26/3/2026), keputusan ini diambil menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah kian memanas, yang mulai memberikan tekanan hebat pada pasar global dan rantai pasokan energi dunia.
Kim Min-seok menyatakan bahwa pemerintah akan segera mendirikan "Ruang Situasi Ekonomi Darurat" di Kantor Kepresidenan.
Selain itu, sebuah markas besar ekonomi darurat juga akan beroperasi secara langsung di bawah otoritas kantor Perdana Menteri.
Langkah cepat ini dilakukan karena ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus merembet ke berbagai sektor ekonomi internasional.
Dalam sebuah pengarahan resmi, Kim memperingatkan bahwa krisis ini berpotensi berlangsung dalam jangka waktu yang lama.
Ia menekankan pentingnya perencanaan proaktif agar dampak buruk terhadap ekonomi domestik dapat diminimalisir sedini mungkin.
"Sudah waktunya sekarang untuk meningkatkan sistem respons antisipatif pemerintah," ujar Kim Min-seok, saat memberikan rincian mengenai kesiapan menghadapi skenario terburuk yang mungkin terjadi.
Baca Juga: Iran Tolak Proposal Trump, Ajukan 5 Syarat Termasuk Ganti Rugi Perang dan Kontrol Selat Hormuz
Instruksi pembentukan kerangka kerja darurat ini datang langsung dari Presiden Lee Jae Myung.
Presiden menginstruksikan aktivasi sistem yang mampu merespons guncangan ekonomi secara cepat, dan melindungi kehidupan sehari-hari masyarakat dari lonjakan inflasi maupun kelangkaan sumber daya.
Nantinya, pertemuan ekonomi darurat tingkat tinggi yang dipimpin langsung oleh Presiden akan bertindak sebagai "menara kontrol" sentral dalam pengambilan keputusan strategis.
Kerentanan Energi dan Gangguan Selat Hormuz
Korea Selatan berada dalam posisi yang cukup rentan di tengah konflik ini karena ketergantungan mereka yang sangat tinggi terhadap impor energi.
Sebagian besar pasokan minyak dan gas Seoul harus melewati Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang saat ini menjadi titik panas ketegangan militer.
Tag
Berita Terkait
-
Iran Tolak Proposal Trump, Ajukan 5 Syarat Termasuk Ganti Rugi Perang dan Kontrol Selat Hormuz
-
Pulau Terancam Diduduki, Iran Beri Peringatan Keras kepada Negara-Negara Tetangga
-
Israel Perluas Serangan ke Lebanon, Begini Sejarahnya!
-
Efek Perang Iran: Kim Jong Un Makin Yakin Nuklir Adalah Kunci Selamat
-
Darurat Panic Buying, Pemerintah Jepang Jamin Pasokan Tisu Aman
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Viral Tuduhan Buang Sampah ke Kali Pesanggrahan, DLH DKI: Itu Titik Penampungan Resmi
-
Studi: Karbon Biru Bisa Tekan Emisi Dunia, Mengapa Banyak Negara Belum Menggunakannya?
-
Iran Tolak Proposal Trump, Ajukan 5 Syarat Termasuk Ganti Rugi Perang dan Kontrol Selat Hormuz
-
Pulau Terancam Diduduki, Iran Beri Peringatan Keras kepada Negara-Negara Tetangga
-
Krisis PPPK di NTT: 9.000 Pegawai Terancam Putus Kontrak Masal
-
Di Balik Cloud Storage, Ada Biaya Lingkungan yang Harus Kita Bayar
-
Jerman 'Impor' Tenaga Kerja India: Solusi di Tengah Tsunami Pensiun
-
Tak Masalah Dilaporkan ke Dewas KPK, Deputi Penindakan dan Eksekusi: Bentuk Kepedulian Masyarakat
-
Israel Perluas Serangan ke Lebanon, Begini Sejarahnya!
-
Mutasi Kabais Tak Transparan, Imparsial Cium Upaya Putus Rantai Komando di Kasus Andrie Yunus