- Putra Mahkota MBS mendesak Presiden Trump melanjutkan perang AS guna menghancurkan total pemerintahan garis keras Iran.
- MBS mendorong serangan militer langsung AS terhadap infrastruktur energi penting Iran, seperti operasi merebut Pulau Kharg.
- Arab Saudi secara resmi menolak dorongan perang, mengklaim fokus mereka hanya pada pertahanan diri dari serangan Iran.
Secara publik, Donald Trump menunjukkan sikap yang berubah-ubah. Pada hari Senin pekan ini, melalui media sosial, ia mengklaim adanya kemajuan diplomatik.
Trump menulis bahwa pemerintahannya dan Iran telah mengadakan "percakapan produktif mengenai resolusi lengkap dan total dari permusuhan kami," meskipun klaim ini segera dibantah mentah-mentah oleh pihak Teheran.
Pemerintah Arab Saudi sendiri secara resmi menolak narasi bahwa mereka mendorong perpanjangan perang.
Dalam sebuah pernyataan resmi, pemerintah Saudi menegaskan posisi mereka.
"Kerajaan Arab Saudi selalu mendukung penyelesaian damai untuk konflik ini, bahkan sebelum konflik dimulai," bunyi pernyataan tersebut.
Pihak Kerajaan menambahkan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah pertahanan diri.
"Perhatian utama kami hari ini adalah untuk membela diri dari serangan harian terhadap rakyat kami dan infrastruktur sipil kami. Iran telah memilih tindakan berbahaya (brinkmanship) daripada solusi diplomatik yang serius. Ini merugikan setiap pemangku kepentingan yang terlibat, tetapi tidak ada yang lebih dirugikan daripada Iran sendiri."
Menteri Luar Negeri Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, juga mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap situasi kawasan.
Menurutnya, upaya rekonsiliasi yang sempat dibangun sejak 2023 kini telah porak-poranda.
Baca Juga: Perang Hari ke-27: Ratusan Pesawat Tempur AS-Israel Rontok di Tangan Iran
"Kepercayaan yang ada sebelumnya telah hancur total," ungkap Pangeran Faisal kepada wartawan pekan lalu.
Dampak Ekonomi dan Risiko "Negara Gagal"
Jalur perdagangan di Selat Hormuz kini praktis tercekik, menghambat aliran minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait menuju pasar internasional.
Serangan drone dan rudal Iran terhadap fasilitas minyak Saudi juga terus menguras stok pencegat rudal Patriot milik Riyadh.
Analisis Yasmine Farouk, direktur proyek Teluk dan Semenanjung Arab untuk International Crisis Group, memberikan perspektif menarik mengenai dilema Saudi.
"Pejabat Saudi tentu ingin perang berakhir, tetapi bagaimana cara perang itu berakhir adalah hal yang penting," jelasnya.
Berita Terkait
-
Perang Hari ke-27: Ratusan Pesawat Tempur AS-Israel Rontok di Tangan Iran
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Krisis Energi, Presiden Korsel Minta Warga Mandi Jangan Lama-lama, Cas HP Hanya Siang
-
Iran Tolak Proposal Trump, Ajukan 5 Syarat Termasuk Ganti Rugi Perang dan Kontrol Selat Hormuz
-
Pulau Terancam Diduduki, Iran Beri Peringatan Keras kepada Negara-Negara Tetangga
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
Terkini
-
Tarif Rp1 Picu Lonjakan, Penumpang Transjakarta Tembus 697 Ribu dalam Sehari saat Lebaran
-
Terapkan Operasional Ramah Lingkungan, BNI Hemat Energi 559 Ribu Giga Joule Sepanjang 2025
-
Perang Hari ke-27: Ratusan Pesawat Tempur AS-Israel Rontok di Tangan Iran
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Mendekati Masa Tenggat, KPK Ingatkan Penyelenggara Negara Segera Laporkan LHKPN
-
Krisis Energi, Presiden Korsel Minta Warga Mandi Jangan Lama-lama, Cas HP Hanya Siang
-
Viral Tuduhan Buang Sampah ke Kali Pesanggrahan, DLH DKI: Itu Titik Penampungan Resmi
-
Studi: Karbon Biru Bisa Tekan Emisi Dunia, Mengapa Banyak Negara Belum Menggunakannya?
-
Iran Tolak Proposal Trump, Ajukan 5 Syarat Termasuk Ganti Rugi Perang dan Kontrol Selat Hormuz
-
Pulau Terancam Diduduki, Iran Beri Peringatan Keras kepada Negara-Negara Tetangga