-
Houthi mengancam blokade Selat Bab Al Mandab demi membantu Iran melawan Amerika dan Israel.
-
Penutupan jalur laut ini berpotensi memutus distribusi minyak dunia dan melumpuhkan ekonomi global.
-
Ketegangan militer meningkat seiring rencana Amerika Serikat melakukan invasi darat ke wilayah Iran.
Suara.com - Perang di kawasan perairan Timur Tengah kini memasuki babak baru yang sangat mengkhawatirkan bagi dunia.
Kelompok milisi Houthi dari Yaman secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk memblokade akses Selat Bab Al Mandab.
Langkah ekstrem ini diambil sebagai bagian dari taktik besar untuk menyokong Iran dalam konflik melawan Amerika Serikat.
Mohammed Mansour selaku Wakil Menteri Informasi otoritas Houthi mengungkapkan rencana tersebut dalam wawancara dengan Televisi Al Araby.
Ia menegaskan bahwa pemutusan akses di jalur vital tersebut menjadi instrumen penekan bagi pihak Washington maupun Tel Aviv.
Pernyataan ini menandakan bahwa Houthi telah membulatkan tekad untuk berdiri di satu barisan bersama pihak Teheran.
Sebelumnya, kelompok ini juga telah mengirimkan serangan proyektil ke wilayah Israel meskipun berhasil ditangkis sistem pertahanan.
Eskalasi ini memicu kekhawatiran para pengamat ekonomi mengenai masa depan stabilitas arus barang secara internasional.
Sebab, Selat Bab Al Mandab merupakan gerbang krusial sepanjang 32 kilometer yang menghubungkan dua samudera besar dunia.
Baca Juga: Hacker Iran Retas Email Bos FBI Kash Patel, AS Gelar Sayembara Rp157 Miliar
Wilayah ini menjadi jembatan antara Samudra Hindia menuju Laut Mediterania melalui akses di Terusan Suez.
Data menunjukkan sekitar 12 persen dari total distribusi minyak bumi dunia melewati titik sempit ini tahun lalu.
Volume harian minyak yang melintas di sana diperkirakan mencapai angka 4,2 juta barel pada tahun 2025.
Jika blokade benar-benar terjadi, rantai pasokan antara benua Eropa dan Asia dipastikan akan terputus total.
Kapal-kapal kargo terpaksa harus memutar jauh melewati Benua Afrika yang memakan waktu tambahan hingga dua minggu.
Kondisi ini akan menyebabkan keterlambatan pengiriman barang yang sangat signifikan bagi berbagai sektor industri global.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Paradoks AI, Ciptakan Pengangguran Massal Hingga Krisis Air di India
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi