-
Amerika Serikat merencanakan invasi darat ke Iran setelah serangan udara dinilai tidak efektif.
-
Iran menyiapkan satu juta tentara dan strategi perang gerilya untuk menghadapi pasukan elit Amerika.
-
Mayoritas rakyat dan sekutu internasional menentang rencana serangan darat karena risiko ekonomi tinggi.
Suara.com - Tekanan terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk segera menginstruksikan serangan darat ke wilayah Iran semakin meningkat secara signifikan.
Langkah drastis ini muncul setelah serangkaian operasi udara dan gempuran rudal dinilai gagal melumpuhkan struktur militer serta pemerintahan di Teheran.
Pemerintah Amerika Serikat sebenarnya telah mengkaji opsi invasi darat ini jauh sebelum serangan perdana pecah pada tanggal 28 Februari lalu.
Awalnya, Washington berencana membangun aliansi strategis dengan kelompok minoritas di dalam Iran guna memuluskan penetrasi pasukan ke wilayah lawan.
Metode merangkul kaum minoritas, khususnya etnis Kurdi, merupakan taktik lama yang pernah sukses diterapkan saat menginvasi Afghanistan dan Irak.
Pada perang masa lalu, Amerika menggandeng etnis Tajik serta Uzbek di Afghanistan dan bekerja sama erat dengan kaum Kurdi di Irak.
Etnis Kurdi yang tersebar di wilayah perbatasan empat negara merupakan kekuatan kunci saat menghancurkan kelompok ISIS di kawasan tersebut.
Namun, untuk konflik kali ini, kelompok Kurdi secara tegas menolak tawaran kerja sama militer yang diajukan oleh pihak Pentagon.
Mereka enggan terjebak dalam situasi "habis manis sepah dibuang" setelah sebelumnya merasa ditinggalkan Amerika Serikat di wilayah Suriah demi menjaga hubungan dengan Turki.
Baca Juga: AS-Israel Bongkar Kebohongan Sendiri usai Serang Kampus Iran, Isu Nuklir Cuma Bualan
Sikap sensitif Turki terhadap pergerakan kemerdekaan Kurdi memang menjadi penghalang besar bagi Amerika dalam mendekati kelompok minoritas di Iran.
Selain Kurdi, opsi beraliansi dengan etnis Baluch di wilayah Sistan dan Baluchistan juga menemui jalan buntu karena pertentangan dari Pakistan.
Mayoritas kelompok minoritas ini merupakan penganut Sunni, yang secara sosiopolitik berbeda dengan mayoritas penduduk Parsi di Iran yang bermazhab Syiah.
Karena strategi memecah belah internal ini gagal, Trump kini beralih pada skenario operasi tempur darat yang melibatkan kekuatan mandiri.
Fokus utama penyerangan akan bertumpu pada Unit Ekspedisi Marinir (MEU) yang memiliki spesialisasi dalam serangan kilat dari arah lautan.
Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan sekitar 5.000 personel marinir dari satuan MEU menuju kawasan Timur Tengah untuk bersiaga.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
1 Prajurit TNI di Lebanon Gugur Dibom Israel, 3 Lainnya Luka-luka
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
Terkini
-
DKI Siap Jalankan PP Tunas, Pramono Anung Soroti Bahaya Konten Digital bagi Anak
-
Studi: Pasar Karbon Dinilai Belum Efektif Lindungi Keanekaragaman Hayati, Mengapa?
-
Detik-detik Prajurit TNI Gugur di Perang Timur Tengah
-
Pengamat Politik UMY: Polemik Ijazah Jokowi Hanya Buang Energi di Tengah Ancaman Krisis Ekonomi
-
Habis Selat Hormuz, Gerbang Laut Merah Selat Bab Al Mandab Bakal Diblokir Sekutu Iran
-
Hacker Iran Retas Email Bos FBI Kash Patel, AS Gelar Sayembara Rp157 Miliar
-
Komisi III DPR Minta Hakim Pertimbangkan Bebaskan Amsal Sitepu
-
Momen Hangat Prabowo Bertemu Diaspora Indonesia di Jepang: Bisa Selfie Bareng
-
Iran Hantam Pembangkit Listrik Kuwait, Pekerja Tewas Akibat Balas Dendam Kepada Amerika Dan Israel
-
Satu Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Investigasi Transparan atas Serangan ke Pasukan PBB