-
Houthi mengancam blokade Selat Bab Al Mandab demi membantu Iran melawan Amerika dan Israel.
-
Penutupan jalur laut ini berpotensi memutus distribusi minyak dunia dan melumpuhkan ekonomi global.
-
Ketegangan militer meningkat seiring rencana Amerika Serikat melakukan invasi darat ke wilayah Iran.
Otoritas Terusan Suez mencatat terjadi penurunan drastis jumlah armada yang melintas akibat konflik yang terus memanas.
Dari angka 26.000 kapal di tahun 2023, jumlahnya merosot tajam menjadi hanya 12.700 armada pada tahun 2025.
Houthi terus mengintensifkan serangan terhadap kapal-kapal yang dianggap memiliki keterkaitan dengan pihak sekutu Barat dan Israel.
Tindakan militer ini diklaim sebagai bentuk nyata pembelaan mereka terhadap perjuangan masyarakat di wilayah Palestina.
Selain menjadi jalur ekonomi, kawasan ini juga merupakan salah satu lokasi dengan konsentrasi militer tertinggi.
Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Prancis telah lama memiliki basis militer utama di Djibouti.
Bahkan China juga ikut menempatkan kekuatan militernya di sana sejak tahun 2017 sebagai basis luar negeri.
Pihak Teheran sendiri memberikan peringatan keras akan membuka front pertempuran baru jika wilayah mereka diserang.
Seorang pejabat militer Iran menyampaikan potensi ancaman ini melalui kantor berita semi-resmi milik pemerintah, Tasnim.
Baca Juga: Hacker Iran Retas Email Bos FBI Kash Patel, AS Gelar Sayembara Rp157 Miliar
Pihak Iran merasa memiliki kekuatan penuh untuk menciptakan gangguan yang kredibel di Selat Bab Al Mandab.
Penutupan Selat Hormuz sebelumnya sudah terbukti membuat harga minyak dunia melambung tinggi melewati angka normal.
Krisis energi ini menjadi momok menakutkan karena Selat Hormuz menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia.
Di sisi lain, laporan internal menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan opsi serangan darat.
Sasaran utamanya dikabarkan adalah Pulau Kharg guna memaksa pihak Iran kembali membuka akses Selat Hormuz.
Langkah ini dianggap sangat berisiko karena bisa memicu kehancuran infrastruktur energi yang sangat fatal bagi Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
Pilihan
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
-
1 Prajurit TNI di Lebanon Gugur Dibom Israel, 3 Lainnya Luka-luka
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
Terkini
-
'Brownis Jaksa' Jadi Sorotan, Kejagung Bantah Intimidasi Amsal Sitepu: Itu Program Humanis
-
Dinyatakan Hilang Misterius, Pak Tam Ditemukan di Mekkah
-
Tutup Pintu Damai, Pelapor Ijazah Palsu Jokowi Minta Roy Suryo dan Dokter Tifa Segera Ditahan
-
Iran Terapkan Rezim Navigasi Baru di Selat Hormuz, Kapal Wajib Bayar Tarif Transit
-
Kasus Teror Air Keras Andrie Yunus: Komnas HAM Incar Keterangan TNI Usai Periksa Polda
-
600 Ribu Lahan Sawah Beralihfungsi, Pemerintah Susun RPP untuk Atur Sanksi Denda
-
WFH untuk Hemat BBM di Tengah Krisis Energi, Solusi Efektif atau Hanya Sementara?
-
Tak Hanya Energi, Eropa Kini Dilanda Krisis Cokelat KitKat
-
Pelapor Ijazah Jokowi Minta Usut Pendana Isu, Desak Polisi Tindak Roy Suryo dan Dokter Tifa
-
Satu Prajurit Gugur di Lebanon, Mabes TNI Belum Bisa Pastikan Pelaku Serangan