-
Paus Leo XIV menegaskan bahwa Yesus menolak perang dan tidak mendengar doa pembuat konflik.
-
Gedung Putih membalas dengan membela tradisi doa militer berdasarkan nilai sejarah Amerika Serikat.
-
Konflik ideologi muncul antara pesan damai Vatikan dengan kebijakan militer Washington saat ini.
Isinya sangat lugas mengenai ketidakmauan Tuhan mendengarkan mereka yang terlibat dalam pertumpahan darah manusia secara sengaja.
"Yesus tidak mendengarkan doa orang-orang yang memicu perang, tetapi menolaknya, dengan mengatakan, 'sekalipun kamu banyak berdoa, Aku tidak akan mendengarkan, tanganmu penuh darah,'" ujar Paus Leo XIV.
Kutipan tersebut menjadi tamparan keras bagi negara-negara yang sedang menggerakkan mesin perang mereka saat ini.
Pesan ini menyebar dengan cepat dan memicu perdebatan luas di kalangan diplomat serta pengamat politik.
Tidak butuh waktu lama bagi pemerintah Amerika Serikat untuk merespons pernyataan dari pemimpin tertinggi Vatikan tersebut.
Melalui juru bicara resminya pihak Washington berusaha membela tradisi dan fondasi spiritual bangsa mereka sendiri.
Mereka merasa bahwa aktivitas religius dalam militer adalah bagian integral dari sejarah panjang negara Paman Sam.
Amerika Serikat memandang bahwa doa bagi tentara adalah hal yang mulia dan patut untuk terus dilakukan.
Klarifikasi ini bertujuan untuk menjaga moral pasukan yang sedang bertugas di berbagai zona konflik luar negeri.
Baca Juga: Habib Rizieq Shihab: Umat Islam Sunni dan Syiah Harus Bersatu Lawan AS-Israel
Karoline Leavitt selaku juru bicara Gedung Putih memberikan argumentasi mengenai akar sejarah berdirinya negara Amerika Serikat.
Ia menekankan bahwa keterikatan antara kepemimpinan politik dan nilai agama sudah terjalin selama berabad-abad di sana.
Bagi mereka doa merupakan sumber kekuatan bagi para pemimpin saat menghadapi situasi nasional yang sangat sulit.
Sejarah mencatat banyak tokoh besar Amerika yang selalu menyertakan ritual ibadah dalam setiap pengambilan keputusan penting.
Lebih lanjut pihak pemerintah Amerika Serikat menyatakan tidak ada kesalahan moral dalam mengajak rakyat berdoa bersama.
Mereka meyakini bahwa dukungan spiritual sangat dibutuhkan oleh para personel yang mempertaruhkan nyawa di medan laga.
Pernyataan ini menunjukkan perbedaan perspektif yang sangat kontras antara otoritas keagamaan Vatikan dan otoritas politik Washington.
Satu pihak menekankan pada penolakan perang secara total sementara pihak lain fokus pada perlindungan spiritual tentara.
Paus Leo XIV juga sempat mengulas kembali peristiwa sejarah menjelang penyaliban Yesus sebagai pelajaran bagi dunia.
Beliau mengisahkan bagaimana Yesus melarang pengikut-Nya melakukan serangan fisik meski dalam keadaan terdesak oleh musuh.
Tindakan Yesus yang menegur murid-Nya karena menggunakan pedang dipandang sebagai bukti nyata penolakan terhadap aksi kekerasan.
Kisah ini digunakan untuk menggambarkan wajah Tuhan yang penuh kasih dan sama sekali jauh dari kekejaman.
Vatikan ingin dunia melihat bahwa kekuatan sejati terletak pada pengorbanan dan cinta kasih bukan pada senjata.
Menurut pandangan Paus Leo XIV keselamatan sejati tidak dicapai melalui kemenangan militer atau penghancuran kekuatan lawan.
Beliau menutup pesannya dengan menggambarkan kerelaan Yesus dalam menanggung penderitaan tanpa memberikan perlawanan fisik yang melukai.
Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh pemimpin dunia bahwa perdamaian memerlukan keberanian untuk meletakkan senjata.
Debat antara keyakinan agama dan kepentingan politik negara ini diprediksi akan terus berlanjut seiring dinamika perang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
-
Selain 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Wajib Bayar Uang Pengganti Rp809,59 Miliar
-
Nadiem Makarim Divonis 10 Tahun Penjara!
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
Terkini
-
Prabowo Beri Kenaikan Pangkat Kehormatan untuk Purnawirawan Polisi, Termasuk Mantan Ajudan Soekarno
-
Lalu Lintas Tol Jakarta Pagi Ini Semrawut, Kecelakaan Beruntun hingga Contraflow Picu Kemacetan
-
Prabowo Beri Hormat ke Jokowi di HUT ke-80 Bhayangkara
-
Viral Mahasiswa Unisa Yogya Diduga Kenakan Busana Perempuan dan Masuk Toilet Mahasiswi
-
LPDB Koperasi Terapkan Zero Tolerance Pungli dan Penipuan, Pelanggaran Diproses Tegas Secara Hukum
-
Transportasi Jerman Lumpuh Akibat Gelombang Panas, Jalan Tol Retak-retak
-
Aset Ketum Pemuda Pancasila Disita KPK, Diduga Berkaitan dengan Gratifikasi Korupsi Batu Bara
-
Italia Siaga Gelombang Panas, 4 Orang Sudah Jadi Korban Tewas
-
Di Tengah Gejolak Global, Jawa Tengah Tetap Jadi Magnet Investasi
-
Panas Lagi, Iran Ancam Kembali Tutup Selat Hormuz