- Anggota Komisi III DPR RI Safaruddin menegur keras petinggi Polri dalam rapat di Jakarta pada Kamis, 2 April 2026.
- Safaruddin menyoroti rendahnya honorarium pendidik serta mendesak peningkatan anggaran guna memperbaiki kualitas pendidikan dan kesejahteraan di Lemdiklat Polri.
- Politisi PDIP tersebut mengkritik sistem rekrutmen yang diduga bermasalah serta praktik mutasi anggota bermasalah ke lingkungan lembaga pendidikan.
Suara.com - Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDIP, Irjen (Purn) Safaruddin, meluapkan kegeramannya saat mengetahui rendahnya honorarium bagi tenaga pendidik atau guru di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Hal itu terjadi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPR RI bersama Kalemdiklat dan Gubernur Akpol di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Dalam rapat, Safaruddin menegur keras para jenderal polisi yang hadir karena dinilai meremehkan persoalan kesejahteraan di lembaga pendidikan.
Rapat tersebut dihadiri oleh Plt Kalemdiklat Polri Irjen Andi Rian Djajadi dan Gubernur Akpol Irjen Daniel Tahi Monang Silitonga.
"Gajinya berapa tadi? 1 jam kalau ngajar itu Rp 100 ribu. Rp 5 juta kek 1 jam gitu. Loh, loh jangan ketawa Anda. Anda mendidik polisi, loh," tegas Safaruddin saat melihat respons para jenderal dalam rapat tersebut.
Eks Kapolda Kalimantan Timur ini menekankan bahwa Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri merupakan garda terdepan dalam membentuk karakter anggota.
Ia memperingatkan bahwa Lemdiklat harus bertanggung jawab jika di kemudian hari ditemukan anggota polisi yang justru menjadi pelaku kejahatan, seperti bandar narkoba.
"Anda harus bertanggung jawab ketika polisi salah. Dari memberantas narkoba jadi bandar narkoba. Anda yang tanggung jawab, Kalemdiklat. Tapi harus anggarannya ditinggikan," katanya.
Safaruddin menilai kasus-kasus polisi yang terlibat narkoba adalah bukti dari proses rekrutmen dan pendidikan yang tidak tuntas.
Baca Juga: Bukan Hanya TNI, Legislator PDIP: Kasus Andrie Yunus Bisa Berkembang, Mungkin Pihak Sipil Terlibat
"Harusnya memberantas narkoba, jadi bandar narkoba. Ini pendidikan yang tidak tuntas, rekrutmennya yang salah masuk ke lembaga pendidikan," ucapnya.
Lebih lanjut, Safaruddin mengkritisi kualitas rekrutmen Polri setelah menemukan adanya kasus taruni Akpol yang mengalami stroke serta adanya taruna yang dikeluarkan karena perilaku menyimpang.
Ia mencurigai adanya praktik "titipan" atau pembayaran dalam proses seleksi.
"Saya lihat Akpol ini ada yang dikeluarkan satu orang ya, perilaku menyimpang. Ada juga yang stroke, taruni stroke. Harusnya ini tidak terjadi. Berarti rekrutmennya yang salah. Rekrutmennya yang salah. Bayar atau titipan? Bayar atau titipan? Sehingga Lemdiklat ini memproses itu tidak memenuhi standar kesehatan," katanya.
Safaruddin juga membongkar rahasia umum di internal Polri, di mana anggota yang bermasalah di satuan fungsi lain seperti Reserse atau Lalu Lintas seringkali dimutasi ke Lemdiklat sebagai hukuman.
Hal ini dinilainya justru merusak kualitas pendidikan karena tenaga pendidiknya tidak fokus mengajar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Kapal Misi Kemanusiaan Ditahan Israel, Kemlu RI Tuntut Pembebasan Seluruh Awak
-
Tentara Israel Tangkap 9 WNI, GPCI Lapor MPR Desak Pemerintah Bertindak
-
5 WNI Termasuk Jurnalis Ditangkap Israel, TB Hasanuddin: Negara Harus Gerak Cepat!
-
Pengembangan Kasus Korupsi Bupati Ponorogo, KPK Geledah Rumah Pengusaha di Pacitan
-
Kunjungan Wisata Naik 12,5 Persen, Surabaya Vaganza 2026 Dongkrak Ekonomi dan Pariwisata
-
Tanpa 'Woro-woro', Pramono Anung Pindahkan Pedagang Taman Puring demi Fasilitas Difabel
-
Hanya 20 Hari Jadi Menag Ad Interim, Muhadjir Effendy Dicecar KPK Soal Alokasi Kuota Haji
-
Rumah Ahmad Bahar Didatangi Massa Ormas GRIB Jaya Gegara Konten Kritik Hercules, Ini 8 Faktanya!
-
Adik Kandung Presiden Irlandia Ikut Ditangkap Tentara Israel di Global Sumud Flotilla
-
Dari Tong Sampah ke Turbin Listrik, Jakarta Harus Belajar Kelola Limbah dari Kopenhagen