-
Donald Trump mengancam menghancurkan jembatan dan listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka.
-
Pejabat Iran Saeed Jalili menilai ocehan Trump justru mengungkap wajah asli dari Amerika.
-
Ultimatum perang Amerika Serikat terhadap Iran dijadwalkan berakhir pada Selasa malam waktu setempat.
Suara.com - Perang antara Teheran dan Washington mencapai titik didih baru setelah munculnya berbagai pernyataan provokatif.
Saeed Jalili yang merupakan Anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran memberikan respons menohok terhadap sikap Donald Trump.
Pihak Iran secara terbuka menganggap bahwa pemimpin Amerika Serikat tersebut terlalu banyak bicara di ruang publik.
Jalili beranggapan bahwa mendiamkan setiap ucapan Trump bukanlah sebuah langkah diplomasi yang memberikan keuntungan bagi Iran.
Ia justru menyarankan agar publik membiarkan pemimpin berusia 79 tahun tersebut terus melontarkan pernyataan kontroversialnya.
Langkah ini diambil karena setiap ucapan sang presiden dianggap mampu membongkar jati diri Amerika yang sebenarnya.
Melalui media sosial X, Jalili secara tegas menyatakan pandangannya terkait retorika yang berkembang di Gedung Putih.
"'Diam saja' bukan respons yang tepat terhadap ocehan Trump; biarkan dia berbicara lebih banyak," tulis Jalili dalam unggahan di X dikutip dari CNN Internasional.
Hal ini menjadi strategi serangan balik secara verbal yang dilakukan oleh pejabat tinggi di pemerintahan Iran.
Baca Juga: Penampakan Puing Pesawat C-130 AS yang Ditembak Jatuh Polisi Iran, Pilotnya Perempuan
Menurutnya, tidak ada cara yang lebih baik untuk melihat sisi lain Washington selain mendengarkan ucapan Trump.
"Tidak ada yang lebih efektif dalam memperlihatkan wajah asli Amerika Serikat selain luapan pernyataan Trump," tambahnya.
Ejekan tajam tersebut muncul sebagai reaksi atas pernyataan Donald Trump saat melakukan konferensi pers baru-baru ini.
Di hadapan media, Trump mengeluarkan ancaman yang sangat ekstrem yakni ingin menyapu bersih Iran hanya semalam.
Gedung Putih memberikan tekanan luar biasa agar Iran bersedia melakukan negosiasi gencatan senjata sesegera mungkin.
Amerika juga menuntut agar jalur perdagangan vital di Selat Hormuz kembali dibuka tanpa syarat apa pun.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik