News / Internasional
Selasa, 07 April 2026 | 12:24 WIB
Fasilitas nuklir Iran (CNN)
Baca 10 detik
  • Israel menargetkan ilmuwan dan akademisi untuk melumpuhkan total ekosistem pengetahuan nuklir Iran.

  • Iran memiliki 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen di lokasi bawah tanah.

  • Pakar memperingatkan Iran tetap mampu membangun bom nuklir dalam dua tahun pasca perang berakhir.

Suara.com - Kematian Mohammad Reza Kia di kawasan pegunungan Asara menjadi simbol babak baru operasi pembersihan intelektual nuklir Iran.

Peti mati kandidat doktor Teknik Nuklir Amirkabir University ini diiringi duka mendalam saat dimakamkan di provinsi utara.

Meskipun informasi detail kematiannya sangat tertutup, ibunda Kia telah mengonfirmasi bahwa sang putra gugur dalam sebuah serangan.

Langkah ekstrem ini menunjukkan ambisi besar Amerika Serikat dan Israel untuk memutus tuntas akses Teheran terhadap senjata pemusnah.

Para sekutu berupaya memastikan bahwa pasca konflik berakhir, kemampuan Iran untuk mempersenjatai program nuklirnya benar-benar musnah total.

Selama puluhan tahun, Iran telah membangun ekosistem ilmu pengetahuan yang sangat kuat mencakup universitas dan mesin canggih.

Infrastruktur ini meliputi pengolahan uranium domestik hingga penggunaan sentrifugal modern yang mampu memperkaya stok nuklir secara cepat.

Pihak keamanan Israel secara terang-terangan menyatakan bahwa seluruh elemen pendukung tersebut kini berada dalam daftar target utama.

“Setiap link dalam rantai produksi nuklir adalah target – dari basis pengetahuan hingga lantai produksi. Tujuannya adalah untuk memutus semua akar,” seorang sumber keamanan Israel mengatakan kepada CNN.

Baca Juga: Viral! Wanita Israel Terhempas Ledakan Rudal, Ajaib Masih Bisa Bangkit dan Berjalan

“Dari orang-orang yang bekerja di laboratorium hingga pabrik yang memproduksi komponen untuk laboratorium tersebut.”

Beberapa hari setelah pemakaman Kia, serangan udara menghantam gedung yang menewaskan Ali Fouladvand beserta delapan orang lainnya.

Fouladvand dikenal sebagai ilmuwan riset di organisasi SPND yang dituding Barat sebagai kedok pengembangan senjata nuklir rahasia.

Organisasi ini sebelumnya dipimpin oleh Mohsen Fakhrizadeh yang tewas terbunuh enam tahun lalu dalam operasi intelijen tingkat tinggi.

Ketua SPND saat ini, Jabal Amelian, juga telah tewas pada serangan awal Februari, menyisakan lubang besar dalam kepemimpinan riset.

Serangan ini membuktikan bahwa Israel tidak hanya menyasar fasilitas fisik, tetapi juga kapasitas intelektual yang sulit untuk digantikan.

Sejak Juni 2025, taktik Israel semakin agresif dengan menargetkan petinggi pasukan kedirgantaraan yang bertanggung jawab atas kemampuan rudal.

Lebih dari selusin profesor ternama, termasuk fisikawan Mohammad Mehdi Tehranchi, telah menjadi sasaran dalam kampanye degradasi pengetahuan ini.

Sektor industri non-militer seperti pabrik besi dan baja kini juga tidak luput dari gempuran karena dianggap membantu rekonstruksi.

“Israel menyerang setiap tahap proses produksi – termasuk pabrik besi dan baja yang bukan merupakan bagian langsung dari industri militer namun pada akhirnya dapat berkontribusi pada pembangunan kembali proses produksi,” kata sumber tersebut.

Hal ini dilakukan untuk merusak rantai pasok kompleks yang dibutuhkan guna memelihara stabilitas program nuklir jangka panjang.

Di tengah gempuran, Barat tetap waspada terhadap penggunaan perusahaan bayangan oleh Iran untuk mendapatkan teknologi penggunaan ganda.

Meskipun intelijen AS belum melihat bukti instruksi pembuatan bom, posisi Iran sebagai negara ambang nuklir memberi mereka daya tawar.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyoroti aktivitas pengayaan uranium Iran yang telah mencapai level sangat tinggi secara tidak wajar.

“Iran adalah satu-satunya negara di dunia tanpa senjata nuklir yang memproduksi uranium yang diperkaya hingga 60 persen dan terus menggunakan perusahaan depan dan agen pengadaan untuk mengaburkan upayanya memperoleh barang-barang penggunaan ganda dari pemasok asing,” kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Keputusan Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 memicu Iran mempercepat pengayaan hingga memiliki stok lebih dari 400 kilogram.

Lokasi penyimpanan ratusan kilogram uranium yang diperkaya kini menjadi teka-teki besar bagi badan pengawas nuklir internasional atau IAEA.

Rafael Grossi menyatakan bahwa material berbahaya tersebut kemungkinan besar berada di wilayah Isfahan dan berpotensi untuk dipindahkan sewaktu-waktu.

Donald Trump mengklaim serangan udara telah menghancurkan situs nuklir Iran hingga tidak mungkin bisa dipulihkan dalam waktu dekat.

“Situs nuklir yang kami hancurkan… telah dihantam begitu keras sehingga butuh waktu berbulan-bulan untuk mendekati debu nuklirnya,” kata Trump.

Presiden AS tersebut juga menambahkan bahwa dirinya tidak terlalu khawatir karena material tersebut terkubur sangat dalam di bawah tanah.

Sebelum konflik pecah di bulan Februari, Teheran sempat menawarkan konsesi besar berupa pengenceran stok uranium mereka ke Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa tawaran tersebut adalah bukti bahwa negaranya tidak berniat menciptakan senjata atom.

“Itu adalah tawaran besar, konsesi besar untuk membuktikan bahwa Iran tidak pernah menginginkan senjata nuklir dan tidak akan pernah menginginkannya,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada CBS.

Namun, pakar nuklir Nicole Grajewski menilai Iran masih memiliki kemampuan teknis untuk membuat bom jenis 'gun-type' yang sederhana.

Semua infrastruktur dan stok yang ada saat ini dianggap sudah lebih dari cukup jika ada kemauan politik untuk mempersenjatai diri.

Banyak ahli memperingatkan bahwa perang yang terjadi saat ini mungkin hanya menunda ambisi nuklir Iran namun tidak mematikannya.

Jika perang berakhir tanpa solusi permanen, Iran secara teoritis mampu memulai upaya persenjataan kilat dalam kurun waktu singkat.

“Iran masih bisa membuat senjata nuklir, ini hanya masalah kemauan politik,” kata Grajewski.

“Jika perang berhenti, Iran secara teoritis dapat memulai upaya cepat untuk persenjataan dalam satu hingga dua tahun.”

Oleh karena itu, Israel terus menekan seluruh sektor pendukung nuklir Iran agar benar-benar hancur dari akarnya tanpa sisa.

Load More