- Pemuda Iran membentuk rantai manusia pada Selasa (7/4/2026) untuk melindungi pembangkit listrik dari rencana pengeboman militer Amerika Serikat.
- Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika tuntutan pembukaan kembali Selat Hormuz tidak segera dipenuhi.
- Aksi defensif tersebut menjadi simbol persatuan nasional Iran dalam mempertahankan kedaulatan infrastruktur negara dari ancaman serangan militer asing.
Suara.com - Pemuda dan pemudi Republik Islam Iran menyatakan siap mengorbankan diri untuk melindungi pembangkit-pembangkit listrik seluruh negerinya, yang hendak dibom oleh Amerika Serikat, Rabu (8/4) besok.
Hal itu diungkap oleh Kementerian Olahraga dan Pemuda Iran melalui video yang dirilis Senin (6/4). Sementara, berdasarkan ancaman Presiden AS Donald Trump, militer agresor akan mengebom pembangkit listrik hingga fasilitas vital sipil Iran lainnya pada Selasa, sekitar Pukul 16.00 waktu setempat.
Alireza Rahimi, Deputi Urusan Pemuda Iran, mengungkapkan pemerintah mendukung inisiatif masyarakat sipil tersebut.
"Aksi ini terbentuk atas saran dari para pemuda itu sendiri. Sejumlah pemuda universitas, seniman muda, dan organisasi kepemudaan mengusulkan agar kami membentuk tameng manusia atau rantai manusia di sekitar pembangkit listrik negara," ujar Rahimi, dikutip dari WIONews.com.
Kampanye ini diberi nama resmi "Rantai Manusia Pemuda Iran untuk Masa Depan Cerah".
Menurut Rahimi, gerakan ini bukan sekadar tindakan defensif, melainkan simbol persatuan dan ketangguhan bangsa Iran di bawah tekanan militer asing.
Ia menekankan pentingnya peran pemuda dalam menjaga kedaulatan infrastruktur negara yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
"Kami berharap dengan partisipasi kaum muda di seluruh negeri, rantai manusia ini akan terbentuk di sekitar pembangkit listrik, dan itu akan menjadi tanda komitmen kaum muda untuk melindungi infrastruktur negara dan membangun masa depan yang cerah," kata dia.
Ultimatum Keras Donald Trump
Baca Juga: Selat Hormuz Tak Lagi Sama: IRGC Umumkan 'Tatanan Baru' yang Mengancam AS dan Israel
Langkah nekat Teheran ini merupakan respons langsung terhadap gertakan Donald Trump yang semakin eksplisit.
Trump telah menetapkan batas waktu pukul 20.00 waktu bagian Timur (Eastern Time) bagi Iran, atau sekitar Pukul 03.30 waktu setempat, untuk membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.
Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, Trump mengancam akan melancarkan serangan militer besar-besaran yang bersifat melumpuhkan.
Dalam konferensi pers yang digelar Senin, Trump mengungkapkan bahwa militer AS telah menyiapkan rencana perang kilat, yang mampu menghancurkan setiap jembatan dan melumpuhkan seluruh pembangkit listrik di Iran hanya dalam jendela waktu empat jam.
"Penghancuran total pada jam 12 malam," tegas Trump, seraya menambahkan bahwa hal itu akan terjadi "jika kami menginginkannya."
Trump, dengan gaya bicaranya yang lugas, memamerkan kekuatan militer AS sebagai instrumen untuk memberikan tekanan maksimal kepada rezim Iran.
Berita Terkait
-
Selat Hormuz Tak Lagi Sama: IRGC Umumkan 'Tatanan Baru' yang Mengancam AS dan Israel
-
Memo Rahasia: Ayatollah Mojtaba Khamenei Kritis, Koma, Dirawat di Qom
-
Mengapa Perang Iran Membuat Harga Plastik Naik di Asia?
-
Trump Ingin AS Pungut Tarif Kapal di Selat Hormuz, Geser Dominasi Iran di Jalur Minyak Dunia
-
Donald Trump Terancam Jadi Penjahat Perang Jika Hancurkan Infrastruktur Sipil Iran
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan
-
22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing
-
Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
Prabowo Tak Main-Main! Bidik 4 Korporasi di Balik Karhutla Kalimantan, Izin Bakal Dicabut