- Peneliti BRIN, Deni Swantomo, mengembangkan teknologi plasma untuk memproduksi amonia yang lebih hemat energi dibanding proses konvensional.
- Metode plasma beroperasi pada suhu ruang tanpa hidrogen tambahan untuk menghasilkan amonia secara efisien dalam skala laboratorium.
- Hasil penelitian menunjukkan penggunaan air deionisasi pada parameter optimal berhasil memproduksi amonia dengan cara yang lebih berkelanjutan.
Suara.com - Produksi amonia untuk pupuk hingga kini masih bergantung pada proses Haber–Bosch yang membutuhkan energi besar dan menghasilkan emisi karbon tinggi. Ketergantungan ini membuat produksi pupuk belum efisien sekaligus menyulitkan upaya transisi ke sistem yang lebih ramah lingkungan.
Di tengah tantangan tersebut, Dosen sekaligus Peneliti dari Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Deni Swantomo, mengembangkan pendekatan alternatif dalam menciptakan pupuk nitrogen yang lebih hemat energi.
Dalam keterangannya di Jakarta, Deni menjelaskan bahwa dirinya bersama tim memanfaatkan teknologi Dielectric Barrier Discharge (DBD) plasma untuk memproduksi amonia langsung dari air dan gas nitrogen.
“Berbeda dengan metode konvensional, sistem ini dapat beroperasi pada suhu dan tekanan ruang, tanpa memerlukan kondisi ekstrem maupun tambahan gas hidrogen,” ujarnya.
Ia memaparkan, gas nitrogen yang dialirkan dan diberi energi listrik akan membentuk plasma yang menghasilkan spesies nitrogen reaktif. Plasma tersebut kemudian berinteraksi dengan air, memecah molekulnya menjadi radikal hidrogen dan hidroksil, yang selanjutnya bereaksi membentuk amonia.
Dalam penelitian ini, tim menguji berbagai parameter seperti laju aliran nitrogen, daya listrik, jarak elektroda, jenis air, serta tingkat keasaman. Hasil optimal diperoleh pada laju aliran nitrogen 1,4 liter per menit, daya 75 watt, dan jarak elektroda 1 sentimeter, menggunakan air deionisasi dengan pH sekitar 5.
Pada kondisi tersebut, konsentrasi amonia mencapai 19,7 parts per million (ppm) dalam waktu 30 menit. Deni menyebut penggunaan air deionisasi menghasilkan amonia lebih tinggi dibanding air keran karena minim kandungan mineral yang dapat memicu reaksi samping.
“Penggunaan air dengan tingkat kemurnian tinggi memberikan hasil yang lebih optimal. Sebaliknya, paparan sinar UV justru menurunkan konsentrasi amonia karena memicu penguraian kembali,” jelasnya.
Secara keseluruhan, riset ini menunjukkan bahwa teknologi DBD plasma dapat menjadi alternatif produksi amonia tanpa katalis mahal, tanpa proses kompleks, serta tanpa tambahan gas hidrogen.
Baca Juga: Imbas Konflik Timur Tengah, Pasokan Bahan Baku Pupuk Kimia Berpotensi Terancam
Meski begitu, Deni mengakui teknologi ini masih dalam tahap laboratorium dan belum mampu menyamai skala produksi industri. Ke depan, pengembangan lebih lanjut diperlukan agar inovasi ini bisa diterapkan secara luas.
“Pendekatan ini membuka peluang produksi pupuk yang lebih berkelanjutan dan hemat energi, dengan sistem yang relatif sederhana,” kata Deni.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
Terkini
-
Indonesia Lebih Dulu, Kenapa Donald Trump Pilih Pakistan Jadi Mediator Damai?
-
Iran Endus Rencana Licik AS: Curiga Sabotase Perundingan dan Jadikan Israel Tameng
-
Gencatan Senjata Terancam Batal, Iran Bersumpah Bakal Hanguskan Seluruh Aset AS di Timur Tengah
-
Netanyahu Siap Negosiasi Langsung dengan Lebanon Usai Serangan Maut
-
Dinilai Lebih Hemat, Bisakah Energi Surya Gantikan PLTD dan Kurangi Impor BBM?
-
Hilang 2 Hari, Mobil Boks Curian Tiba-Tiba Muncul Terparkir di Jalan S Parman
-
Ramai Polemik Blokir Komdigi: Magdalene dan Kritik Warganet Dibungkam?
-
Menlu Iran Peringatkan Amerika Serikat Jangan Mau Jadi Pion Benjamin Netanyahu
-
KPI Dorong Perempuan Jadi Pengawas Kebijakan Publik, Bukan Sekadar Partisipan
-
Skandal 'Foto Palsu' di Laporan JAKI Terbongkar, Dishub Jaksel Janji Evaluasi Integritas Jajaran