News / Nasional
Jum'at, 10 April 2026 | 14:48 WIB
Pakar Geopolitik Timur Tengah, Dina Sulaeman. [YouTube]
Baca 10 detik
  • Pakar Geopolitik Dina Sulaeman menilai strategi Amerika Serikat menargetkan pemimpin Iran sebagai kesalahan fatal yang gagal total.
  • Iran menerapkan doktrin pertahanan mozaik dengan mendesentralisasikan sistem militer dan infrastruktur vital ke seluruh 31 provinsi negara tersebut.
  • Ideologi perlawanan terhadap penindasan global menjadi landasan kuat bagi Iran dalam membela Palestina serta menjaga ketahanan nasionalnya.

Suara.com - Strategi Barat, khususnya Amerika Serikat (AS), yang mencoba melumpuhkan Iran dengan menargetkan pucuk pimpinan tertingginya dinilai sebagai sebuah kegagalan fatal.

Pakar Geopolitik Timur Tengah, Dina Sulaeman, mengungkapkan bahwa Iran memiliki sistem pertahanan unik yang membuat negara tersebut mustahil runtuh hanya dengan serangan personal.

Dina meluruskan persepsi publik mengenai identitas pemimpin Iran yang menjadi sasaran serangan.

Ia menegaskan bahwa yang menjadi target adalah sang Pemimpin Agung (supreme leader), sosok yang secara sistemik dilindungi oleh struktur kenegaraan yang sangat kokoh.

“Kalau saya melihatnya tuh berbeda ya dari sisi ini. Bahwa pimpinan-pimpinan Iran sebenarnya yang terbunuh itu kan Supreme Leader ya bukan presiden yang Ayatullah Ali Khamenei supreme leader-nya. Iran itu dia itu demokrasi sebenarnya Republik Islam Iran,” ujar Dina dalam kanal Youtube Bambang Widjojanto, Jumat (10/4/2026).

Dina menjelaskan bahwa posisi Supreme Leader dipilih secara demokratis oleh dewan berisi 88 ulama pilihan rakyat. AS dianggap salah besar jika mengira kematian satu tokoh akan menghancurkan seluruh sistem pemerintahan.

“Nah itu yang kesalahan strateginya Amerika itu mengira bahwa kalau Supreme Leader yang dibunuh itu di bawah itu hancur. Karena memang framing selama ini adalah si Supreme Leader, si ulama itu adalah seorang yang betul-betul menguasai Iran semuanya. Kata-katanya itu dituruti 100% dan dia punya apa ya istilahnya kekuasaan tanpa batas. Padahal tidak semua posisi itu ada batasan-batasannya, ada diatur di undang-undang,” jelasnya.

Analogi Hydra: Dipenggal Satu, Tumbuh Seribu

Mengutip pengakuan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Dina lalu membedah strategi yang disebut "Doktrin Pertahanan Mozaik". Strategi ini mengubah Iran menjadi sosok "Hydra" dalam mitologi Yunani—makhluk yang tak bisa mati meski kepalanya dipenggal.

Baca Juga: Indonesia Lebih Dulu, Kenapa Donald Trump Pilih Pakistan Jadi Mediator Damai?

“Itu kan diakui oleh siapa ini Menlu-nya Iran yang Abbas Araghchi, itu dia bilang ya Anda tuh salah karena mengira dengan yang di atas dibunuh di bawah hancur. Kami itu punya strategi pertahanan yang disebut doktrin pertahanan mozaik. Artinya kayak puzzle gitu. Ada 31 provinsi di Iran masing-masing tuh punya komando militer sendiri-sendiri,” ungkap Dina.

Kekuatan "Mozaik" ini tidak hanya berhenti di sektor militer. Iran secara cerdik telah mendesentralisasikan seluruh infrastruktur vitalnya. Artinya, meski pusat kota seperti Teheran dihujani bom, kehidupan di 31 provinsi lainnya tetap bisa berjalan normal.

“Jadi kalau power plant 1 di Teheran kan memang betul dibom juga, yang lain masih jalan karena power plant-nya ada disebar, desalinasi airnya, produsen airnya itu juga disebar sehingga ketahanannya cuma bukan hanya ketahanan senjata tapi ketahanan listrik, ketahanan air pangan itu sudah dipersiapkan sedemikian,” tambahnya.

Ideologi ‘Mustadhafin’ di Balik Dukungan Palestina

Lebih jauh, Dina menilai ketahanan nasional Iran berakar pada ideologi perlawanan yang tertanam sejak Revolusi 1979. Rakyat Iran telah menyepakati visi besar untuk melawan segala bentuk penindasan global.

“Dalam undang-undang itu sudah ada kata-kata yang jelas eksplisit. Kita tuh melawan imperialisme dan kita melawan para opresor istilahnya mustakbirin, orang-orang yang arogan demi membela orang-orang yang mustadhafin yang ditindas. Artinya sejak awal memang dibangun visi besar kita harus melawan para penindas dunia ini,” paparnya.

Load More