- Save the Children Indonesia menyatakan budaya kekerasan terhadap anak sering diwariskan lintas generasi melalui pola pengasuhan orang tua.
- Hasil survei 2024 menunjukkan pergeseran tren di mana kekerasan antar teman sebaya kini lebih mendominasi dibandingkan orang dewasa.
- Siti Nur Andini menekankan pentingnya hubungan reflektif antara orang tua dan anak untuk mencegah perilaku menyimpang di lingkungan sekolah.
Suara.com - Budaya kekerasan terhadap anak dinilai masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman di Indonesia.
Save the Children Indonesia mengungkap, praktik kekerasan dalam pengasuhan kerap diwariskan lintas generasi dan akhirnya terbawa hingga lingkungan pendidikan.
Direktur Senior Bidang Advokasi, Kampanye dan Hubungan Pemerintahan Save the Children Indonesia, Tata Sudrajat, mengatakan banyak orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak justru pernah mengalami hal serupa saat kecil.
“Dalam catatan Save the Children, 70 persen ayah yang melakukan pukulan seperti ini adalah pernah mengalami pukulan. Jadi sebenarnya ini menunjukkan satu warisan kekerasan,” kata Tata dalam seminar bertajuk Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
Menurut dia, pola kekerasan yang diwariskan tersebut kemudian melahirkan fenomena toxic parents yang tanpa sadar meneruskan pola pengasuhan kasar kepada anak-anak mereka.
Tata menegaskan perlindungan anak seharusnya menjadi gerakan bersama yang diterapkan di semua ruang kehidupan anak, mulai dari rumah, sekolah, hingga lingkungan sosial.
“Perlindungan anak itu juga bisa menjadi semacam mainstreaming, pengarusutamaan. Karena urusan ini ada untuk setiap anak dimanapun dia berada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kekerasan terhadap anak yang selama ini terlihat di publik sebenarnya hanya puncak gunung es.
Di balik kasus yang mencuat, terdapat persoalan budaya, pola pikir, hingga struktur sosial yang lebih besar.
Baca Juga: Jangan Diam, Hubungi Nomor Ini Jika Lihat Kekerasan Anak di Sekolah
Tata menyoroti masih adanya keyakinan bahwa kekerasan adalah cara efektif untuk mendisiplinkan anak. Bahkan, menurutnya, sebagian guru masih mempercayai pola tersebut.
“Di Timur kita pernah dengar ‘di ujung rotan ada emas’ karena menganggap dengan dipukuli itu begitu,” katanya.
Padahal, lanjut Tata, pendekatan kekerasan justru bisa memicu trauma berkepanjangan dan membentuk siklus kekerasan baru ketika anak tumbuh dewasa.
Dalam paparannya, Tata juga mengungkap hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024 menunjukkan adanya pergeseran pola kekerasan.
Jika sebelumnya dominan dilakukan orang dewasa, kini kekerasan antar teman sebaya justru menjadi yang paling banyak terjadi.
“Sekarang yang muncul di 2024 ini kekerasan antar teman yang paling banyak, bukan lagi dari orang dewasa. Media sosial menjadi salah satu pendorongnya,” ungkap dia.
Berita Terkait
-
Jangan Diam, Hubungi Nomor Ini Jika Lihat Kekerasan Anak di Sekolah
-
Miris! Ternyata Cuma 46 Persen Kasus Bullying di Sekolah yang Berhasil Tuntas
-
Mangkir Dua Kali, Polisi Bakal Jemput Paksa Terduga Pelaku Pemerkosa Siswi SLB Kalideres
-
Soroti Rentetan Kasus Kekerasan, Lukman Hakim Saifuddin: Kondisi Saat Ini Sangat Mencemaskan
-
Pesantren Dikepung Kekerasan Seksual, KUPI: SOP dan Bu Nyai Jadi Solusi Utama
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Jejak Rolex Bupati Pekalongan di INTime Senayan City, KPK Periksa Manajer Toko Irwan Mussry
-
Jangan Diam, Hubungi Nomor Ini Jika Lihat Kekerasan Anak di Sekolah
-
Miris! Ternyata Cuma 46 Persen Kasus Bullying di Sekolah yang Berhasil Tuntas
-
Noel Ogah Ucapkan Terima Kasih ke Pimpinan KPK: Muak, Licik Seperti Bocil
-
Bukan Hanya Islam, Indro Warkop Ajak Semua Agama Bersatu Bela Palestina
-
Tak Terima Dituduh Menyekap dan Todong Senjata, Hercules Laporkan Balik Putri Ahmad Bahar ke Polisi!
-
Kumpulkan Calon Jenderal di Bandung, Prabowo Beri Instruksi Strategis dalam Taklimatnya
-
Begal Urusan Polisi Bukan TNI! Koalisi Sipil Kritik Keras Watak 'Over-Reactive' Negara
-
SNBT 2026 Meledak! Nyaris 900 Ribu Orang Rebutan Kursi PTN, Masih Berani Bersaing?
-
Tok! Habiburokhman Pegang Kendali Panja Revisi UU Polri, Ini Daftar Lengkap Anggotanya