News / Internasional
Minggu, 12 April 2026 | 06:26 WIB
Serangan Israel ke Lebanon (Antara)
Baca 10 detik
  • Korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon telah melampaui angka dua ribu orang.

  • Hezbollah dan warga Beirut menolak keras rencana negosiasi damai langsung dengan pihak Israel.

  • Ketegangan militer terus berlanjut di Lebanon Selatan meski ada upaya diplomasi global.

Insiden ini membuktikan bahwa perlawanan di wilayah perbatasan masih sangat kuat meskipun gempuran udara terus masif.

Di tengah dentuman meriam, isu mengenai perundingan damai justru memicu gelombang penolakan di dalam negeri.

Hezbollah secara tegas menyatakan keberatan mereka terhadap rencana dialog langsung antara Lebanon dan pihak Israel.

Kantor Presiden Joseph Aoun sebelumnya sempat mengisyaratkan adanya pertemuan trilateral di Washington minggu depan.

Namun, anggota parlemen dari Hezbollah, Hassan Fadlallah, mengecam keras langkah diplomasi yang direncanakan tersebut.

Hassan Fadlallah mengatakan "keputusan untuk mengadakan pembicaraan langsung dengan Israel adalah pelanggaran nyata terhadap pakta nasional, konstitusi, dan hukum Lebanon."

Protes Massa di Beirut Menolak Normalisasi

Ratusan warga sipil turun ke jalanan ibu kota Beirut untuk menyuarakan protes terhadap wacana perdamaian tersebut.

Mereka berkumpul di pusat kota dengan membawa atribut perlawanan sebagai bentuk dukungan penuh bagi Hezbollah.

Baca Juga: Aksi Jumat untuk Palestina di depan Kedubes AS

Ruqaya Msheik, salah satu demonstran, menegaskan bahwa rakyat Lebanon tidak akan pernah tunduk pada kepentingan zionis.

Ruqaya Msheik mengatakan protes itu adalah pesan bahwa Lebanon "tidak akan menjadi milik Israel."

Lebih lanjut, ia menyatakan "siapa pun yang menginginkan perdamaian dengan Israel bukanlah orang Lebanon," seraya menambahkan "mereka yang bersalaman dengan musuh adalah Zionis."

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga memberikan syarat yang sangat berat bagi terwujudnya kesepakatan damai.

Ia menuntut adanya pelucutan senjata total dari kelompok Hezbollah sebagai jaminan keamanan bagi negaranya.

Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa setiap perjanjian damai yang dicapai dengan Lebanon harus "bertahan selama beberapa generasi" dan juga menyerukan pelucutan senjata Hezbollah.

Di sisi lain, ketidakpastian mengenai cakupan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perdebatan.

Washington dan Teheran berselisih pendapat apakah kesepakatan mereka juga mencakup penghentian pemboman di Lebanon.

Latar Belakang Konflik dan Dinamika Regional

Konflik terbuka ini dipicu oleh aksi saling serang di perbatasan yang dimulai sejak awal Maret 2024.

Hezbollah meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan Iran di kawasan tersebut.

Israel membalas aksi tersebut dengan operasi militer skala besar yang mencakup serangan udara dan invasi darat.

Laporan dari Islamabad menyebutkan bahwa Iran mengklaim telah mendapatkan jaminan dari AS untuk menekan agresi Israel.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan serangan tetap berlanjut meski intensitas di wilayah Beirut sedikit berkurang.

Load More