-
Pemuda Palestina bernama Ali Majed Hamadneh tewas ditembak pemukim Israel di Deir Jarir.
-
Serangan terjadi pasca persetujuan pembangunan 34 permukiman ilegal baru oleh pemerintah Israel.
-
Militer Israel dituding melindungi aksi kekerasan pemukim yang semakin meningkat di Tepi Barat.
Keadaan ini menciptakan pola impunitas di mana pelaku kekerasan jarang sekali mendapatkan konsekuensi hukum yang setimpal.
Tragedi ini meletus hanya berselang dua hari setelah Israel meresmikan pembangunan 34 titik permukiman baru.
Langkah provokatif tersebut langsung menuai kecaman keras dari Uni Eropa serta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Otoritas Palestina menegaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan pelanggaran fatal terhadap hukum internasional yang berlaku secara global.
Di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu, pembangunan permukiman ilegal tercatat mengalami lonjakan yang sangat drastis sejak 2022.
Setidaknya 102 permukiman baru telah disetujui, jumlah yang jauh melampaui rekor pemerintahan-pemerintahan Israel sebelumnya.
Kritik Internal dan Tekanan Internasional
Meskipun semua permukiman tersebut dianggap ilegal oleh dunia, pembangunan terus berjalan tanpa memedulikan protes diplomatik global.
Kekerasan di Tepi Barat semakin tidak terkendali sejak pecahnya konflik besar di Gaza pada akhir tahun lalu.
Baca Juga: Militer Israel Kian Brutal di Lebanon, Panglima IDF Cuekin Sinyal Damai Netanyahu
Bahkan tokoh-tokoh internal Israel mulai menyuarakan kegelisahan mereka terhadap perilaku brutal para pemukim di wilayah pendudukan.
Panglima militer Israel, Eyal Zamir, secara terbuka menyebut serangan-serangan tersebut sebagai tindakan yang tidak bisa diterima.
Zamir menegaskan bahwa aksi penyerangan terhadap warga sipil Palestina adalah tindakan yang “secara moral dan etis tidak dapat diterima”.
Kekerasan di Tepi Barat telah mengalami eskalasi tajam sejak Oktober 2023 seiring dengan konflik besar di Jalur Gaza.
Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serangan pemukim semakin mematikan terutama sejak keterlibatan konflik regional yang lebih luas pada awal tahun 2026.
Meskipun hukum internasional menyatakan seluruh permukiman Israel di Tepi Barat adalah ilegal, kebijakan pemerintah sayap kanan Israel justru terus mempercepat aneksasi lahan secara de facto melalui pembiaran kekerasan warga sipil terhadap penduduk Palestina.
Berita Terkait
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Merusak Tanggul dan Ikan Lokal, Pramono Instruksikan Operasi Pembersihan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta!
-
21 Jam Negosiasi AS - Iran: Persyaratan AS Ditolak, Iran Tak Berharap Deal Sekali Pertemuan
-
Tukang Bajaj Dipalak Preman di Tanah Abang, Pramono Anung: Tidak Ada Kompromi, Ambil Tindakan Tegas
-
Dua Dekade Tebar Maut di Bawah Radar, 'Ki Bedil' Maestro Senpi Ilegal Akhirnya Diciduk Bareskrim!
-
Geger Beda Data Sawit RI-Singapura: Indikasi Manipulasi Ekspor hingga 'Penyunatan' Harga Terkuak!
-
3 Persoalan Masih Jadi Sengketa Amerika Serikat - Iran di Perundingan
-
Diplomasi Nuklir Iran Memanas, Amerika Serikat Memberikan Ultimatum Mau Mengubah Poin Kesepakatan
-
Bahlil Peringatkan Kader Golkar Sulut: Jangan Ada Kubu Sana-Sini Kalau Mau Menang 2029!
-
Blokade Selat Hormuz Penghambat Utama Kesepakatan Damai Amerika Serikat dan Iran
-
Ironi Sawit RI: Indonesia Punya Kebun, Tapi Kenapa Singapura yang Meraup Cuan?