News / Internasional
Minggu, 12 April 2026 | 11:08 WIB
Fakta Mengejutkan tentang Iran (shutterstock)
Baca 10 detik
  • Iran dan Amerika Serikat memperpanjang negosiasi damai di Islamabad untuk membahas sepuluh syarat.

  • Teheran mengklaim kemenangan militer memaksa pihak Amerika Serikat menerima kerangka kerja gencatan senjata.

  • Tuntutan utama Iran meliputi pengakuan hak uranium dan penarikan pasukan asing dari Timur Tengah.

Suara.com - Ketegangan panjang antara Iran dan Amerika Serikat kini beralih ke meja perundingan formal yang berlangsung di Islamabad.

Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa dialog diplomatik dengan delegasi Amerika Serikat resmi diperpanjang selama satu hari tambahan.

Dikutip dari Sputnik, langkah ini diambil guna mengakomodasi pembahasan mendalam mengenai poin-poin krusial yang masih menjadi ganjalan kedua pihak.

Warga Iran memegang foto Ayatollah Mojtaba Khamenei. [Khamenei News]

Meskipun atmosfer pertemuan diwarnai perbedaan pandangan yang tajam, kedua negara sepakat untuk tetap berada di jalur komunikasi.

Perpanjangan waktu ini menunjukkan adanya urgensi besar bagi kedua negara untuk menghindari eskalasi militer yang lebih luas.

Delegasi tingkat tinggi dikirim langsung untuk memastikan substansi dari sepuluh tuntutan dasar dapat dibahas secara tuntas.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memimpin rombongan besar yang terdiri dari para menteri dan pejabat keamanan.

Di barisan Iran, hadir pula Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi serta Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati untuk urusan ekonomi.

Pihak Amerika Serikat mengutus Wakil Presiden J.D. Vance sebagai pemimpin delegasi dalam misi perdamaian yang sangat krusial ini.

Baca Juga: Donald Trump Murka, China Akan Hadapi Masalah Besar Jika Nekat Pasok Senjata ke Iran

Tokoh kunci seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner juga terlihat mendampingi untuk memperkuat posisi tawar administrasi Donald Trump.

Klaim Kemenangan Diplomatik Teheran

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyatakan bahwa posisi negaranya saat ini berada di atas angin.

"Negosiasi akan terus berlanjut meskipun terdapat sejumlah perbedaan," kata Mohammad Boroujerdi.

Boroujerdi menegaskan bahwa keberanian militer Iran selama empat puluh hari terakhir telah memaksa lawan menuju meja runding.

Keberhasilan menahan gempuran udara dan serangan siber dianggap sebagai modal utama dalam memaksakan agenda gencatan senjata tersebut.

Menurutnya, pihak Amerika Serikat tidak memiliki pilihan lain selain menerima kerangka kerja yang telah disusun oleh Teheran.

Iran membawa sepuluh poin persyaratan yang tidak dapat ditawar sebagai fondasi dasar dimulainya pembicaraan damai yang permanen.

“Iran berhasil memaksakan supaya Amerika menerima 10 persyaratan yang diminta. Iran menunjukkan kepada dunia bahwa AS, dengan terpaksa, menerima syarat-syarat tersebut,” kata Boroujerdi.

Poin-poin tersebut mencakup pengakuan internasional atas hak pengayaan uranium yang selama ini menjadi sengketa utama global.

Selain itu, Teheran menuntut penghapusan total sanksi ekonomi serta penarikan seluruh personel militer Amerika dari wilayah Timur Tengah.

Penghentian agresi terhadap sekutu Iran di berbagai lini, termasuk Lebanon, juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari draf tersebut.

Keteguhan Prinsip Kedaulatan Islam

Pihak Teheran memandang pencapaian diplomasi di Islamabad sebagai bentuk kemenangan moral dan fisik atas kekuatan militer asing.

“Syukur kepada Allah SWT karena pada hari ini, Republik Islam Iran meraih kemenangannya. Islam memperoleh kemenangan atas musuh-musuhnya,” ucap Dubes Iran menambahkan.

Iran mengklaim telah melumpuhkan belasan pangkalan militer lawan melalui serangan balasan yang presisi selama masa konflik terbuka.

Kemampuan pertahanan udara Iran disebut berhasil menjaga integritas wilayah dari upaya serangan yang menargetkan pimpinan tertinggi negara.

Dengan diterimanya draf sepuluh poin, Iran merasa telah berhasil menjaga marwah negara tanpa harus kehilangan kedaulatan nuklirnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, menegaskan bahwa diplomasi tetap menjadi pilihan utama namun dengan kewaspadaan penuh.

Ia menyampaikan pesan melalui media pemerintah bahwa: "Iran selalu menyambut diplomasi dan dialog,".

Namun, ia mengingatkan agar proses negosiasi di Islamabad ini tidak dijadikan taktik untuk mengumpulkan kekuatan militer baru.

"Negosiasi tidak boleh menjadi dalih untuk agresi baru," tegas Takht-Ravanchi saat memberikan keterangan kepada pers terkait pertemuan tersebut.

Kesepakatan ini diharapkan menjadi titik balik bagi stabilitas energi dan keamanan di kawasan teluk yang sedang bergejolak.

Konflik ini memuncak setelah aksi saling serang antara militer Iran dan koalisi Amerika-Israel selama lebih dari satu bulan.

Presiden Donald Trump sebelumnya telah menawarkan opsi gencatan senjata sementara selama dua minggu untuk mendinginkan suasana panas.

Pertemuan di Islamabad merupakan tindak lanjut dari eskalasi serangan yang sempat menyasar 17 pangkalan militer strategis di kawasan.

Sepuluh poin yang diajukan Iran kini menjadi kompas utama dalam menentukan apakah perdamaian jangka panjang dapat segera terwujud.

Dunia internasional kini menanti hasil akhir dari perpanjangan waktu diskusi yang dijadwalkan berakhir pada hari Minggu besok.

Load More