News / Internasional
Minggu, 12 April 2026 | 11:55 WIB
Selat Hormuz (Bartarinha)
Baca 10 detik
  • Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz.

  • Blokade Iran di jalur energi dunia memicu lonjakan harga minyak dan gas global.

  • Ketegangan militer meningkat seiring laporan pemasangan ranjau di jalur pelayaran strategis internasional.

Ketidaksepakatan ini memperburuk kekhawatiran mengenai gangguan pasokan pupuk dan energi ke wilayah Asia dalam jangka panjang.

Pihak Iran menegaskan bahwa tuntutan pihak Amerika Serikat dalam meja perundingan kali ini dianggap terlalu berlebihan.

Seorang pejabat Iran menyatakan bahwa status Selat Hormuz tidak akan berubah kecuali Iran dan AS mencapai “kerangka bersama” untuk melanjutkan negosiasi.

Tanpa adanya titik temu mengenai kedaulatan perairan, blokade diprediksi akan terus berlanjut sebagai instrumen tekanan politik.

Iran menolak untuk tunduk pada desakan sepihak yang tidak mengakomodasi kepentingan keamanan nasional mereka di kawasan tersebut.

Ia juga menyebut tuntutan berlebihan dari pihak AS telah menghambat jalannya perundingan.

Ancaman Ranjau dan Militerisasi

Situasi semakin memanas dengan laporan pengerahan kekuatan militer Angkatan Laut Amerika Serikat di dekat wilayah sengketa.

Langkah pengiriman kapal perusak untuk operasi pembersihan ranjau justru dianggap sebagai provokasi tambahan oleh pihak Teheran.

Baca Juga: Strategi Bertahan Iran Selama 40 Hari Runtuhkan Dominasi Pertahanan Udara Zionis

Ranjau yang dilaporkan dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran menimbulkan kekhawatiran bahwa diperlukan waktu untuk menjamin jalur aman bagi kapal tanker dan kapal lainnya, bahkan jika blokade Iran berakhir.

Operasi teknis untuk mengamankan jalur kapal tanker diperkirakan memakan waktu lama meskipun kesepakatan politik tercapai nantinya.

Presiden AS Donald Trump telah mendesak Iran untuk menjamin kelancaran pelayaran kapal melalui selat tersebut, menyusul kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang dicapai pekan lalu.

Ketegangan di Timur Tengah antara Israel dan kelompok pro-Iran juga turut memperkeruh suasana di meja diplomasi.

Gencatan senjata yang direncanakan menjadi landasan damai terdistorsi oleh konflik yang masih berlangsung di wilayah Lebanon.

Namun, gencatan senjata tersebut dinilai rapuh, dengan Israel masih melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran, yang menurut AS tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut.

Load More