-
Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan seluruh program nuklir termasuk untuk keperluan medis sipil.
-
Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran berisiko meruntuhkan stabilitas pertumbuhan ekonomi global.
-
Negosiasi nuklir mengalami kebuntuan akibat hilangnya kepercayaan dan perubahan syarat sepihak dari AS.
Pihak-pihak tersebut merasa memiliki posisi tawar yang kuat setelah bertahan dari gempuran selama enam minggu terakhir.
Kemampuan Iran dalam mengontrol Selat Hormuz menjadi senjata yang sangat ditakuti oleh pasar komoditas energi global.
"Mereka merasa berada di atas angin. Mereka telah menahan serangan AS dan Israel selama enam minggu," jelas laporan tersebut.
"Mereka telah mampu menahan dan mencekik Selat Hormuz, dan, menurut badan-badan termasuk PBB, berpotensi meruntuhkan ekonomi global," tegas analisis itu.
Risiko ini sebenarnya telah disadari oleh banyak aktor internasional karena dampaknya yang akan bersifat katastropik.
Namun, proses komunikasi politik kembali terhambat karena adanya perubahan persyaratan yang diminta oleh pihak Amerika Serikat.
Kebijakan Luar Negeri yang Berubah-ubah
Teheran merasa bahwa Washington tidak konsisten dalam menetapkan parameter keberhasilan negosiasi yang sedang berlangsung saat ini.
"Jadi ada realisasi akan bahaya yang ditimbulkan oleh hal ini. Namun tampaknya, menurut Iran, AS terus menggeser tiang gawang," pungkas laporan tersebut.
Baca Juga: Negosiasi Iran dan AS di Islamabad Berlanjut, Delegasi Perpanjang Waktu Perundingan
Pergeseran aturan main secara mendadak ini membuat kesepakatan nuklir sipil menjadi semakin sulit untuk dicapai.
Tekanan ekonomi melalui sanksi juga dianggap tidak efektif dalam memaksa Iran untuk menyerahkan hak teknologi mereka.
Situasi ini menciptakan kebuntuan panjang yang mempertaruhkan nasib rantai pasok kebutuhan energi penduduk di seluruh dunia.
Krisis nuklir Iran telah menjadi isu sentral dalam geopolitik Timur Tengah selama lebih dari dua dekade terakhir.
Hubungan kedua negara semakin memburuk setelah Amerika Serikat secara konsisten memberikan sanksi ekonomi yang sangat berat.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perdagangan paling vital di mana sepertiga pengiriman minyak dunia melewati kawasan tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memperingatkan bahwa gangguan pada jalur ini dapat memicu inflasi global yang tidak terkendali.
Upaya damai di Jenewa dan Oman sebelumnya diharapkan menjadi titik balik, namun serangan militer justru merusak momentum tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- 5 Rekomendasi Lipstik Anti Luntur Saat Dipakai Makan Gorengan
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Iduladha 1447 H, Kemensos Salurkan 295 Ekor Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Indonesia
-
Bukan Cuma Pagar Canggih, Gang Haji Jeni Kini Punya 'Smart Geprek' Pengubah Sampah Jadi Cuan
-
Gedung Putih Bangun Arena Baku Pukul untuk Rayakan HUT ke-250 AS dan Ulang Tahun Trump
-
Alarm Bahaya! Ratusan Siswa di 26 Provinsi Terpapar Radikalisme Lewat Medsos dan Game Online
-
Ketua MUI Soal Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN: Sah Secara Syar'i
-
DPR Murka! Skandal Riset Palsu WNI di Denmark Hancurkan Marwah Akademisi RI
-
Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan
-
Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku
-
Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi
-
Militer AS Bom Kapal Diduga Bermuatan Narkotika di Samudera Pasifik: 1 Tewas 2 Selamat