-
Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz.
-
Blokade Iran di jalur energi dunia memicu lonjakan harga minyak dan gas global.
-
Ketegangan militer meningkat seiring laporan pemasangan ranjau di jalur pelayaran strategis internasional.
Suara.com - Kebuntuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan mengancam stabilitas ekonomi dunia akibat sengketa Selat Hormuz.
Delegasi tingkat tinggi kedua negara gagal menyepakati poin-poin krusial untuk mengakhiri ketegangan yang melibatkan jalur logistik global tersebut.
Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian pasar energi mengingat posisi tawar Iran yang masih mengunci akses pelayaran internasional.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan tidak ada kesepakatan yang tercapai setelah memimpin delegasi AS dalam pembicaraan tatap muka dengan pihak Iran di Pakistan.
Pertemuan yang berlangsung di tengah rapuhnya gencatan senjata ini berakhir tanpa dokumen kerja sama formal yang ditandatangani.
Pihak Iran yang diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf tetap bersikukuh pada posisi pertahanan wilayah perairan mereka.
Ia mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya kembali ke AS tanpa membawa hasil kesepakatan.
Narasi dari Teheran menunjukkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz hanya bisa terjadi melalui kerangka negosiasi yang lebih luas.
Status quo di perairan strategis tersebut dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan ekonomi yang diberikan oleh Washington.
Baca Juga: Strategi Bertahan Iran Selama 40 Hari Runtuhkan Dominasi Pertahanan Udara Zionis
Media Iran menyebut perbedaan pandangan, termasuk terkait pembuakan kembali Selat Hormuz, yang menjadi hambatan utama dalam perundingan.
Dampak Serius Sektor Energi
Stagnasi diplomasi ini langsung berdampak pada fluktuasi harga minyak mentah dan gas alam cair di pasar internasional.
Selat Hormuz merupakan urat nadi utama bagi distribusi setidaknya 20 persen pasokan minyak mentah yang dikonsumsi dunia.
Kegagalan ini membuat klaim perdamaian pekan lalu menjadi sangat rapuh dan sulit untuk diimplementasikan secara teknis.
Pihak Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Digeruduk Yakuza Mangenes, Pengasuh Ponpes Pekalongan Ditangkap usai Diduga Cabuli 25 Santri
-
Iduladha 1447 H, Kemensos Salurkan 295 Ekor Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Indonesia
-
Bukan Cuma Pagar Canggih, Gang Haji Jeni Kini Punya 'Smart Geprek' Pengubah Sampah Jadi Cuan
-
Gedung Putih Bangun Arena Baku Pukul untuk Rayakan HUT ke-250 AS dan Ulang Tahun Trump
-
Alarm Bahaya! Ratusan Siswa di 26 Provinsi Terpapar Radikalisme Lewat Medsos dan Game Online
-
Ketua MUI Soal Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN: Sah Secara Syar'i
-
DPR Murka! Skandal Riset Palsu WNI di Denmark Hancurkan Marwah Akademisi RI
-
Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan
-
Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku
-
Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi