-
Perundingan damai 21 jam antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
-
Iran menolak syarat nuklir Amerika Serikat yang menyebabkan krisis energi global di Selat Hormuz.
-
Lebih dari 2.000 orang tewas sejak perang antara Amerika Serikat dan Iran pecah Februari.
Juru bicara kementerian menegaskan bahwa ekspektasi publik terhadap pertemuan pertama ini seharusnya tidak dipasang terlalu tinggi.
“Tentu saja, sejak awal kita tidak seharusnya berharap untuk mencapai kesepakatan dalam satu sesi. Tidak ada seorang pun yang memiliki ekspektasi seperti itu,” kata juru bicara kementerian Esmaeil Baghaei.
Iran menyatakan akan terus menjalin komunikasi dengan Pakistan serta negara-negara sahabat lainnya guna menjaga stabilitas kawasan yang sedang bergejolak.
Pemerintah Pakistan selaku tuan rumah mendesak agar kedua belah pihak tetap menghormati komitmen gencatan senjata yang telah ada.
Ishaq Dar selaku Menteri Luar Negeri Pakistan memberikan apresiasi atas kehadiran kedua delegasi di meja perundingan yang sangat berisiko.
Pakistan berharap semangat perdamaian tetap dijaga demi menghindari bencana kemanusiaan yang lebih luas di wilayah Asia Barat.
Upaya mediasi ini dianggap penting untuk menekan angka kematian warga sipil akibat serangan militer yang terus berlangsung.
“Atas nama Pakistan, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua belah pihak karena telah mengapresiasi upaya Pakistan untuk mencapai gencatan senjata dan peran mediatornya. Kami berharap kedua belah pihak terus berlanjut dengan semangat positif untuk mencapai perdamaian dan kemakmuran abadi bagi seluruh wilayah dan sekitarnya,” tutur Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar.
Kesepakatan yang gagal ini dikhawatirkan akan memicu kembali aksi saling balas di medan tempur antara pasukan kedua negara.
Baca Juga: Ini Poin Jalan Buntu Perundingan Amerika Serikat dan Iran
Konsekuensi Perang Dan Krisis Energi
Konflik bersenjata yang pecah sejak 28 Februari lalu telah merenggut nyawa lebih dari 2.000 jiwa akibat serangan udara masif.
Serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel telah menghancurkan banyak infrastruktur militer serta pemukiman penduduk di wilayah Iran.
Sebagai bentuk perlawanan, Iran melakukan aksi balasan ke wilayah Israel serta fasilitas milik Amerika Serikat di negara-negara teluk.
Dampak paling nyata dari perang ini adalah tersumbatnya jalur perdagangan minyak dunia di wilayah strategis Selat Hormuz.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global terhambat yang memicu lonjakan harga energi di berbagai belahan dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Tak Hanya Tiket Pesawat, AHY Klaim Pemerintah Jaga Tarif Angkutan Darat dan Laut dari Dampak Perang
-
Tower Provider di Kembangan Roboh Timpa 2 Kontrakan, Polisi Dalami Unsur Pidana Kelalaian Kerja!
-
Bapanas Proyeksikan 7 Komoditas Pangan Pokok Bebas Impor pada 2026, Stok Beras Capai 16 Juta Ton!
-
Doa Saja Tidak Cukup, Vatikan Minta Umat Katolik AS Bergerak Hentikan Perang Amoral Trump di Iran
-
Andrie Yunus Berjuang Pulih: Jalani 5 Kali Operasi dan Cangkok Kulit Paha Akibat Teror Air Keras!
-
Iran Ungkap Alasan Gagalnya Perundingan dengan AS di Pakistan
-
Menolak Takut! 30 Hari Tragedi Air Keras Andrie Yunus, Aktivis Tandai Lokasi Penyiraman Pakai Mural
-
Skandal Kakak-Beradik: KPK Duga Legislator Jatmiko Tahu Praktik Pemerasan Bupati Tulungagung!
-
Sentil Pemprov DKI Soal Preman Tanah Abang, Kevin Wu: Jangan Baru Gerak Kalau Sudah Viral!
-
Pakistan Mendadak Kirim Jet Tempur ke Arab Saudi, Ada Apa?