-
Perundingan Amerika Serikat dan Iran di Islamabad berakhir buntu tanpa menghasilkan kesepakatan damai.
-
Status Selat Hormuz tetap tertutup karena perbedaan pandangan pada isu keamanan maritim internasional.
-
Wakil Presiden J.D. Vance meninggalkan Pakistan tanpa membawa hasil kesepakatan diplomatik yang konkret.
Suara.com - Stabilitas ekonomi dunia terancam setelah dialog diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan resmi.
Kegagalan ini berakar pada ketidaksepahaman mendalam mengenai protokol keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur energi vital.
Dikutip dari Sputnik, ketegangan tetap tinggi karena kedua negara belum menemukan titik temu pada dua hingga tiga isu krusial yang bersifat fundamental.
Kondisi tersebut memastikan bahwa tekanan pada harga energi global tidak akan mereda dalam waktu dekat pasca pertemuan tersebut.
Absennya komitmen tertulis membuat gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan Donald Trump kini berada di ambang keruntuhan total.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi bahwa perbedaan visi menjadi penghalang utama terciptanya perdamaian.
“Kami mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu, namun pandangan kami berbeda pada dua atau tiga isu penting, dan pada akhirnya pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan,” kata Baghaei.
Hambatan paling nyata berkaitan dengan operasional Selat Hormuz yang saat ini masih berada di bawah kendali ketat Iran.
Pihak Teheran menegaskan tidak akan mengubah status quo di jalur tersebut tanpa adanya kerangka kerja sama yang baru.
Baca Juga: Breakingnews! Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Pakistan Buntu
Di sisi lain, Washington menuntut jaminan keamanan penuh bagi kapal komersial yang melintasi wilayah perairan internasional tersebut segera.
Kegagalan Diplomasi Delegasi J.D. Vance
Wakil Presiden Amerika Serikat, J.D. Vance, yang memimpin langsung delegasi negosiasi menyatakan kekecewaannya atas hasil di Pakistan.
Ia secara terbuka mengakui bahwa proses diskusi yang panjang tidak membuahkan dokumen kesepakatan yang diharapkan kedua belah pihak.
Delegasi Amerika Serikat pun memutuskan untuk segera meninggalkan Islamabad dan kembali ke Washington tanpa membawa kemajuan diplomatik signifikan.
Kegagalan ini terjadi hanya beberapa hari setelah optimisme muncul akibat pengumuman gencatan senjata sementara selama dua pekan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- 5 Rekomendasi Lipstik Anti Luntur Saat Dipakai Makan Gorengan
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Iduladha 1447 H, Kemensos Salurkan 295 Ekor Hewan Kurban ke Berbagai Wilayah Indonesia
-
Bukan Cuma Pagar Canggih, Gang Haji Jeni Kini Punya 'Smart Geprek' Pengubah Sampah Jadi Cuan
-
Gedung Putih Bangun Arena Baku Pukul untuk Rayakan HUT ke-250 AS dan Ulang Tahun Trump
-
Alarm Bahaya! Ratusan Siswa di 26 Provinsi Terpapar Radikalisme Lewat Medsos dan Game Online
-
Ketua MUI Soal Sapi Kurban Prabowo Pakai APBN: Sah Secara Syar'i
-
DPR Murka! Skandal Riset Palsu WNI di Denmark Hancurkan Marwah Akademisi RI
-
Sapi Kurban Pak Suardi 'Ngambek' Saat Mau Dipotong, Damkar DKI Sampai Turun Tangan
-
Tipu-Tipu 'Paranormal Sakti' di Duren Sawit, Motor Korban Raib Usai Ritual Paku
-
Vila dan Homestay Wajib Punya NIB Mulai 1 Agustus, yang Ilegal Bakal Dicoret dari Aplikasi
-
Militer AS Bom Kapal Diduga Bermuatan Narkotika di Samudera Pasifik: 1 Tewas 2 Selamat