- Survei YouGov dan CBS News pada 8-10 April 2026 menunjukkan 68 persen warga Amerika Serikat khawatir terhadap konflik Iran.
- Sebanyak 64 persen responden menyatakan tidak menyetujui langkah Presiden Donald Trump dalam menangani eskalasi konflik yang sedang berlangsung tersebut.
- Publik menilai pemerintah gagal menjelaskan tujuan militer secara transparan serta menolak pernyataan keras Trump terkait penghancuran peradaban Iran.
Suara.com - Kekhawatiran publik Amerika Serikat terhadap konflik dengan Iran terus meningkat. Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga kini merasa situasi semakin tidak terkendali.
Menguti ANTARA, berdasarkan hasil survei YouGov bersama CBS News yang dirilis pada Minggu (13/4/2026), sebanyak 68 persen warga AS mengaku merasa khawatir terhadap konflik yang sedang berlangsung. Tak hanya itu, 57 persen responden menyatakan merasa tertekan, sementara 54 persen lainnya mengaku marah melihat perkembangan situasi.
Penilaian publik terhadap dampak konflik juga cenderung negatif. Sekitar 59 persen responden menilai konflik dengan Iran berjalan 'agak buruk' hingga 'sangat buruk' bagi Amerika Serikat. Angka ini meningkat dibandingkan survei sebelumnya pada 22 Maret.
Di sisi lain, kepercayaan terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump dalam menangani konflik ini juga terlihat melemah. Sebanyak 62 persen responden menilai Trump tidak memiliki rencana yang jelas, sementara 66 persen menyebut pemerintah belum mampu menjelaskan tujuan militernya secara transparan.
Pernyataan keras Trump yang sempat mengancam akan menghancurkan peradaban Iran juga menuai respons negatif. Sebanyak 59 persen responden tidak menyukai pernyataan tersebut, bahkan 47 persen di antaranya menyatakan sangat tidak setuju.
Secara keseluruhan, 64 persen warga AS tidak menyetujui cara Trump menangani konflik Iran, naik dua poin dibandingkan survei sebelumnya. Penilaian terhadap kinerja Trump secara umum pun cenderung negatif, dengan 61 persen responden memberikan evaluasi buruk.
Survei ini dilakukan pada 8–10 April 2026 terhadap 2.387 orang dewasa di Amerika Serikat, dengan margin of error sekitar 2,4 persen.
Sebagai konteks, konflik antara AS dan Iran kembali memanas sejak akhir Februari lalu, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran. Serangan tersebut memicu korban jiwa dan dibalas oleh Iran melalui serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Meski kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, kekhawatiran publik menunjukkan bahwa ketegangan belum benar-benar mereda, dan potensi eskalasi masih membayangi.
Baca Juga: Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
-
Tangan Terborgol, Mulut Bungkam: Raut Wajah Bupati Sukoharjo Pakai Rompi Oranye KPK Tengah Malam
Terkini
-
Gunung Karangetang Erupsi, Lontarkan Material Bikin Langit Siau Membara
-
Tragedi Pantura Indramayu, Korban Tewas Kecelakaan Beruntun Bertambah Jadi 10 Orang
-
Pikap Warkidi Dihantam Truk di Pantura Indramayu: 3 Penumpang Tewas, Belasan Orang Luka-Luka
-
Prabowo Kritik Teori Neolib: Katanya Kakayaan Menetes ke Bawah, Kalian Percaya?
-
Ketua Umum FKDT Apresiasi Langkah Presiden Redakan Polemik Kasus Febrie Adriansyah
-
Kebakaran Maut di Pulogadung, 3 Orang Tewas Saat Tidur Lelap
-
Prabowo Kecam Pemimpin Provokator Ajak Bakar-bakar: Saya Percaya Hukum Karma
-
Amnesty Kritik Pemekaran Papua: Negara Hanya Dengar Mereka yang Setuju Saja
-
Bukan Cuma Peluru, Pengungsi Papua Terancam Putus Sekolah dan Minim Medis
-
Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua