-
Ekonomi Iran mengalami stagnasi parah akibat kerusakan infrastruktur sipil dan pemutusan akses internet nasional.
-
Harga barang pokok di Grand Bazaar melonjak 30 persen akibat terputusnya rantai pasok logistik.
-
PHK massal terjadi di berbagai sektor industri menyusul kehancuran pabrik baja dan fasilitas minyak.
Suara.com - Gencatan senjata yang saat ini berlangsung di Iran gagal memberikan stimulus ekonomi yang berarti bagi masyarakat kelas bawah.
Meskipun aktivitas perdagangan di Grand Bazaar Tehran mulai berdenyut kembali, namun daya beli masyarakat benar-benar berada di titik nadir.
Dikutip dari Al Jazeera, hancurnya infrastruktur vital akibat serangan udara membuat rantai pasok terputus dan memicu lonjakan harga barang pokok secara ekstrem.
Kelumpuhan ini bukan sekadar potret pasar yang sepi, melainkan representasi kegagalan sistemik dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Ketergantungan pada jalur logistik yang kini hancur membuat pemulihan ekonomi diprediksi memakan waktu hingga bertahun-tahun ke depan.
Para pedagang di pusat komersial ibu kota mengeluhkan kenaikan harga yang tidak masuk akal dari para pedagang grosir.
Stok barang yang ada saat ini dibanderol dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelum eskalasi perang pecah.
“Ini hampir stagnasi total,” kata seorang vendor, yang bekerja di bagian bazar yang menjual barang-barang logam, perkakas, dan barang-barang industri ringan.
“Kami menerima daftar harga baru untuk beberapa produk dari pedagang grosir hari ini, semuanya sekitar 20-30 persen lebih mahal,” tuturnya kepada Al Jazeera.
Baca Juga: Survei Terbaru: Sempat Naik Tipis, Popularitas Trump Menukik Efek Selat Hormuz Masih Ditutup
Ia juga menambahkan bahwa saat ini tidak jelas kapan, apakah, berapa banyak, atau pada harga berapa barang baru dapat diimpor di masa depan karena perang.
Pemutusan Internet Sebagai Senjata Pemusnah Ekonomi
Pemerintah Iran justru memperketat kontrol digital dengan dalih keamanan di tengah kehancuran fisik bangunan akibat bom.
Langkah ini membunuh sektor jasa dan pendidikan daring yang selama ini menjadi tumpuan hidup bagi banyak keluarga muda.
Akses informasi yang dibatasi secara total membuat pelaku usaha kecil tidak mampu menjangkau pelanggan baik lokal maupun mancanegara.
“Saya tidak mengerti bagaimana tidak ada otoritas yang berpikir bahwa internet juga merupakan infrastruktur sipil yang krusial seperti pembangkit listrik yang diancam oleh AS,” ujar seorang wanita muda di Tehran.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
Unggah Foto Bak Yesus, Trump Serang Paus Leo XIV: Dasar Pemimpin Lemah!
-
Bahlil Ikut Prabowo ke Rusia, Misi Amankan Pasokan Minyak RI di Tengah Gejolak Global
-
Tegas! PM Kanada Putus Ketergantungan kepada AS, Mark Carney: Kami Akan Berdikari
-
Donald Trump Perintahkan CENTCOM Cegat Semua Kapal di Selat Hormuz: Hancurkan Iran!
-
Amphuri Kritik Wacana War Tiket Haji: Jangan Abaikan Jemaah yang Antre Puluhan Tahun
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Survei Terbaru: Sempat Naik Tipis, Popularitas Trump Menukik Efek Selat Hormuz Masih Ditutup
-
Habiburokhman Bela Seskab Teddy soal 'Inflasi Pengamat': Ada Benarnya
-
Warga Iran Terancam Kelaparan Usai AS Blokade Pelabuhan Teheran, Bahkan Ada Dampak Buruk Lanjutan
-
Aksi Pemain Abroad Timnas Indonesia di Luar Negeri: Kevin Diks Cedera, Maarten Paes Gahar