- Donald Trump menunjuk Pete Hegseth sebagai Menteri Pertahanan Amerika Serikat untuk memimpin kebijakan militer dalam konflik Iran.
- Latar belakang Hegseth yang minim pengalaman strategis dan gaya komunikasinya yang agresif memicu kritik keras berbagai pihak.
- Pendekatan konfrontatif Hegseth dikhawatirkan mengganggu stabilitas geopolitik global serta mengabaikan pentingnya diplomasi dalam penyelesaian konflik internasional.
Suara.com - Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, di The Pentagon, Senin (13/4/2026) waktu setempat.
Pada kesempatan tersebut, keduanya menyepakati Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (Major Defense Cooperation Partnership/MDCP) antara Amerika Serikat dan Indonesia.
"Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bertemu dengan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin hari ini di The Pentagon, di mana kedua pemimpin sepakat untuk meningkatkan hubungan pertahanan bilateral Amerika Serikat–Indonesia menjadi Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama," kata Juru Bicara United States Department of Defense, Sean Parnell, dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (14/4/2026).
Terlepas dari itu, Pete Hegseth tengah menjadi sorotan setelah tampil sebagai wajah utama kebijakan militer Donald Trump dalam konflik dengan Iran.
Gaya komunikasinya yang agresif dan pernyataan bernada keras memicu kekhawatiran dari berbagai kalangan, termasuk pengamat militer dan mantan pejabat pemerintah.
Dalam sebuah pernyataan di Pentagon, Hegseth menggambarkan operasi militer dengan nada yang dianggap provokatif.
Ia bahkan menyebut serangan udara sebagai bentuk dominasi penuh, yang menurut para kritikus menunjukkan kurangnya empati dan pendekatan diplomatis dalam konflik internasional.
Dilansir dari The Guardian, Hegseth dulunya adalah pembawa acara di Fox News. Namun, kini dirinya justru memimpin salah satu institusi militer paling kuat di dunia.
Latar belakangnya tentu menjadi sorotan. Sejumlah pihak menilai pengangkatannya sebagai Menteri Pertahanan tidak lazim, bahkan berisiko, mengingat minimnya pengalaman dalam posisi strategis berskala global.
Baca Juga: Hyundai Ajak Konsumen Nonton Langsung Piala Dunia 2026 Lewat Program Test Drive
Kritik tajam datang dari berbagai pihak, termasuk organisasi advokasi veteran dan mantan pejabat Gedung Putih. Mereka menilai Hegseth terlalu mengedepankan retorika keras dibanding pendekatan strategis yang dibutuhkan dalam situasi konflik.
Selain itu, rekam jejaknya juga menuai kontroversi. Hegseth pernah terlibat dalam berbagai isu, mulai dari dugaan pelanggaran etika saat memimpin organisasi veteran hingga pernyataan kontroversial terkait kelompok tertentu.
Bahkan, pandangan ideologisnya yang dianggap dekat dengan nasionalisme religius turut menjadi perhatian serius.
Beberapa pengamat menilai bahwa gaya kepemimpinan Hegseth cenderung mencampurkan narasi militer dengan keyakinan ideologis, yang berpotensi mengubah konflik geopolitik menjadi lebih sensitif, terutama di kawasan Timur Tengah.
Tak hanya itu, pernyataan-pernyataannya yang dianggap meremehkan korban konflik juga menuai kecaman. Banyak pihak menilai seorang Menteri Pertahanan seharusnya menunjukkan empati dan kehati-hatian dalam menyampaikan sikap, terutama saat membahas korban jiwa.
Di sisi lain, pendukung Hegseth melihatnya sebagai sosok tegas yang berani mengambil keputusan keras demi kepentingan nasional. Namun, kritik tetap mengalir karena pendekatannya dinilai terlalu konfrontatif dan berpotensi memperkeruh situasi global.
Berita Terkait
-
Hyundai Ajak Konsumen Nonton Langsung Piala Dunia 2026 Lewat Program Test Drive
-
Rusia Konfirmasi Prabowo Minta Pasokan Minyak Buat RI, AS Bisa Marah?
-
Klasemen Grup A Piala AFF U-17 2026: Indonesia dan Vietnam Memimpin
-
Bertukar Cinderamata, Prabowo Subianto Beri Miniatur Candi Borobudur ke Vladimir Putin
-
FH UI Trending: Puluhan Juta Netizen Kawal Kasus, Pelaku Dugaan Pelecehan Seksual Dikecam
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
Terkini
-
Pastikan Santunan Bagi Ahli Waris PHL, BPJS Ketenagakerjaan Tegaskan Negara Hadir Lindungi Pekerja
-
Surat Kemlu Bocor: Izin 'Terbang Bebas' Militer AS Berisiko Jadikan Indonesia 'Medan Perang'
-
Trump Kritik Paus Leo XIV hingga Lecehkan Yesus, Presiden Iran: Gak Bisa Dimaafkan!
-
China Bantah Pasok Senjata untuk Iran, Fitnah Tak Berdasar
-
China Bantah Tuduhan Suplai Senjata ke Iran: Laporan Itu Dibuat-Buat!
-
Kerugian Iran Tembus Rp4.300 Triliun, Garda Revolusi Siapkan Serangan Balasan ke AS-Israel
-
Sekjen PBB: Sudah Saatnya Israel dan Lebanon Bekerja Sama
-
Dari Paris, Prabowo Kirim Ucapan Ulang Tahun ke Titiek Soeharto
-
Bayar atau Babak Belur: Mengapa Premanisme Tanah Abang Tak Pernah Benar-Benar Hilang?
-
Izin ke Amerika Serikat, Negara Tetangga Ingin Beli Lebih Banyak Minyak dari Rusia