- Mbah Kibar, perupa asal Yogyakarta, berjuang melunasi utang bank sebesar Rp556 juta demi menyelamatkan tanah warisan keluarga.
- Ia berusaha menjual 21 karya lukis profesionalnya secara mandiri tanpa meminta belas kasihan melalui bantuan tim pendamping.
- Tim pendamping menginisiasi promosi lewat media sosial agar lukisan terjual sebelum batas waktu penyitaan empat bulan berakhir.
Suara.com - Di usia 76 tahun, Suhardiyono Kibar—atau yang akrab disapa Mbah Kibar—seharusnya tengah menikmati masa senja dengan tenang. Namun, takdir memaksanya untuk kembali berpacu dengan waktu. Perupa realis asal Yogyakarta ini kini sedang berjuang menyelamatkan tanah warisan keluarganya yang terancam disita bank akibat utang ratusan juta rupiah.
Menariknya, Mbah Kibar memilih jalan ksatria. Alih-alih mengemis atau meminta donasi, ia memilih tetap berdiri tegak sebagai seniman profesional: menjual karya-karya lukisannya untuk melunasi utang tersebut.
Tanggung Jawab di Atas Kanvas
Masalah ini bermula ketika pihak keluarga meminjam uang ke bank menggunakan nama Mbah Kibar beberapa waktu lalu. Nominalnya tak main-main, mencapai sekitar Rp500 juta. Ironisnya, Mbah Kibar mengaku tidak menikmati sepeser pun dari uang tersebut. Namun, ketika pembayaran tersendat dan pihak bank mulai menagih, ia memilih pasang badan.
"Saya tidak pakai uangnya, saudara yang pakai. Saya sempat kaget, tapi daripada diramaikan nanti malah wagu (tidak pantas), ya sudah, ini saya jadikan tanggung jawab saya. Saya selesaikan," ujar Mbah Kibar dengan nada legawa, Rabu (15/4/2026).
Motivasi terbesarnya adalah sebidang tanah warisan di Banguntapan, Bantul. Baginya, tanah tersebut bukan sekadar aset, melainkan identitas dan sejarah keluarga yang tak ternilai harganya.
Profesionalisme di Tengah Kondisi Terjepit
Meski kini tinggal sendiri di sebuah rumah di wilayah Ngemplak, Sleman—setelah sebelumnya rumahnya di Banguntapan rusak parah—Mbah Kibar tetap memegang teguh prinsipnya. Ia menawarkan deretan lukisan tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno, Pangeran Diponegoro, hingga Gibran Rakabuming Raka yang dikerjakan dengan detail luar biasa.
"Saya ingin profesional menjual lukisan, tidak ingin dikasihani. Hidup saya dan anak-anak semuanya dari lukisan," tegasnya. Baginya, setiap rupiah yang dibayarkan ke bank haruslah berasal dari nilai estetika dan kerja kerasnya di atas kanvas.
Baca Juga: Belum Aman dari Degradasi, PSIM Yogyakarta Bidik Poin di Kandang Dewa United
Perjalanan ini tidaklah mudah. Kondisi kesehatan Mbah Kibar sempat menurun drastis akibat vertigo. Beruntung, ia dibantu oleh Guru Besar UGM, Prof. Ali Agus, yang memberinya tempat tinggal sementara selama dua bulan terakhir untuk fokus berkarya dan pulih.
Pahitnya Kehilangan Karya
Sebelum perjuangan ini viral, Mbah Kibar sempat mengalami kejadian pahit. Sebanyak 21 lukisannya dibawa pergi oleh oknum tak bertanggung jawab dan tidak pernah kembali. Namun, alih-alih mendendam, ia memilih fokus pada masa depan.
"Nggak apa-apa, besok kapan-kapan mesti ketemu. Saya selalu berdoa minta yang terbaik pada Tuhan. Yang penting berkarya terus," ucapnya optimistis.
Batas Waktu Empat Bulan
Atsir Mahatma Adam, perwakilan tim pendamping Mbah Kibar, menjelaskan bahwa total kewajiban ke bank saat ini telah mencapai sekitar Rp556 juta karena akumulasi bunga. Pihak bank memberikan tenggat waktu hingga Juni 2026 (empat bulan sejak Februari) untuk pelunasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas