- Pemerintah Maluku Utara melaksanakan ujian kelulusan di tenda darurat Pulau Batang Dua pascagempa bumi pada 2 April lalu.
- Gubernur Sherly Tjoanda Laos memindahkan lokasi ujian untuk menjamin keselamatan siswa akibat kerusakan bangunan dan kondisi psikologis mereka.
- Siswa SMAN 11 Ternate tetap mengikuti ujian penentu kelulusan selama dua hari di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian darurat.
Suara.com - Suasana ujian kelulusan di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, tahun ini terasa sangat berbeda. Tidak ada ruang kelas yang tenang atau bangku kayu yang berjejer rapi. Sebagai gantinya, lembar demi lembar soal ujian sumatif akhir harus dikerjakan di bawah atap tenda darurat, di tengah keterbatasan lokasi pengungsian.
Langkah ini diambil Pemerintah Provinsi Maluku Utara sebagai respons cepat untuk menyelamatkan masa depan pendidikan para siswa pascagempa bermagnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah perairan Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada 2 April lalu.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos, menegaskan bahwa meski persiapan teknis sudah dimatangkan sejak 13 April, pemindahan lokasi ujian ke tenda pengungsian adalah keputusan yang tak bisa ditawar. Faktor keamanan bangunan sekolah yang retak serta kondisi psikologis siswa menjadi pertimbangan utama.
"Hal ini dilakukan untuk menjamin keselamatan dan keamanan para siswa. Pelaksanaan ujian dalam suasana yang tidak stabil dapat memengaruhi konsentrasi mereka," ujar Sherly di Ternate, Rabu (15/4), dikutip dari ANTARA.
Bagi pemerintah, ujian ini bukan sekadar mengejar nilai di atas kertas, melainkan memastikan anak-anak di wilayah terdampak tetap memiliki hak yang sama untuk lulus meski bumi baru saja berguncang hebat di bawah kaki mereka.
Dua Hari Ujian di Bawah Tenda
Hingga hari ini, para siswa SMAN 11 Ternate telah melewati dua hari masa ujian di dalam tenda belajar sementara. Ujian sumatif akhir ini merupakan penentu kelulusan bagi siswa tingkat SMA, SMK, dan SLB yang secara serentak dijadwalkan mulai pekan ini.
Meski cuaca dan fasilitas di lokasi pengungsian jauh dari kata ideal, semangat para siswa untuk menyelesaikan masa sekolah mereka tetap menyala. Di bawah terpal tenda, mereka mencoba fokus, mengabaikan kebisingan pengungsian demi meraih secercah harapan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pemerintah daerah hingga saat ini terus melakukan koordinasi lintas sektor untuk memastikan penanganan dampak gempa tidak melupakan sektor pendidikan. Fasilitas pendidikan di Pulau Batang Dua memang menjadi salah satu yang terdampak cukup parah, namun upaya pemulihan terus diupayakan agar proses belajar-mengajar bisa kembali ke ruang kelas secepat mungkin.
Baca Juga: Gempa Bitung 7,6 Magnitudo, Rumah hingga Kantor Pemerintah Rusak
Sherly menambahkan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan di lapangan guna memastikan setiap kebutuhan dasar, termasuk alat tulis dan kenyamanan di tenda darurat, tetap terpenuhi bagi para pejuang kelulusan ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya
-
Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan
-
Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain
-
Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam
-
Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU
-
Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?
-
Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah
-
Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi
-
Terima Bos Blueray Divonis 2 Tahun Penjara, KPK Ogah Ajukan Banding