News / Nasional
Minggu, 31 Mei 2026 | 18:16 WIB
Ilustrasi - Kondisi perairan di pesisir Kota Kupang, Pulau Timor, NTT. ANTARA/Yoseph Boli Bataona
Baca 10 detik
  • BMKG memperingatkan potensi banjir rob di pesisir NTT akibat fenomena bulan purnama hingga tanggal 2 Juni 2026 mendatang.
  • Wilayah terdampak mencakup pesisir Pulau Flores-Alor, Sabu Raijua, Sumba, serta Pulau Timor-Rote karena kenaikan muka air laut drastis.
  • Banjir rob diprediksi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, sektor logistik pelabuhan, serta operasional perikanan di kawasan pesisir terdampak tersebut.

Suara.com - Fenomena fase bulan purnama yang terjadi pada penghujung Mei 2026 membawa dampak serius bagi wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur (NTT). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir pesisir atau rob yang diprediksi akan terjadi seiring meningkatnya ketinggian muka air laut secara drastis.

Kondisi ini diperkirakan akan bertahan selama beberapa hari ke depan, sehingga masyarakat yang menggantungkan hidupnya di wilayah pantai diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

"Masyarakat di wilayah terdampak diimbau waspada terhadap potensi fenomena banjir pesisir (rob) yang diprediksi terjadi hingga 2 Juni 2026 di sejumlah wilayah pesisir di NTT," kata Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang Yandri Anderudson Tungga dalam keterangan di Kupang, Minggu.

Adapun wilayah yang masuk dalam zona merah potensi banjir rob meliputi pesisir Pulau Flores-Alor, pesisir Pulau Sabu Raijua, pesisir Pulau Sumba, serta pesisir Pulau Timor-Rote. Kenaikan air laut ini merupakan dampak langsung dari gravitasi bulan yang mencapai puncaknya hari ini.

Menurut Yandri, kombinasi antara faktor astronomi dan kondisi cuaca di perairan saat ini menciptakan risiko yang nyata bagi dinamika pesisir NTT. Pantauan BMKG menunjukkan adanya sinergi antara pasang surut, kecepatan angin, dan tinggi gelombang yang memicu air laut naik ke daratan.

Lebih dari sekadar genangan air, fenomena ini mengancam roda perekonomian masyarakat, mulai dari sektor logistik pelabuhan hingga budidaya perikanan.

“Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat di kawasan pesisir dan pelabuhan, termasuk kegiatan bongkar muat barang, aktivitas di permukiman pesisir, tambak garam, perikanan darat, serta aktivitas perekonomian lainnya,” jelas Yandri.

Mengingat dampaknya yang luas terhadap berbagai aktivitas vital, BMKG meminta warga tidak mengabaikan informasi cuaca terkini. Masyarakat diharapkan dapat melakukan langkah antisipasi mandiri guna meminimalisir kerugian materiil akibat luapan air laut.

"Bagi masyarakat yang khususnya tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir terdampak agar meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi terkini dari BMKG," tambahnya.

Baca Juga: Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT

Bagi masyarakat yang membutuhkan data cuaca maritim secara real-time, BMKG telah menyediakan kanal komunikasi melalui WhatsApp di nomor 0812-1512-2192 atau melalui situs resmi maritim.ntt.bmkg.go.id agar warga dapat memantau pergerakan air laut setiap saat.

Load More