-
Bita Hemmati menjadi wanita pertama yang terancam eksekusi mati akibat protes anti-rezim Iran.
-
Tuduhan keterlibatan dengan Amerika Serikat menjadi dasar utama vonis mati bagi para aktivis.
-
Krisis ekonomi dan kematian Ali Khamenei memicu tindakan represif pemerintah Iran terhadap demonstran.
Publik khawatir proses eksekusi akan dilakukan secara rahasia tanpa memberikan kesempatan pembelaan terakhir bagi para korban.
Para terdakwa dituduh melakukan tindakan yang merusak keamanan nasional dengan bekerja sama untuk kepentingan pemerintah Amerika Serikat.
Otoritas setempat mengeklaim bahwa kelompok ini menggunakan bahan peledak dan senjata api dalam aksi mereka pada awal Januari.
Dakwaan tersebut mencakup pelemparan balok beton dan bahan pembakar dari atap gedung yang menyebabkan luka pada pasukan keamanan.
Pemerintah Iran secara spesifik menyebut tindakan mereka sebagai bentuk propaganda melawan rezim yang bertujuan meruntuhkan stabilitas negara.
Selain hukuman mati hakim juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi milik para terdakwa untuk diambil alih negara.
Dugaan Manipulasi Pengakuan Melalui Penyiksaan
Kelompok pejuang hak asasi manusia mencurigai bahwa pengakuan para terdakwa didapatkan melalui metode paksaan yang melanggar hukum.
Ada indikasi kuat bahwa penyiksaan fisik dan interogasi tanpa pendampingan hukum terjadi selama masa penahanan para pengunjuk rasa.
Baca Juga: AS Memblokade Selat Hormuz tapi Malah Kehabisan Rudal, Kini Keteteran?
Organisasi internasional mendesak Iran untuk segera membatalkan vonis ini karena kurangnya bukti konkret yang mengaitkan mereka dengan kejahatan.
Banyak pihak menilai bahwa Teheran sedang mencoba menyebarkan ketakutan kolektif agar warga tidak lagi berani turun ke jalan.
Taktik intimidasi ini dianggap sebagai upaya terakhir rezim untuk bertahan di tengah tekanan domestik dan internasional yang hebat.
Gelombang protes besar di Iran bermula pada akhir Desember 2025 yang dipicu oleh kehancuran ekonomi dan inflasi yang tidak terkendali.
Mata uang yang jatuh bebas membuat rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehingga memicu kemarahan massa di berbagai kota.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Amerika Serikat meluncurkan Operasi Epic Fury pada akhir Februari 2026 yang mengguncang stabilitas kawasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
Tragis! Gagal Salip Bus, Pemotor di Jakarta Barat Tewas Terlindas di Flyover Pesing
-
Zulhas Pastikan Stok Beras Aman hingga 2027 Meski Ada Ancaman El Nino Godzilla
-
Respons Arahan Presiden, BGN Segera Operasikan 900 SPPG untuk Jangkau Daerah Terpencil
-
Tentara Angkatan Laut Bunuh Istri Sendiri, Mayatnya Disimpan di Kulkas
-
Harga Plastik Melejit, Zulhas Dorong Transisi ke Kemasan Ramah Lingkungan
-
Iran Sebut Blokade AS di Selat Hormuz Bisa Ganggu Gencatan Senjata
-
Cari Sensasi Berujung Jeruji: 3 'Bang Jago' Tawuran di Taman Sari Diciduk, Satu Pelaku Positif Sabu!
-
Anak Joe Biden: Founding Father Pasti Malu AS Punya Presiden seperti Donald Trump
-
Pramono Anung Klarifikasi Jual Nama Halte ke Parpol: Cuma Bercanda
-
Bukan Hanya Hutan, Blue Carbon Jadi Kunci Baru Redam Krisis Iklim: Seberapa Efektif?