News / Nasional
Kamis, 16 April 2026 | 16:47 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. [Suara.com/Adiyoga]
Baca 10 detik
  • Pemprov DKI Jakarta mewaspadai ancaman ISPA dan krisis pangan akibat fenomena El Nino selama April hingga September 2026.
  • Dinkes DKI Jakarta memperingatkan suhu panas ekstrem dapat meningkatkan risiko dehidrasi, heatstroke, serta memperburuk kondisi kesehatan pasien kronis.
  • Pemerintah daerah menyiapkan langkah preventif dan mengimbau warga membatasi aktivitas luar ruangan serta menggunakan masker demi perlindungan diri.

Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan peringatan dini terkait ancaman ledakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seiring datangnya fenomena iklim El Nino.

Masa kemarau ekstrem ini diprediksi akan mengepung ibu kota mulai pertengahan April hingga September 2026 mendatang.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan dampak El Nino tahun ini akan menyasar dua sektor krusial, yakni ketahanan pangan dan kesehatan publik.

Ia menyebut ISPA menjadi risiko kesehatan paling nyata akibat penurunan kualitas udara selama kemarau panjang.

"Yang paling akan menjadi isu utama ada dua. Pertama, yang menyangkut ketersediaan pangan. Karena pasti ada beberapa yang mengalami problem. Yang kedua adalah masalah kesehatan, terutama hal yang berkaitan dengan ISPA dan sebagainya," ujar Pramono di Balai Kota, Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026).

Namun, Pramono memastikan jajarannya telah merampungkan rapat khusus untuk menyiapkan tindakan preventif guna menjinakkan potensi krisis tersebut. Pemprov DKI, kata Pramono, memilih untuk memperkuat langkah pencegahan sebelum lonjakan kasus terjadi di lapangan.

"Kemarin kebetulan kami juga sudah rapat khusus untuk itu, antisipasi untuk menghadapi El Nino. Bagi Pemerintah DKI Jakarta, kami akan menyiapkan tindakan preventif yang lebih baik daripada kejadian di lapangan," katanya.

Fenomena alam El Nino dengan kekuatan super ekstrem (Freepik)

Bahaya Efek Domino bagi Pasien Kronis

Senada dengan Gubernur, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyoroti bahaya efek domino dari cuaca panas ekstrem.

Baca Juga: Fakta Baru Kasus Begal Damkar di Gambir: 3 dari 5 Pelaku Ternyata Penjahat Kambuhan!

Menurutnya, kombinasi suhu tinggi, kekeringan, dan buruknya kualitas udara akan saling memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

"Menyebabkan kenaikan suhu yang signifikan, kekeringan, serta penurunan kualitas udara terjadi secara bersamaan dan saling memperburuk dampak terhadap kesehatan masyarakat," jelas Ani dalam keterangan tertulisnya.

Selain ISPA, sengatan panas yang melampaui ambang normal juga meningkatkan risiko dehidrasi hingga heatstroke.

Ani memperingatkan warga yang memiliki riwayat penyakit kronis untuk ekstra waspada karena cuaca ekstrem ini dapat memicu kekambuhan yang fatal.

"Suhu yang tinggi tidak hanya meningkatkan risiko heatstroke dan dehidrasi, tetapi juga memperberat penyakit kronis seperti jantung dan paru," imbuhnya.

Merespons ancaman ini, Pemprov DKI telah mengeluarkan protokol perlindungan diri bagi warga. Salah satunya, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada jam puncak paparan matahari antara pukul 11.00 hingga 15.00 WIB.

Load More