- Pemerintah Thailand merencanakan pembangunan jembatan darat senilai Rp4.000 triliun guna menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
- Proyek infrastruktur ini bertujuan menyediakan rute alternatif Selat Malaka yang mampu memangkas waktu pengiriman serta biaya logistik.
- Pembangunan direncanakan selama 15 tahun dengan target persetujuan regulasi pada 2026 untuk mengundang partisipasi investor internasional.
Suara.com - Thailand kembali mendorong proyek ambisius yang berpotensi mengubah peta perdagangan di Asia Tenggara.
Pemerintah negara tersebut berencana mempercepat pembangunan jembatan darat senilai 1 triliun baht atau setara Rp4000 triliun yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, sebagai alternatif jalur distribusi global di luar Selat Malaka.
Wakil Perdana Menteri Thailand, Phiphat Ratchakitprakarn menyebut proyek ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan di jalur strategis dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.
"Konflik di Asia Barat telah menunjukkan betapa pentingnya kontrol terhadap jalur transportasi," kata Phiphat dikutip dari bharian.com.my.
Selama ini, Selat Malaka menjadi salah satu jalur paling vital dalam perdagangan internasional, dengan sekitar 40 persen arus barang dunia melintas di kawasan tersebut.
Jalur ini juga menjadi rute utama distribusi energi dari Asia Barat ke negara-negara besar seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
Melalui proyek ini, Thailand ingin menawarkan alternatif yang lebih efisien.
Jika terealisasi, waktu pengiriman barang diperkirakan bisa dipangkas hingga empat hari, dengan potensi penghematan biaya logistik mencapai 15 persen.
"Thailand akan memiliki keunggulan besar sebagai penghubung antara Samudra Hindia dan Pasifik," kata Phiphat.
Baca Juga: Marselino Ferdinan Akhirnya Comeback dari Cedera Panjang, Main 45 Menit di AS Trencin B
Rencana pembangunan mencakup dua pelabuhan besar di sisi barat dan timur semenanjung selatan Thailand.
Kedua titik tersebut nantinya akan terhubung melalui jaringan transportasi darat berupa jalan raya dan rel kereta api, memungkinkan distribusi barang tanpa harus melewati jalur laut yang padat.
Bagi Indonesia dan negara ASEAN lainnya, proyek ini berpotensi membawa dampak strategis.
Di satu sisi, keberadaan jalur alternatif bisa mengurangi kepadatan di Selat Malaka.
Namun di sisi lain, hal ini juga dapat menggeser sebagian arus perdagangan yang selama ini melewati wilayah Indonesia.
Meski menawarkan potensi besar, proyek ini tidak lepas dari kritik. Sejumlah analis menilai besarnya nilai investasi dapat menjadi tantangan serius, terutama dalam memastikan keberlanjutan ekonomi proyek dalam jangka panjang.
Berita Terkait
-
Jembatan Cangar Ada di Mana? Sederet Tragedi di Balik Keindahan Wisata Pegunungan
-
Alarm KPAI: Anak Indonesia Kebanyakan Minum Manis, Ancaman Diabetes Bayangi Generasi 2045
-
Bukan Sekadar Cantik, Finalis Puteri Indonesia 2026 Dibekali Edukasi Keamanan Produk oleh BPOM
-
John Herdman Full Senyum, Gelandang Kreatif Incaran Kirim Sinyal Positif
-
Isi Lengkap Candaan Menkeu Purbaya soal Selat Malaka yang Bikin Malaysia dan Singapura Berang
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Alarm KPAI: Anak Indonesia Kebanyakan Minum Manis, Ancaman Diabetes Bayangi Generasi 2045
-
Kebiadaban Israel Berlanjut: Bikin Cacat Warga Palestina, Kini Halangi Prostesis Masuk Gaza
-
Tanggapi Usul KPK Soal Capres Harus Kaderisasi Partai, Ganjar: Tidak Mudah Diterapkan
-
KPK Kulik Peran SATHU di Kasus Kuota Haji, Nama Khalid Basalamah Ikut Disorot
-
Sekjen PKB Soal Usul KPK Capres-Cawapres Harus Kader Partai: Itu Menarik
-
Penelitian Ungkap 98 Persen Klaim Lingkungan Perusahaan Daging Adalah Greenwashing
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Penembakan di Mall, Polisi: 1 Tewas, 5 Luka-luka
-
Dianggap Pengkhianat Bangsa, Anak Raja Iran Reza Pahlavi Dilempari Cairan Merah
-
Gereja Berusia 2 Abad di AS Porak-poranda Diamuk Si Jago Merah, 5 Petugas Damkar Jadi Korban